SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Rokok Batam Menyeberang ke Pinang

Rokok Batam Menyeberang ke Pinang
Foto KORAN SINDO BATAM,

BP Bintan Belum Keluarkan Kuota, Rokok Noncukai Sudah Beredar

BATAM – Rokok noncukai ilegal beredar di kawasan perdagangan bebas Batam, Tanjungpinang, dan Bintan. Kemarin misalnya, polisi mengamankan rokok-rokok noncukai dari Batam yang hendak dijual ke Pinang.

======
7.000 bungkus rokok noncukai yang diamankan Polsek Khusus Kawasan Pelabuhan (KKP) Tanjungpinang kemarin merupakan bukti nyata adanya permainan rokok noncukai di Kepri. Polsek KKP mengungkap rokok Khusus Kawasan Bebas merk H-Mind yang dibawa Mengkun alias Ahui (35) di Pelantar 2 Tanjungpinang, Jumat (24/3) sekira pukul 11.30. Rokok yang dibawa dari Batam ke Tanjungpinang itu rencananya akan diedarkan ke Pulau Tujuh, Kabupaten Anambas.

Komandan Pos Pelantar 2 KKP Tanjungpinang, Aiptu Jhon Fery Marpaung mengungkapkan, penangkapan rokok FTZ milik Ahui dilakukan saat baru tiba di gudangnya. “Tadi saya sudah intip pas mau masuk ke gudangnya. Sudah sejak lama kami incar, tapi baru hari ini (Jumat) berhasil ditangkap,” ujar Jhon di Mapolsek KKP Tanjungpinang, Pelabuhan Sri Bintan Pura.

Jhon menjelaskan, rokok FTZ ini dibawa Ahui dari Batam melalui kapal roll on-roll of (roro) Pelabuhan Tanjunguban. Dibawa dengan mobil, untuk mengelabui petugas, Ahui membungkus rokok-rokok noncukai tersebut dengan dus rokok U-Mild. Rokok yang berhasil diamankan dari Ahui terdiri dari dua dus ukuran besar dan enam dus ukuran sedang dengan jumlah 700 slop atau 7.000 bungkus.

“Dusnya pakai rokok resmi, tapi isinya rokok FTZ dibawa dari Batam melalui kapal roro,” jelasnya.

Saat ditangkap, lanjut Jhon, Ahui sempat melawan petugas. Bahkan Ahui sempat mengancam dengan menyebutkan sejumlah nama perwira TNI-Polri yang dikenalnya. Namun gertakan tersebut tak membuat nyali petugas ciut.

“Saat ditangkap tadi, dia (Ahui) bawa-bawa perwira TNI-Polri, dikiranya saya takut,” ucapnya.

Untuk proses lebih lanjut, barang bukti serta Ahui langsung diserahkam ke kantor Bea dan Cukai Tanjungpinang yang berada di sebelah kantor KKP Tanjungpinang. “Hari ini (kemarin) langsung kami serahkan ke Bea Cukai untuk proses lebih lanjut,” ucapnya.

Ahui mengakui rokok yang diamankan tersebut merupakan miliknya. “Saya malu Pak, memang rokoknya punya saya, tapi jangan dibentak-bentak lah,” ujar Ahui saat dimintai keterangan.

Kasi Penindakan dan Sarana Operasi Bea dan Cukai Tanjungpinang, Jusriadi membenarkan adanya penangkapan rokok ilegal tersebut. Pihaknya saat ini masih memintai keterangan pemilik rokok.

“Memang barusan kami terima dari KKP Tanjungpinang. Rokok H-Mind ada 700 slop dengan 7.000 bungkus, kita akan dialami dulu. Selanjutnya akan mendalami barang bukti yang digunakan,” ujar Jusriadi.

Rokok noncukai memang banyak beredar di Tanjungpinang. Padahal, rokok tersebut mestinya hanya diperuntukkan bagi warga yang tinggal di kawasan FTZ, yang hanya sebagian wilayah Tanjungpinang.

Pantauan KORAN SINDO BATAM di ibu kota Kepri itu, banyak warung-warung yang masih menjual beragam jenis rokok FTZ tersebut. Meski bukan di kawasan bebas, tetapi rokok FTZ itu sangat mudah ditemukan di wilayah Pinang.

Udin, seorang pedagang di Tanjungunggat, Kecamatan Bukit Bestari, mengaku masih menjual rokok FTZ karena tidak terkena razia oleh Bea dan Cukai. Menurutnya, rokok FTZ ini banyak disukai masyarakat, sebab harganya murah. Rokok tersebut dibelinya dari sales yang menawarkan rokok ke warung-warung.

“Memang kemarin (Kamis) ada razia rokok kawasan bebas di pasar, tapi saya tidak kena razia,” ujarnya.

Samsul (23), warga Bukit Bestari mengatakan, rokok khusus kawasan bebas sangat mudah ditemukan di Tanjungpinang. Menurut dia, warga lebih banyak memilih rokok kawasan bebas ketimbang rokok yang ada cukainya. “Teman-teman juga sudah berganti ke rokok khusus kawasan bebas, apa lagi ekonomi sulit sekarang ini, mau merokok jadi cari harga yang murah,” ujarnya.

Humas Bea dan Cukai Tanjungpinang, Riki membenarkan pihaknya telah melakukan razia di sekitar Tanjungpinang di luar kawasan FTZ. Dari tangan pedagang, banyak rokok FTZ yang ditarik saat razia.

“Kami keliling merazia warung-warung di luar kawasan FTZ. Untuk lebih jelasnya, nanti akan disampaikan,” ujarnya saat dikonfirmasi, kemarin.

Belum Ada Kuota, Rokok Sudah Dijual
Maraknya peredaran rokok noncukai di Bintan jadi masalah. Pasalnya, rokok tersebut beredar dengan menggunakan label Khusus Kawasan Bebas Bintan. Padahal Badan Pengusahaan (BP) Kawasan FTZ Bintan belum pernah mengeluarkan kuota rokok khusus kawasan FTZ Bintan tersebut untuk tahun 2017.

Wakil Ketua BP Kawasan FTZ Bintan, Saleh Umar mengimbau pihak perusahaan dan distributor rokok untuk segera menarik rokok-rokok yang beredar dengan label Khusus Kawasan Bebas Bintan tersebut.

“Pasalnya BP Kawasan FTZ Bintan sejauh ini belum menetapkan kuota rokok. Perlu ditelusuri siapa yang mencetak label itu, apakah pabrik atau siapa. Ini harus ditelusuri agar tidak menjadi persoalan, karena kami belum keluarkan kuota,” ujarnya, Jumat (24/3).

Saleh menjelaskan, terkait label dan desain rokok untuk rokok kawasan, hingga saat ini pihaknya masih melakukan kajian apakah itu diperbolehkan atau tidak sesuai peraturan tentang rokok kawasan. Sehingga rokok-rokok yang beredar saat ini dianggap ilegal.

“Itu masih wacana dan pembahasan yang sedang kita lakukan terkait pembuatan label wilayah kawasan. Label itu tidak dari kami dan tidak ada dokumen dari kami, karena kami belum keluarkan label,” ujarnya.

Saleh mengaku pihaknya sudah menyurati Bea dan Cukai Tanjungpinang serta Pemkab Bintan agar rokok dengan label Khusus Kawasan Bebas Bintan itu ditarik dari peredaran. Pihaknya juga masih menelusuri hal ini, apakah ada pelanggaran pidana atas penggunaan nama FTZ Bintan di label rokok tersebut.

“Terkait ranah hukum, dugaan kami ada perusahaan yang colong start. Kami memang sempat bahas terkait label itu dengan pembuatan code sendiri (barcode) di rokok khusus FTZ Bintan,” imbuhnya.

Sebelumnya, dari penelusuran di lapangan, ditemukan dua jenis rokok noncukai merk Fin Mild dan Jes Mild yang beredar luas di Bintan dengan label Khusus Kawasan Bebas Bintan. Munculnya kedua jenis rokok itu membuat kalangan publik bertanya-tanya dan menduga ada mafia rokok FTZ yang memiliki kaki tangan di BP Kawasan FTZ Bintan. Untuk rokok FTZ Bintan, sebagaimana kuota yangdikeluarkan pada tahun 2016, hanya menggunakan label bertuliskan Khusus Kawasan Bebas.

Lantamal IV Amankan Kapal Penyelundup Rokok
Tim Western Fleet Quick Response (WFQR) Lantamal IV mengamankan kapal KM Mega Sari pengangkut rokok ilegal pada Selasa (21/3) malam. KM Mega Sari dengan nakhoda dan anak buah kapal (ABK) sebanyak 11 orang tersebut membawa rokok ilegal dari Singapura sebanyak 430 bal dengan jumlah 430.000 ribu batang rokok. Diduga pelaku penyelundupan adalah sindikat internasional.

“Sekarang ini banyak rokok-rokok ilegal masuk Kepri melalui sindikat di Singapura,” ujar Komandan Lantamal IV Laksamana Pertama S Irawan saat ekspose di Markas Lantamal IV Tanjungpinang, Jumat (24/3) siang.

Irawan mengatakan, para pelaku berangkat dari pelabuhan Jurong Singapura dengan membawa muatan rokok, selanjutnya menuju perairan perbatasan untuk melakukan transfer muatan rokok di tengah laut. Transfer rokok dilakukan para pelaku menggunakan tiga boat ukuran lima meter untuk membawa rokoknya menuju tujuan masing-masing. Selanjutnya, muatan rokok dibawa ke pelabuhan tikus yang ada di Kepri untuk bersembunyi.

“Tujuan rokok ini telah teridentifikasi oleh Tim WFQR menuju Riau daratan, di antaranya Dumai dan Tembilahan yang dikirim melalui daerah Selat Panjang dan Kijang-Bintan,” ujar Irawan.

Dia menuturkan, rokok yang diselundupkan para pelaku adalah rokok yang tidak ada merknya di Indonesia. Rokok tersebut buatan Singapura. Saat ditangkap petugas, para pelaku tidak bisa menunjukkan surat-surat lengkap. Dari keterangan nakhoda dan ABK KM Mega Sari, mereka telah melakukan penyelundupan lebih dari 10 kali.

“Modus mereka melakukannya dengan transfer di laut. Pengakuannya dari pelaku setiap bulan menyelundupkan rokok ilegal,” ujarnya.

Irawan mengaku pihaknya telah mengetahui semua pemain-pemain pelaku penyelundupan rokok ini. Pemilik rokok ilegal ini berinisial HP yang merupakan orang Indonesia dan bekerja sama dengan sindikat Singapura. Untuk proses lebih lanjut, pihaknya akan berkoordinasi dengan Polda Kepri dan Bea Cukai.

“Sekarang banyak rokok ilegal, kita sudah tahu semua pemainnya. Prosesnya akan kita koordinasikan dengan instansi terkait,” katanya.

Dengan maraknya penyelundupan rokok ilegal ini, lanjut Irawan, sangat merugikan perekonomian negara. “Hal ini harus menjadi perhatian serius bagi para stakeholder untuk bersinergi dalam upaya pemberantasan penyelundupan,” ujarnya.

muhammad bunga ashab/novel sinaga

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com