SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Proyek Janda Berhias Akan Tetap Jalan

  • Reporter:
  • Jumat, 7 Februari 2020 | 11:24
  • Dibaca : 223 kali
Proyek Janda Berhias Akan Tetap Jalan
Kondisi pulau Janda Berhias di Batam. /DOK SINDO BATAM

BATAM – Sinomart KTS Development Limited (Sinomart) menegaskan pembangunan kilang minyak di Pulau Janda Berhias, Sekupang, Batam akan tetap jalan. Investasi pembangunan kilang minyak yang menelan biaya Rp11 triliun tersebut saat ini mangkrak, karena perselisihan dengan PT Mas Capital Trust (PT MCT).

Pembangunan kilang minyak yang lokasinya hanya sepelemparan batu dengan negara tetangga Singapura itu rencananya akan dibangun oleh PT West Point Terminal (WPT), perusahaan joint venture, antara Sinomart dan PT MCT pada 2012 silam.

Sinomart menguasai 95% saham di PT West Point Terminal dan PT MCT menguasai lima% saham. Dalam menjalankan usahanya, West Point Terminal menyewa lahan seluas 75 hektare dari total 130 hektare lahan di Pulau Janda Berhias. Kawasan industri di pulau tersebut dibangun oleh PT Batam Sentralindo (PT BS) yang sejak awal berafiliasi dengan PT MCT.

Uang sewa lahan yang telah dibayarkan Sinomart ke PT BS lebih kurang sebesar Rp1 triliun untuk masa waktu 50 tahun. “Pembayaran uang sewa lahan kilang minyak di Pulau Janda Berhias klien kami bayar dimuka untuk jangka waktu 50 tahun,” kata kuasa hukum Sinomart, EL Sanogo, Kamis (6/2).

Di tengah perjalanan, antara Sinomart dan PT MCT terjadi perselisihan dan membuat pembangunan kilang minyak ini mangkrak. Bahkan Sinomart digugat secara hukum oleh pihak PT MCT.

“Sampai ke arbitrase internasional. Dan dimenangkan oleh Sinomart KTS Development Limited. Kami sedang menunggu permohonan penetapan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat,” katanya.

Meski sudah secara sah menang di arbitrase internasional, melalui sidang gugatan perkara yang diajukan PT MCT di Singapura, pihak Sinomart masih juga digugat PT MCT secara perdata. Perseteruan kedua perusahaan ini sedang bergulir di Pengadilan Negeri (PN) Batam. Dicatat dengan nomor perkara 228/Pdt.G/2019/PN Btm.

Ia menambahkan, semestinya proyek pembangunan kilang minyak itu sudah berjalan sejak 2016 lalu. Sajogo sangat prihatin dengan kondisi ini. Sebab, kata dia, peluang investasi emas di Indonesia, khususnya Batam jadi terhambat. “Kami sangat prihatin dengan kondisi ini. Padahal, niat investasi jelas. Sebagai penanaman modal asing kami hanya ingin kepastian hukum, kemudahan berinvestasi dan dukungan pemerintah,” kata Sajogo.

Salah satu bukti keseriusannya Sinomart berinvestasi di Indonesia, yakni telah membayar lunas uang sewa lahan di Pulau Janda Berhias kepada PT BS senilai kurang lebih Rp1 triliun. Dan juga terus mempersiapkan berbagai perizinan kelengkapan untuk bisa beroperasi, serta melengkapi struktur manajemen perusahaan melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Direktur PT West Point Terminal, Osman Hasyim menuturkan, rencana pembangunan kilang minyak senilai Rp11 triliun itu dapat menjadi angin segar bagi investasi Batam.

“Ini bakalan menyerap ribuan tenaga kerja lokal. Kami berharap, perusahaan ini tetap eksis sampai berhasil. Karena ini peluang emas bagi investasi kita,” katanya.

Menurut dia, investasi itu berasal dari Sinopec Kantons Holdings Limited, perusahaan asal China. Untuk kegiatan investasi di Batam, Sinopec menunjuk anak perusahaannya Sinomart KTS Development Limited. “Nilai investasi Rp11 triliun di Batam. Ini merupakan nilai terbesar investasi Sinopec Grup di luar China, dan Indonesia menjadi tujuan investasi mereka. Sekali lagi ini adalah peluang emas,” kata Osman. hendra zaimi

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com