SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Perusahaan Saudi Jajaki Investasi di Batam

Perusahaan Saudi Jajaki Investasi di Batam
ilustrasi

BATAM – Kunjungan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Azis Al-Saud ke Indonesia beberapa waktu lalu, berimbas positif buat Batam. Perusahaan air asal Arab Saudi, Saudi National Water Company (Sawaco) tengah menjajaki kemungkinan investasi pengelolaan air laut menjadi air baku di Batam.

“Sawaco sedang mengkaji kemungkinan-kemungkinan investasi di Batam. Kabarnya ini setelah kunjungan Raja Salman kemarin,” ujar Direktur Humas dan Promosi Badan Pengusahaan (BP) Batam, Purnomo Andiantono, Senin (27/3).

Sawaco merupakan perusahaan desalinasi air terkemuka asal Arab Saudi. Perusahaan ini punya rekam jejak yang cukup mentereng dalam pengelolaan air laut menjadi air baku.

Keberadaan perusahaan ini turut memenuhi kebutuhan air bersih bagi warga negara Arab Saudi. Pasalnya, negara yang minim sumber air tersebut memanfaatkan desalinasi air laut untuk memenuhi kebutuhan air bersih warganya. “Sekarang Arab adalah produsen desalinasi air terbesar di dunia,” jelas Andi.

Investasi Sawaco di Batam, jelas Andi, tentunya akan menjadi jawaban atas kebutuhan air bersih di Batam. Dengan sumber air terbatas, Batam butuh mencari sumber air bersih alternatif. Jika tidak, kota industri ini terancam krisis air. Saat ini saja, kebutuhan air di Batam diprediksi mencapai 3.200 liter per detik. Sementara delapan waduk yang diharapkan mencukupi kebutuhan penduduk Batam hanya bisa memenuhi sekitar 2.800 liter per detik. Ada defisit kebutuhan air Batam.

Data yang dirilis BP Batam dalam konferensi pers di Gedung Marketing BP Batam menyebutkan, kebutuhan air baku Batam pada 2017 diproyeksi 113,57 juta meter kubik. Namun ketersedaan air baku dari lima waduk yang ada hanya sekitar 104,26 juta meter kubik. Dari data tersebut terlihat ada defisit air baku sebesar 9,31 juta meter kubik.

Waduk Duriangkang mempunya kontribusi mencapai 70 persen untuk memenuhi kebutuhan air bersih bagi penduduk Batam. Sedangkan kondisi muka air waduk tersebut pada 1 November 2016 silam adalah -3,18 meter. Pada 1 Februari 2017, kondisi muka air Dam Duriangkang telah menjadi -1,85 meter dari muka Spillway Elevasi +7,5 meter. Apabila musim panas berlanjut, dikhawatirkan akan terjadi krisis air baku.

Deputi IV BP Batam, Robert Purba Sianipar mengaku belum mendapatkan kabar apapun terkait niat investasi perusahaan asal Arab Saudi tersebut. Menurutnya, jika ingin berinvestasi, lebih baik ke Bintan, karena wilayah tersebut selalu krisis air. “Nanti airnya bisa dibagi ke Batam. Namun jika berminat untuk investasi, maka merupakan kabar bagus bagi Batam,” katanya.

Sebelumnya, peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menilai Batam adalah salah satu daerah yang potensial ditawarkan kepada Arab Saudi. Namun bukan sektor industrinya, tapi sektor kelautan dan perikananlah yang harus ditawarkan.

“Sektor kelautan dan perikanan di Batam berpotensi besar, namun belum tergarap dengan optimal. Ini adalah potensi yang layak untuk ditawarkan kepada Arab Saudi,” tuturnya saat dihubungi KORAN SINDO BATAM, awal bulan lalu.

Potensi perikanan di Batam, menurut dia, sangat besar. Pertumbuhan sektor ini rata-rata berada di atas 6 persen setiap tahunnya. Lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi yang hanya 5 persen. Tapi sampai sekarang pengolahan dan ekspor sektor perikanan Batam ke negara-negara Asean masih jauh dari harapan.
“Produk olahannya kalah dengan Thailand. Padahal potensinya besar,” kata Bhima.

Peluang ini harus dimanfaatkan oleh Pemko dan Badan Pengusahaan (BP) Batam dan asosiasi pengusaha di Batam harus jeli melihat ini. Mereka bisa menggandeng investor Arab Saudi untuk mengembangkan potensi kelautan di Batam.
“Uangnya bisa dari investor Arab Saudi,” jelasnya.

Jika Batam mampu menggaet Arab Saudi untuk berinvestasi di sektor kelautan dan perikanan, maka Batam akan punya tulang punggung pertumbuhan ekonomi yang baru. “Apalagi sekarang lagi marak-maraknya relokasi industri dari batam ke tempat lain. ini harus segera disikapi,” tuturnya.

Dalam kunjungannya ke Indonesia, Raja Salman membawa para pangeran dan pengusaha terkemuka di Saudi untuk ikut berinvestasi. Saat itu, Indonesia dan Arab Saudi menyepakati kerja sama ekonomi senilai Rp93 triliun. Salah satunya berupa kesepakatan perusahaan minyak Arab Saudi, Aramco, dengan Pertamina senilai USD6 miliar atau Rp80 triliun.

Nota kesepahaman ekonomi juga diteken Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia bersama Kadin Arab Saudi. Kesepakatan itu dilakukan setelah delegasi pengusaha kedua negara bertemu dalam forum bisnis, kemarin. Di forum tersebut masing-masing delegasi dari Indonesia dan Arab Saudi dapat berinteraksi secara langsung (one on one meeting ) membicarakan potensi usaha di kedua negara. Ada empat nota kesepahaman yang ditandatangani oleh Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Roeslani dengan Vice Chairman The Council of Saudi Arabia Chambers of Commerce and Industry Showimy A Aldossari.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com