SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Problem Beras dan Target Penyerapan Bulog 2018

  • Reporter:
  • Kamis, 22 Februari 2018 | 17:07
  • Dibaca : 350 kali
Problem Beras dan Target Penyerapan Bulog 2018
Khudori Pegiat Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI), Anggota Pokja Ahli Dewan Ketahanan Pangan Pusat (2010-Sekarang)

Tahun 2018 pemerintah mematok target pengadaan beras oleh Bulog se besar 2,7 juta ton. Ini hanya separuh dari target pada 2017, yakni 5,46 juta ton setara beras.

Meskipun jumlahnya kecil, penugasan pengadaan Bulog tahun ini akan sulit dilakukan karena adanya kendala yang cenderung kronis. Kendala ter – sebut, pertama, tingkat harga beli Bulog yang rendah dari har – ga pasar. Kedua , prospek pro – duk si 2018. Ketiga, perubahan drastis kebijakan beras ber sub – sidi, dari raskin/rasta menjadi bantuan pangan nontunai (BPNT). Harga pembelian peme rin – tah (HPP) untuk Bulog akan menentukan keberhasilan peng adaan beras. Jika meng guna kan patokan harga sesuai dengan Inpres Nomor 5/2015, yakni Rp 3.700/kg gabah kering panen (GKP), diperkirakan sulit untuk dapat memupuk per se – diaan beras karena sekarang saja harga pasar jauh di atasnya.

Karena itu tahun ini pe me rintah memberi keleluasaan ke pa – da Bulog fleksibilitas harga 20%, naik dari tahun lalu yang hanya 10%. Artinya Bulog bisa membeli Rp4.440/kg GKP dan beras Rp8.850/kg beras. Dengan fleksibilitas 20% pun target pengadaan beras Bu – log belum tentu tercapai. Tahun lalu Bulog hanya mampu me – nye rap 2,1 juta ton beras dari tar get 3,74 juta ton beras atau hanya 56%. Ini bukan kali per – tama Bulog gagal mencapai tar – get pengadaan beras. Tahun 2016, Bulog menyerap 2,97 juta ton beras atau 76% dari target dan pada 2015 menyerap 2,7 juta ton beras atau 82,3% dari target.

Hingga 15 Februari 2018, harga gabah masih tinggi: Rp5.415/kg GKP. Jika harga bertahan tinggi, pengadaan akan seret. Lagipula harga Rp4.440/kg GKP belum ideal buat petani. Dengan biaya pokok produksi Rp4.300/kg GKG, harga layak bagi petani adalah Rp5.600/kg GKG atau dengan keuntungan 30%. Dengan kon fi gu – rasi seperti itu se – per tinya peng – adaan beras Bulog tahun ini su lit dicapai. Kunci ke ber hasilan peng adaan beras Bulog akan banyak ditentukan oleh situasi sa at pa nen raya: Ma ret- Juni 2018 yang pang sanya men ca pai 50- 55% dari pro duk si nasional. Jika harga ga – bah cenderung ter te kan, pengadaan akan membaik.

Se balik nya, jika harga ber tahan tinggi, Bu log akan su lit memupuk pengadaan. Untuk situasi panen 2018 amat tergantung pada kondisi iklim dan kemungkinan se – rangan hama/penyakit. Ber pi – jak pada kondisi 2017, mes ki – pun tidak diakui pemerintah, serangan hama cukup meluas. Terutama wereng batang co – kelat (WBC) dan kerdil rumput. Keberadaan hama itu dite mu – kan oleh tim IPB, juga hasil dari kajian Asosiasi Bank Benih dan Teknologi Tani Indonesia (AB2TI). Jika pemerintah tetap memaksakan untuk me nai k – kan indeks pertanaman, ha – ma/penyakit berpeluang untuk meruyak.

Pola tanam padi ber – turut-turut amat kondusif bagi perkembangan hama/penyakit karena siklus tidak terputus. Kendala paling berat bagi Bulog tentu perubahan drastis kebijakan pemerintah terkait beras bersubsidi yang masuk dalam tugas pelayanan publik (public service obligation /PSO). Seperti diketahui, sejak tahun 2017 secara berangsur-angsur pemerintah mengubah penya – lur an beras sejahtera (rastra) men jadi BPNT. Jangkauan BPNT diperluas dari 1,2 juta ke – luarga penerima man faat (KPM) pada 2017 menjadi 10 juta KPM pada Agustus 2018. Pe – rubahan ini mem – buat jumlah penerima rastra berkurang drastis: dari 14,2 juta rumah tangga tinggal 5,4 juta.

Artinya sasaran penerima tinggal sepertiga saja. Sejalan dengan perubahan itu, kuota penyaluran rastra berkurang drastis, dari 2,5 juta- 3 juta ton pada 2017 hanya tinggal 960.000 ton pada Agustus 2018. Pengurangan itu membuat portofolio PSO yang ditangani Bulog cuma tinggal sepertiga. Sejalan keinginan pemerintah untuk mengubah semua bantuan jadi transfer tunai secara online , di tahuntahun berikutnya jumlah PSO itu bakal terus menyusut dan hanya menyisakan daerahdaerah 3T: tertinggal, terisolasi, dan terluar. Bahkan mulai tahun ini rastra diubah menjadi bantuan sosial rastra. Itu berarti tak lama lagi rastra hanya tinggal cerita usang. Lewat BPNT dan bantuan sosial rastra, secara teoretis ti – dak ada lagi penyaluran beras bersubsidi yang dalam setahun bisa mencapai 2,5 juta-3,4 juta ton.

Karena itu jadi tidak relevan dan tidak logis menugasi Bulog menyerap ga – bah/beras produksi petani do – mestik. Akan dikemanakan beras serapan domestik itu? Beras selain bersifat bulky juga mudah rusak. Tanpa outlet penyaluran yang jelas dan pasti, menugasi Bulog menyerap gabah/beras petani bisa dipastikan bakal membuat BUMN ini pelanpelan bangkrut. Manajemen Bulog seper ti – nya sudah “membaca” situasi ini sejak 2017. Ini bisa dilihat dari stok awal tahun 2018 yang hanya tersisa 700.000- 800.000 ton beras. Ini me ru – pakan jumlah yang amat kecil bila dibandingkan dengan stok awal selama satu dekade terakhir yang berkisar 1,3 juta- 1,5 juta ton.

Terkait dengan itu pula, Bulog diperkirakan akan mengurangi pengadaan beras dalam negeri jadi hanya 1 juta ton (2-3% dari produksi beras tahunan), merosot tajam dari kondisi sebelumnya: 6-9%. Pengurangan itu akan ber pengaruh pada stok publik dan memperkecil penyaluran publik lainnya. Bagi petani, ini adalah sinyal buruk karena har ga rentan jatuh. Bagi pemerintah, ini warning bahwa harga beras akan tidak stabil. Bagi warga miskin, mereka harus siap lebih miskin.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com