SINDOBatam

Terbaru Metro+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

PT Technip Pindah, 500 Pekerja di Batam Jadi Pengangguran

  • Reporter:
  • Kamis, 13 April 2017 | 13:06
  • Dibaca : 1054 kali
PT Technip Pindah, 500 Pekerja di Batam Jadi Pengangguran
Pencaker padati PT Bidar Timor Group. Foto Muhammad Arief.

BATUAJI – Ratusan karyawan PT Technip di jalan Brigjen Katamso, Tanjunguncang terpaksa kehilangan pekerjaan. Pasalnya perusahaan yang bergerak di bidang Subsea, Offshore dan Onshore tersebut sudah tak berproduksi sejak 30 Maret lalu.

Informasi yang dihimpun, perusahaan dikabarkan pindah ke negeri jiran Malaysia untuk melanjutkan produksi dan usaha mereka. Bahkan sejumlah alat berat serta perlengkapan usaha juga sudah tak ada lagi di dalam kawasan perusahaan.

“Kalau alat-alat milik perusahaan memang sudah tidak ada. Yang sisa paling punya subkon saja karena mereka harus selesaikan proyek yang tersisa,” kata sekuriti yang berjaga di gerbang PT Technip, Ano, Rabu (12/4).

Hengkangnya perusahaan itu berimbas terhadap sekitar 500 karyawan, karena tak lagi memiliki pekerjaan sebab Technip lebih memilih Malaysia untuk melanjutkan proyek mereka. Meski demikian semua mantan pekerja rata-rata menerima pemberhentian sesuai prosedur dari pihak perusahaan. “Tidak ada pilihan lagi, kami terpaksa harus nganggur,” kata mantan karyawan PT Technip, Cahyo.

Akibat dari pemutusan hubungan kerja (PHK) tersebut, dia belum bisa mendapatkan pekerjaan lainnya. Menurut Cahyo, saat ini di perekonomian Batam sedang buruk sehingga lapangan pekerjaan pun sulit didapat. “Susah sekarang cari kerja, sudah lamar ke sana kemari tak dapat juga,” ujarnya.

Kepala Dinas Ketenaga Kerjaan (Disnaker) Kota Batam, Rudi Sakyakirti mengaku belum tahu dengan informasi hengkangnya PT Technip ke Malaysia. Dia beralasan karena saat ini pengawasan berada di bawah Disnaker Provinsi Kepri. “Saya belum beri kabar. Nanti saya cek dulu ke bagian pengawasan,” kata Riki.

PT Bidar Diserbu Pencaker
Sulitnya mencari lapangan pekerjaan saat ini bisa dilihat dengan padatnya pencari kerja (pencaker) di setiap perusahaan yang membuka lowongan. Seperti ribuan pencaker yang memadati PT Bidar Timor Group yang bergerak di bidang Oil dan Gas, sejak kemarin.

Pantauan KORAN SINDO BATAM, ribuan pencaker padati PT Bidar TimOr Group, Tanjunguncang yang dipergunakan sebagai tempat para pelamar interview dan tes sebelum dikirim ke Jakarta Selatan menjalani pelatihan di PT Bidar Timor Group.

Informasi yang dihimpun, PT Bidar Timor Group membutuhkan ratusan pekerja bagian fitter, elektrik dan welder yang akan dipekerjakan di Johor Bahru, Sabah dan Serawak, Malaysia. “Dari pagi sudah ada ribuan pekerja padati perusahaan ini, mereka datang ganti-gantian sampai siang” kata Warsio, salah seorang pencaker.

Menurut dia, padatnya pencaker yang datang karena sudah sulitnya mencari lapangan pekerjaan di Batam. “Sekarang sudah susah apa-apa. Mau tidak mau kami harus makan dan kerja dimana saja,” ujarnya.

Adapun syarat untuk bekerja di PT Bidar timor Group, para pencaker harus memenuhi sejumlah kreteria perusahaan. Seperti berada di bawah 40 tahun. “Tadi ada beberapa pencaker yang balik kanan karena umurnya lebih dari 40,” kata Ziras, pencaker lainnya.

Meskipun bekerja di luar negeri, para pekerja akan digaji 6-10 ringgit Malaysia per jam. Bila ditukarkan ke mata uang rupiah, tidak jauh berbeda dengan gaji galangan kapal atau perusahaan industri yang ada di Batam. “Sudah tak tau lagi mau kerja dimana. Dari pada tidak kerja, kami lebih pilih kerja di sana,” katanya.

Sekuriti PT Bidar Timor Group, Dudi menuturkan, sebelumnya para pencaker harus kirim lamaran melalui email terlebih dahulu. Kemudian mereka akan dipanggil perusahaan dan akan menjalani interview serta sejumlah tes di Batam. “Di sini hanya menjadi tempat perekrutan. Dari Jakarta nanti, mereka baru dikirim bekerja ke Malaysia,” katanya.

Ricuh di Batamindo
Di Kawasan Batamindo, ribuan pencaker rela berdesak-desakan demi memasukan lamaran kerja ke PT Sumitomo di Multi Purpose Hall (MPH) Batamindo, Seibeduk. Membludaknya pencaker membuat mereka saling dorong sehingga sempat menimbulkan kericuhan.

Kericuhan tak berlangsung lama, pasalnya petugas keamanan kawasan Industri bergerak cepat mengamankan situasi. Dari informasi yang diperoleh, kericuhan terjadi karena ribuan pencaker baik pria maupun wanita itu terlalu lama menunggu giliran seleksi lamaran.

Lamaran yang masuk harus melalui seleksi di antaranya kelengkapan lamaran, tinggi badan, umur dan lain sebagainya. Satu pelamar bisa memakan waktu hingga lima menit, sehingga pelamar yang lain yang sudah antre sejak pagi geram karena sudah terlalu lama berdesak-desakan menanti giliran. “Jumlahnya ribuan. Ada yang tak sabar makanya terjadi dorong-dorongan,” kata Erna, pencaker yang dijumpai di lokasi MPH.

Akibat keributan itu, sebagian pelamar yang belum mendapat giliran memasukan berkas lamaran tak bisa memasukan lamaran mereka sebab manajemen PT Sumitomo memilih menutup penerimaan berkas lamaran. “Karena ribut itulah langsung pergi orang PT-nya. Yang belum masukan lamaran disuruh pulang karena sudah tutup,” kata Riki, pencaker lainnya.

Pencaker yang mendatangi lokasi MPH kemarin diinformasikan mencapai 2.000 orang. Sementara lowongan kerja yang ada di papan lowongan hanya satu perusahaan saja yakni PT Sumitomo. Dan informasi yang didapat PT Sumitomo hanya menerima sekitar 60 orang karyawan saja. Kriteria karyawan yang akan diterima di antaranya berusia 18-26 tahun dan masih lajang, tinggi badan minimal 160 cm untuk pria dan 153 untuk wanita.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com