SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Pilkada Pengaruhi Peta Pilpres

  • Reporter:
  • Selasa, 26 Juni 2018 | 09:38
  • Dibaca : 140 kali
Pilkada Pengaruhi Peta Pilpres
ilustrasi

JAKARTA – Hasil pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak besok akan mempengaruhi konstelasi pemilihan presiden (pilpres) 2019 mendatang. Sejumlah parpol akan berhitung apakah berani mengusung calon presiden (capres) sendiri atau terpaksa bergabung dalam koalisi.

Khusus di Pulau Jawa, hasil pemilihan gubernur-wakil gubernur di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur akan menjadi lebih krusial karena diprediksi menjadi barometer utama kekuatan di pilpres. Kendati konfigurasi dukungan parpol ke kandidat relatif cair, besarnya suara pemilih di Jawa yang cukup besar dinilai menjadi rujukan signifikan.

Begitu vitalnya pilkada ini, sejumlah tokoh nasional baik dari kalangan politik, agama, maupun akademisi mendorong agar pesta demokrasi ini tidak diwarnai kecurangan. Mereka meminta penyelenggara pilkada, TNI, Polri, Badan Intelijen Negara (BIN) juga bersikap netral.

Pengamat pemerintahan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Hempri Suryana mengatakan hasil pilkada di Jawa, terutama di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur dapat menjadi acuan serta barometer dalam pertarungan Pilpres 2019 mendatang. Tiga daerah tersebut merupakan wilayah yang memiliki populasi penduduk paling banyak di Indonesia.

Merujuk Pilpres 2014 silam, ada 108.904.238 pemilih di Pulau Jawa. Rinciannya DKI Jakarta 7.096.168 pemilih, Banten 7.985.599 pemilih, Jawa Barat 33.045.082 pemilih, Jawa Tengah 27.385.217 pemilih, DIY 2.752.275 pemilih, dan Jawa Timur 30.639.897 pemilih. Jumlah keseluruhan pemilih di Indonesia saat itu mencapai 190.307.134. Dengan begitu, 58% pemilih diketahui ada di Pulau Jawa. “Meski belum dapat menjadi sebuah jaminan, paling tidak pertarungan di tiga daerah ini dapat menjadi arena strategis menuju Pilpres mendatang,” kata Hempri kemarin.

Pilkada kali ini juga menjadi ajang sejumlah parpol untuk memanaskan mesin politiknya. Para elite parpol baik yang duduk dalam pemerintahan atau tidak berupaya memanfaatkan posisinya untuk memenangkan para calonnya di pilkada.

Peneliti Pusat Studi Politik dan Keamanan Universitas Padjadjaran (Unpad) Muradi mengakui kemenangan pasangan calon di Pilkada Jawa Barat akan banyak memengaruhi konstelasi Pilpres 2019. Jika Pilkada Jabar dimenangkan oleh pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum yang diusung oleh NasDem, PPP, PKB atau Sudrajat-Ahmad Syaikhu yang diusung oleh PKS, PAN, dan Gerindra, maka diprediksi konstelasi politik nasional akan mengerucut ke kandidat Joko Widodo (Jokowi) melawan kandidat dari partai oposisi.

Lain lagi jika pasangan Deddy Mizwar dan Dedy Mulyadi yang diusung Demokrat dan Golkar menang, maka ada kemungkinan Demokrat akan mengusung capres sendiri. Apalagi jika kandidat Demokrat di Jawa Timur, yakni Khofifah Indar Parawansa-Emil Dardak unggul, maka akan menjadi momentum Demokrat untuk mengukur sejauh mana percaya diri mengusung capres. “Nanti yang diusung bisa siapa saja, cuma mungkin bagaimana Golkar dan Demokrat akan bergejolak di Jawa Barat, “ ujarnya.

Hal serupa diungkapkan pakar politik dan pemerintahan Asep Warlan Yusuf. Dia menilai menjelang pencoblosan 27 Juni, dua kekuatan besar yakni kubu yang propemerintah dan antipemerintah semakin mengerucut untuk membuktikan kekuatannya di Jabar.

Dilihat dari parpol pengusung, kekuatan propemerintah diwakili elemen massa pendukung pasangan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum, Tubagus Hasanudin-Anton Charliyan, dan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi. “Sementara pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu menjadi keterwakilan elemen massa yang menginginkan adanya pergantian kepemimpinan nasional,” sebut Asep.

Sejak awal, dirinya selalu mengatakan bahwa Pilgub Jabar itu rasa pilpres sebab dengan jumlah pemilih di Jabar yang sangat besar, Pilgub Jabar 2018 menjadi strategis bagi pemenangan Pilpres 2019 mendatang.

Direktur Eksekutif Lembaga Survei Independen Nusantara (LSIN) Muhammad Yasin menilai, pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) gencar mengolah isu pergantian pemimpin nasional hingga berdampak pada perilaku pemilih di Jabar. Menurut dia, isu tersebut cukup berpengaruh pada elektabilitas pasangan Asyik yang sebelumnya selalu berada di posisi papan bawah.

“Asyik berhasil menciptakan pergeseran (perilaku pemilih) yang ekstrem,” ungkap Yasin dalam pemaparan hasil surveinya di kawasan Jalan Sumatera, Kota Bandung, kemarin.

Pengamat politik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Tunjung Sulaksono berpendapat, pilkada serentak memiliki dua nilai strategis sebagai pemanasan menjelang pemilu dan pilpres. Pertama dari segi jumlah daerah, pilkada tahun ini meng-cover lebih banyak daerah. Meskipun tidak selalu akurat, hasilnya bisa menjadi gambaran atau proyeksi perolehan suara partai untuk 2019. Kedua, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Jawa Tengah adalah daerah-daerah dengan pemilih terbanyak di Indonesia. “Hasil pilkada di tiga daerah tadi, ditambah dengan hasil pilkada di daerah-daerah lain akan menjadi gambaran kinerja masing-masing mesin partai, apakah sudah berjalan efektif atau belum,” paparnya.

Dengan hasil pilkada, dia memprediksi akan menjadi bahan evaluasi penting bagi elite partai untuk menyusun strategi 2019 bagi pemenangan pemilu legislatif maupun pilpres.

Namun, pengamat politik UGM Abdul Gafar Kariem berpendapat, meskipun menjadi ajang pemanasan maka pengaruh langsung terhadap pilpres tidak ada. “Sebab logika politik lokal kita tak sepenuhnya terkoneksi dengan politik nasional,” tandasnya.

priyo setyawan/agung bakti sarasa/ suharjono/agung bakti sarasa/kiswondari

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com