SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Renovasi RTLH Jangan Asal-asalan

  • Reporter:
  • Rabu, 26 September 2018 | 10:41
  • Dibaca : 71 kali
Renovasi RTLH Jangan Asal-asalan
Wali Kota Batam Muhammad Rudi meninjau rumah yang sudah direnovasi dalam program RTLH tahun 2017 lalu di Pulau Karas, Galang. f humas pemko batam

GALANG – DPRD Kota Batam pesimistis program Rumah Tak Layak Huni (RTLH) tahun 2018 dapat selesai tepat waktu. Hingga akhir triwulan ketiga, renovasi untuk 125 rumah ini masih dalam tahap lelang. Padahal pelaksanaannya sudah harus selesai sebelum akhir tahun.

Anggota Komisi IV DPRD Kota Batam Aman mengaku pesimistis program itu dapat berjalan sesuai waktu yang telah disepakati. Menurut dia, pada triwulan kedua program tersebut sudah memasuki tahap lelang.

“Sekarang sudah tinggal tiga bulan lagi. Saya kira ini bakalan molor lagi seperti tahun sebelumnya,” ujarnya di Kantor DPRD Batam, Selasa (25/9).

Selain itu, sambungnya, pelaksanaan perbaikan rumah ini bisa dipastikan asal-asalan karena kontraktor atau pemenang diburu waktu dalam menyelesaikannya. Sehingga akan berdampak langsung terhadap kualitas bangunan yang diterima oleh masyarakat.

“Kami tak ingin program RTLH pekerjaannya asal-asalan karena waktu yang singkat,” kata Aman .

Berbeda dengan tahun lalu, di mana program RTLH bekerja sama dengan TNI melalui program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD). Tahun ini, Pemko akan memperbaiki 125 RTLH di perkotaan dan hinterland dengan anggaran Rp3,284 miliar. Adapun perinciannya, sebanyak 50 rumah di perkotaan dan 75 rumah di hinterland. Untuk satu rumah dianggarkan Rp25 juta.

“Ini selalu menjadi perhatian kami setiap tahunnya. Apalagi dalam laporan realisasi pelaksanaan yang sudah mendekati akhir tahun,” katanya.

Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsospemas) Hasyimah mengatakan, proses lelang program RTLH masih berjalan saat ini. Pihaknya tetap optimistis pengerjaan bisa selesai sebelum tahun ini dan tidak gagal lelang. “Kan lagi lelang. Masih ada tiga bulan lagi,” ujarnya.

Ia mengatakan, ada kendala di lapangan yaitu pergantian material bangunan dari kayu menjadi rangka baja ringan. Menurut dia, tidak bisa sepenuhnya diterapkan terutama mereka yang tinggal di hinterland atau pesisir. Sedangkan untuk yang di mainland semua setuju menggunakan rangka baja ringan tersebut.

“Mereka yang dipesisir tetap minta kayu,” katanya.

Untuk itu, mekanisme proses perbaikan rumah ini akan mengggunakan dua material yakni kayu dan rangka baja ringan. Ia berharap perbedaan material ini bisa mempermudah peserta lelang dalam menyediakan bahan baku dan perbaikan rumah yang tak layak bisa segera terealisasi.

“Ya mudah-mudahan bulan depan sudah bisa mulai pengerjaannya. Pokoknya tetap sebelum akhir tahun selesai,” kata Hasyimah. iwan sahputra

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com