SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Rockstar Rendah Hati dan Dicintai

  • Reporter:
  • Senin, 3 April 2017 | 10:43
  • Dibaca : 304 kali
Rockstar Rendah Hati dan Dicintai
Chris Martin

Band asal Inggris ini dicintai banyak penggemar musik di Asia. Selain karena gaya musik british-nya yang khas, juga karena kerendahan hati sang vokalis Chris Martin.

30 Maret dan 1 April kemarin, Coldplay kembali tampil di depan puluhan ribu penggemarnya di National Stadium Singapura.

Dua kali Chris Martin Cs konser di Negeri Singa, selalu mendatangkan penonton dari segala penjuru negara di Asia, termasuk Indonesia. Tidak hanya penonton, Coldplay pun ikut tersihir atas meriahnya konser yang diadakan mereka. Bahkan, sang vokalis sampai terkesima sendiri ketika menutup acara itu.

Di video yang disebarkan akun Twitter dan Instagram Coldplay, Sabtu 1 April 2017, terlihat frontman mereka, Chris Martin bersujud dan menciumi lantai panggung. Sementara itu, riuh sorakan penonton masih terdengar hingga Coldplay meninggalkan panggung. Penampilan tersebut pun ditulis oleh roadie mereka, terkenal dengan nama R42, sebagai salah satu konser terhebat Coldplay. Bahkan, saat konser akan selesai, Chris Martin pun menyempatkan berbincang dengan penontonnya.

“Kalian penggemarku yang nomor satu. Cukup sulit untuk datang ke sini (lokasi konser di Singapura) karena hujan dan kemacetan yang terjadi. Kalian luar biasa. Terima kasih sekali lagi bagi kalian yang sudah datang malam ini. Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam, dan negara-negara lainnya,” ujar Chris dilansir okezone.com.

Chris adalah wajah Coldplay. Karir Coldplay 19 tahun tidak lepas dari perjuangan Chris. Chris Martin lahir di Whitestone, Exeter, Devon, Inggris, pada 2 Maret 1977. Ia adalah anak sulung dari lima bersaudara. Ayahnya Anthony Martin seorang pensiunan akuntan, dan ibunya Alison Martin adalah seorang guru musik. Setelah lulus pendidikan gereja, Chris melanjutkan sekolahnya di Sherborne School, sebuah sekolah independen di Dorset. Di sana, ia bertemu dengan manajer Coldplay yang sekarang, Phil Harvey.

Chris melanjutkan pendidikannya di University College London. Di sinilah Chris bertemu dengan anggota Coldplay lainnya Jonny Buckland, Will Champion, dan Guy Berryman. Chris mulai bermain piano sejak kecil, dan kemudian belajar bermain gitar. Pada Januari 1998, mereka membentuk band dengan nama Starfish, yang belakang bermetamorfosa menjadi Codplay. Lagu pertama yang mereka mainkan berjudul Ode to Deodorant.

Bermodal beberapa ratus pounds, mereka menyewa Sync City Studios dan mulai menggarap demo. Demo pertama mereka diperbanyak sampai sekitar 500 keping CD dan dirilis pada Mei tahun yang sama dengan titel Safety. Tidak disangka, dari 500 keping yang diedarkan di seputar London, hanya sekitar 50 keping yang tersisa. Nama Coldplay pun mulai terdengar gaungnya. Beruntung, ada beberapa keping CD yang sudah tersebar itu jatuh ke tangan yang tepat. Siapa lagi kalau bukan petinggi-petinggi perusahaan rekaman.

Alhasil, tak sampai setahun kemudian Coldplay teken kontrak pertamanya dengan Parlophone Records. Meski sudah punya kontrak rekaman, kuartet ini tetap merasa perlu mempertinggi jam terbang mereka di atas panggung. Mereka sadar betul, kalau Coldplay band yang ke dapur rekaman tanpa pengalaman manggung. Boleh percaya boleh tidak, sekalipun sudah mantap di jalur musik, Chris Cs masih enggan berkiprah lebih jauh karena kuliah mereka belum selesai.

Cuma Guy, memilih mantap di jalur musik. Dengan beberapa pertimbangan, ia rela gagal jadi tukang insinyur demi 100% menekuni musik. Kendati hampir semua personelnya berjuang di bangku kuliah, Coldplay tetap berusaha untuk terus berproduksi. Sampai akhirnya, mereka merilis mini album lagi pada April 1999, berjudul Brothers and Sisters. Album kedua ini dirilis dalam jumlah tiga kali lipat lebih banyak dari yang pertama. Album itu pun tak kalah larisnya. bahkan ada satu single yang sempat bertengger di top 100 tangga lagu Inggris Raya.

Phil Harvey, yang menukangi manajemen Coldplay, jeli menangkap momen yang bisa melesatkan nama Coldplay. Seakan tidak mau menyia-nyiakan tren yang sudah tercipta lewat Brohers and Sisters, Phil kembali menggiring Chris dkk masuk studio rekaman, untuk memproduksi satu mini album lagi. Oktober 1999, mini album bertajuk The Blue Room itu dirilis.

Diikuti dengan sederet penampilan di berbagai festival bergengsi, jadi pembuka buat Coldplay. Jalan yang dilalui Coldplay saat itu bisa dibilang makin lapang terbentang. Tabloid musik paling bergengsi Inggris, NME bahkan sempat menyebut mereka sebagai salah satu band terlaris 1999. Momen itu membuat Chris Cs percaya diri membuat full album. Tapi ternyata, jalan menuju pembuatan sebuah album penuh tidak segampang yang dikira. Pasalnya, pihak label mereka saat itu belum terlalu yakin pada nilai jual band ini.

Akhirnya, sambil mempersiapkan materi yang bakal dimuat di album penuh itu, Chris cs memutuskan untuk sekali lagi merilis satu mini album. Kali ini, materinya adalah kompilasi dari yang pernah dirilis di Safety EP dan Brothers and Sisters, plus beberapa materi baru. Kendati masih diedarkan dalam jumlah terbatas, mini album bertitel Bigger Stronger itu terbilang sukses, dan makin memancing perhatian khalayak. Terbukti, berbarengan dengan kemunculan album ini, muncul juga kritik yang mengaatakan, kalau Coldplay mengekor Radiohead.

Tapi, kritikan dijawab dengan penjualan album yang sukses. Coldplay langsung sukses sejak merilis album perdananya, Parachutes, pada 2000. Sejak itu, mereka sudah merilis beberapa album/EP: A Rush of Blood to the Head, Live 2003, X&Y, Viva la Vida or Deatch and All His Friends, Prospekt’s March, LeftRightLeftRightLeft, Mylo Xyloto, dan Live 2012.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com