SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Proyek Waduk Hulu Bintan Mulai Dikeruk

  • Reporter:
  • Selasa, 13 November 2018 | 09:37
  • Dibaca : 102 kali
Proyek Waduk Hulu Bintan Mulai Dikeruk
ilustrasi

BINTAN – Proyek Waduk Hulu Bintan Tahap II di Bandar Seri Bentan, Kabupaten Bintan, mulai kembali dikerjakan demi mengejar target mengalirkan air bersih pada 2020.

Proyek ini dilaksanakan Pelaksana Jaringan Pemanfaatan Air (PJPA) Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera IV. Pantauan di lokasi, sejumlah kendaraan alat berat mengeruk dan penimbunan hasil kerukan di sekitar wilayah proyek pengerjaan.

Hanya saja, pengerukan mulai berdampak pada nelayan yang menempati di wilayah hulu sungai. Air hasil kerukan kelihatan keruh dan hitam bercampur lumpur terbuang kemudian terbawa arus sungai.

Nelayan setempat, mengaku sejak pengerjaan Embung tersebut, hasil tangkapan ikan pun mengalami penurunan dari hari sebelumnya, sebelum ada proyek.

Vian, salah satu Nelayan menyampaikan aliran sungai hulu ditempatnya tercemar air dari hasil kerukan ikan, yang mengakibatkan aliran sungai keruh dan berwarna. Menurut dia, bahkan buaya-buaya sungai yang kadang muncul ke permukaan kabur akibat pencemaran di aliran sungai hulu Bintan.

Meski demikian, Vian dan nelayan lain telah mendapatkan sosialisasi dari pemerintah setempat dan pelaksana pembangunan jika pencemaran air ini hanya sementara untuk pembangunan Embung, yang harus dilaksanakan mengingat kebutuhan pasokan air bagi warga masyarakat Bintan.

“Jumat lalu kami sudah mendapatkan sosialisasi terkait permaslahan yang kami alami. Pencemaran hanya sementara, apalagi untuk membangun Embung yang lebih bermanfaat untuk memenuhi pasokan air ke warga, termasuk kami,” ujar Vian, Rabu (12/11).

Kepala SNVT PJBA BWS Sumatera IV Lukman Nusazam menyampaikan pihaknya sudah menanggapi keluhan keberadaan limbah proyek pengerukan hulu Embung Air Baku Hulu Bintan bagian II.

“Yang namanya pembangunan ya pasti ada impactnya (dampak). Tapi hanya sementara dalam tahap pembangunan saja. Itu juga sudah kami antisipasi mengurangi potensi limbah,” kata Lukman, Senin (12/11)

Ia melanjutkan, antisipasi dilakukan dengan cara membendung air hitam dampak pengerukan mengalir terlalu banyak ke hilir tangkapan nelayan. Air bercampur lumpur kerukan tersebutlah yang disebut limbah yang mengganggu area tangkapan nelayan setempat.

“Namun kotoran-kotoran yang halus tetap mengaliri juga,” kata Lukman.

Ia menambahkan, dalam waktu dekat pihaknya akan menggelar kembali mediasi bersama warga sekitar termasuk nelayan dengan bantuan dari pihak Pemda Bintan. novel m sinaga

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com