SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Proyek Terminal 2 Dilelang Agustus

  • Reporter:
  • Jumat, 27 Juli 2018 | 09:45
  • Dibaca : 307 kali
Proyek Terminal 2 Dilelang Agustus
Bandara Hang Nadim Batam. fota Arrazy Aditya

BATAM KOTA – Badan Pengusahaan (BP) Batam berencana memplot kawasan Bandara Internasional Hang Nadim sebagai kawasan industri baru di bidang penerbangan.

Banyaknya lahan yang belum dikelola di kawasan tersebut diyakini memiliki potensi yang besar untuk dikembangkan ke depannya menjadi kawasan industri baru penompang ekonomi Batam.

Direktur Badan Usaha Bandar Udara (BUBU) Hang Nadim Suwarso mengatakan dari luas 1.762 hektare lahan untuk peruntukan bandara, saat ini baru sekitar 40 persen yang dikelola. Artinya masih banyak lahan yang belum dikelola dengan baik. Target BP Batam pengelolaan bandara tidak hanya untuk terminal tetapi juga untuk lahan.

“Banyak lahan yang masih kosong di Hang Nadim. Sehingga ini bisa kita kembangkan ke depannya,” kata Suwarso, Kamis (26/7/2018).

Suwarso menjelaskan saat ini BP Batam juga masih mencari pola kerjasama yang baik dengan investor untuk pengembangan Bandara Hang Nadim ke depannya. Kendati sudah ada sekitar 12 investor yang tertarik untuk bekerjasama, namun sifatnya masih penjajakan.

Pihaknya mengakui bawah masih ada beberapa kendala belum dimulainya kerjasama dengan investor. Di antaranya adalah banyak investor yang meminta kerjasama dalam hal pengelolaan terminal saja. Sementara dari BP Batam juga menginginkan kerjasama untuk pengelolaan lahan.

“Ini yang masih kita carikan solusi terbaiknya. Ada beberapa yang sudah lihat langsung seperti Korea, India, Jerman, Jepang dan lainnya. Tapi belum ada titik temu yang sama-sama saling menguntungkan,” katanya.

Beberapa skema yang ditawarkan perusahaan-perusahaan dari luar negeri tersebut, masih belum sesuai dengan konsep yang dimiliki BP Batam. Belum lama ini perusahaan dari Jerman, Korea dan India meminta untuk mengembangkan Hang Nadim. Ketiganya juga menawarkan skema pengelolaan Hang Nadim.

Jerman yang datang belum lama ini, menyatakan akan mengembangkan Hang Nadim. Jerman meminta pengelolaan secara penuh terminal di Bandara Internasional Hang Nadim.

“Tapi mereka menawarkan konsep pengelolaan selama 50 tahun. Itu sulit dilaksanakan, karena sesuai konsesi hanya boleh selama 20 tahun saja,” ungkap Suwarso.

Oleh sebab itu, kata Suwarso kedua belah pihak sedang mencari solusi dan jalan terbaik. Agar dapat menyatukan visi dan misi.

Konsep dari BP Batam sendiri disampaikannya ke depannya ada penyatuan antara marine laut untuk kargo dan Bandara Hang Nadim. Sehingga kerjasama itu tidak hanya untuk bandara, tetapi juga terkait pengelolaan secara umum. Baik itu untuk transportasi, kargo, logistik dan lainnya.

“Ini yang akan dikemas BP Batam untuk mencari investor tetap yang akan mengelola nantinya.

Lebih lanjut menjelaskan bahwa ada dua tahapan yang akan dilakukan pihaknya untuk peningkatan kualitas bandara. Pertama adalah revitalisasi terminal yang sudah ada saat ini, dimana kapasitas daya tampung saat sangat terbatas untuk melayani penumpang. Kemudian tahap selanjutnya adalah pembangunan terminal dua di Bandara Hang Nadim Batam.

Kepala BP Batam Lukita Dinarsyah Tuwo mengatakan pihaknya sudah melakukan pengenalan proyek ke sejumlah calon investor. Nantinya, investor yang terpilih bakal mengeluarkan investasi untuk membangun terminal baru.

Terminal 2 ditargetkan akan mendongkrak kapasitas penumpang menjadi 10 juta per tahun. Terminal baru itu rencananya akan digunakan untuk penerbangan domestik, sedangkan terminal yang sudah ada dipakai untuk penerbangan internasional.

“Kita targetkan Agustus lelang bisa dimulai. Sehingga kontrak pengelolaan dengan pemenang lelang bisa dilakukan awal 2019 mendatang,” kata Lukita.

Nantinya, investor yang terpilih bakal mengeluarkan investasi untuk membangun terminal baru. Sebagai gantinya, investor akan mendapat hak pengelolaan dalam durasi tertentu. Skema proyek ini pada prinsipnya menyerupai build, operate, and transfer atau BOT. Adapun durasi konsesi saat ini masih digodok oleh BP Batam.

Kemudian, BP Batam berencana meneken kontrak pengelolaan dengan pemenang lelang di awal 2019 sehingga investor tersebut bisa segera memulai konstruksi.

Biaya investasi untuk pembangunan terminal baru di Bandara Hang Nadim diperkirakan mencapai Rp2,7 triliun hingga Rp3 triliun. Kebutuhan terminal baru di Bandara Hang Nadim cukup mendesak karena trafik penumpang kini mencapai 6 juta per tahun atau dua kali lipat dari kapasitas.

Terminal baru ini rencananya akan digunakan untuk penerbangan domestik sedangkan terminal eksisting dipakai untuk penerbangan internasional.

Selain terminal penumpang, BP Batam juga akan membangun terminal kargo di Bandara Hang Nadim untuk menggenjot bisnis logistik. Terminal kargo itu diyakini menjadi modal penting untuk mewujudkan visi Batam sebagai pusat logistik.

Bisnis MRO

Batam saat ini menjadi salah satu wilayah favorit untuk industri perbaikan dan pemeliharaan pesawat atau MRO. Dalam jangka panjang pengembangan Banda Hang Nadim yang memiliki area seluas 1.800 hektare akan diarahkan menjadi Aeropolis.

Untuk diketahui, saat ini Grup Lion Air lewat Batam Aero Technic sudah bercokol di Hang Nadim dengan membangun fasilitas MRO. BAT berencana memperluas hanggar eksisting sampai dengan 28 hektar di atas lahan milik BP Batam.

Perluasan ini memungkinkan BAT menampung kapasitas 250 pesawat. Ekspansi di bisnis MRO juga sejalan dengan ekspansi Grup Lion Air dalam mendatangkan 650 unit pesawat jenis ATR, Boeing, ataupun Airbus untuk melayani rute domestik dan internasional. Selain Batam Aero Technic, pemain bengkel pesawat atau maintenance, repair and overhaul (MRO) di Batam bakal bertambah seiring langkah PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk membangun fasilitas itu di Bandara Hang Nadim.

MRO GMF bakal dibangun tiga tahap sesuai rencana yang dipaparkan anak usaha Garuda Indonesia itu kepada BUBU Hang Nadim. Tahap awal pembangunan memakan lahan seluas 5 hektare, lalu tahap kedua 10 hektare dan terakhir juga 10 hektare.

Alokasi lahan itu sekaligus menandai keseriusan GMF membangun MRO di Batam setelah pada 2014 justru memilih Bintan. Tapi pada 2017 rencana GMF di Bintan mundur, kemudian mengalihkan lokasi ke Batam. Pada awal 2017 GMF sudah menyiapkan nilai investasi sekitar USD41 juta atau setara Rp550 miliar.

Investasi bengkel pesawat tersebut sudah hampir dipastikan setelah BP Batam mengalokasikan lahan seluas 25 hektare sesuai kebutuhan GMF.

Rencana itu kemudian masuk tahap final, GMF memilih Batam setelah diarahkan Kementerian Perindustrian dan Kemenko Kemaritiman. Zona perdagangan bebas di kota ini dirasa cocok untuk pembangunan kawasan industri penerbangan atau aviation park.

BP Batam sebelumnya juga tengah merancang agar pelabuhan dan bandara internasional di wilayah itu dapat menjadi hub logistik dagang elektronik (e-commerce). Nantinya, Batam ditargetkan dapat melayani pasar e-commerce yang memiliki waktu tempuh 4 jam perjalanan udara, baik dalam maupun luar negeri.
ahmad rohmadi/dicky sigit rakasiwi

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com