SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Rokok FTZ Beredar Tanpa Pengawasan

Rokok FTZ Beredar Tanpa Pengawasan
Peredaraan rokok tanpa cukai. Foto Teguh Prihatna.

:: Perusahaan Rokok Rawan Jual Lebihi Kuota

BATAM – Pembukaan kembali izin jual rokok noncukai di wilayah kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas (free trade zone/FTZ) Batam bisa disalahgunakan akibat minimnya pengawasan. 30 perusahaan yang diberi izin rawan menjual melebihi kuota 400 juta batang rokok.

Pantauan KORAN SINDO BATAM, rokok-rokok noncukai yang izinnya dihentikan sejak pertengahan 2015 silam, kemarin sudah banyak menghiasi toko-toko dan minimarket di Batam. Rokok merek Super Slim, H-Mild, Up Mild, Nise, Luffman, dan lainnya bisa dengan mudah dibeli. Hargarokok dengan tulisan Khusus Kawasan Bebas itu antara Rp6-7 ribu per bungkus.

Rinawati (36), pedagang eceran di Batam Centre mengatakan sudah lama menjual rokok-rokok noncukai tersebut. Selama ini ia mengaku tidak ada masalah, karena memang ada distributor yang mengantar setiap bulannya. Namun, Rina mengatakan tidak mengetahui perusahaan mana yang memproduksinya.

“Kalau habis, mereka yang datang. Biasanya satu bulan sekali,” kata Rina saat ditemui di kiosnya, Selasa (21/3).

Ia mengaku tahu rokok tersebut hanya boleh dijual di Batam, tapi tidak mengetahui izin rokok tersebut baru dikeluarkan kembali bulan lalu. Pasalnya selama ini tidak pernah kehabisan stok rokok-rokok noncukai tersebut.

Pembeli rokok murah itu, katanya, banyak karena harganya terpaut jauh dengan rokok yang memiliki cukai. Satu bungkus selisihnya bisa mencapai lebih dari Rp10 ribu.

Faizah (41), penjual rokok di Legenda Malaka juga mengatakan rokok-rokok noncukai tersebut selama ini memang beredar bebas. Ia mengaku tidak pernah kesulitan untuk mendapatkan rokok tersebut. Bahkan tak jarang ada pedagang keliling menjual rokok Luffman dengan harga murah. Satu slop dengan isi 10 bungkus hanya dijual Rp33 ribu.

“Dia keliling biasanya, jadi dijualnya per slop bukan eceran,” katanya.

Eini (31), penjaga mini market di kawasan Green Land Batam Centre mengaku mendapatkan pasokan rokok tanpa cukai seminggu sekali. “Sales-nya datang ke sini, mereka masukkan rokok noncukai seperti Luffman dan Nise,” ujarnya.

Warga ternyata juga tak pernah susah mendapatkan rokok noncukai tersebut meski izinnya sempah dihentikan sejak dua tahun lalu. “Rokoknya murah, kalau tanggal tua cukuplah untuk menahan keinginan merokok,” ujar Eusebius Rendi, penikmat rokok noncukai.

Direktur Lalu Lintas Barang Badan Pengusahaan (BP) Batam Tri Novianto Putra enggan berkomentar saat dikonfirmasi terkait peredaran rokok noncukai tersebut. Apakah perusahaan rokok yang diberi izin BP sudah bisa menjual rokok noncukai? “Tanya Pak Andi (Direktur Humas dan Promosi) saja terkait itu. Nanti beliau yang menjelaskan,” katanya melalui sambungan telepon, tadi malam.

Direktur Humas dan Promosi BP Batam Purnomo Andi Antono mengatakan pihaknya sampai saat ini belum mendapatkan laporan terkait perusahaan yang sudah menjual rokok noncukai. Ia hanya tahu, BP sudah memberi izin sejumlah perusahaan dengan kuota 400 juta batang per enam bulan.

“Kami belum tahu apakah sudah ada yang langsung produksi atau belum,” katanya.

Peredaran rokok noncukai secara bebas pernah dikeluhkan Bea Cukai karena sudah pengawasannya. Apalagi, banyak rokok-rokok itu yang kemudian dijual ke luar kawasan FTZ. Modusnya, perusahaan pemilik izin memproduksi melebihi kuota kemudian dijual ke luar FTZ.

Sementara pengawasan distribusi di lapangan bukan tanggungjawab BP Batam Menurut Tri Novianto Putra, Bea Cukai dan Disperindag Kota Batam yang bertugas mengawasi distribusi dan mencegah kebocoran di lapangan.
“Kita hanya memberikan kuota,” tuturnya.

Belum Diberi Izin, Sudah Beredar
Di Bintan, rokok-rokok noncukai ternyata sudah banyak beredar. Padahal, Badan Pengusahaan Kawasan (BP) Bintan sama sekali belum memberi izin atau kuota pada perusahaan mana pun untuk menjualnya di sana.

Wakil Ketua BP Bintan Saleh Umur menyampaikan, pihaknya hingga saat ini masih melakukan kajian utnuk menentukan jumlah kuota rokok di wilayah FTZ Bintan.

“Yang pasti, hingga saat ini kita belum mengeluarkan kuota rokok FTZ Bintan untuk tahun 2017, karena masih kita lakukan kajian,” kata Saleh Umur, saat ditemui di kantornya, Selasa (22/3).

Saleh mengaku tidak mengetahui dari mana asal rokok tanpa cukai itu didapatkan para pedagang dan masyarakat yang berada di wilayah Bintan. “Kami tidak tau asalnya dari mana, karena kami belum mengeluarkan kuotanya,” terang Saleh.

Pantauan KORAN SINDO BATAM di berbagai lokasi di Kabupaten Bintan banyak beredar rokok noncukai yang dijual bebas di Kabupaten Bintan dan sekitarnya.

Pedagang rokok di kota Kijang, Bintan Timur mengaku mendapatkan rokok noncukai itu dari salah satu distributor rokok yang datang ke warungnya.

“Mereka keliling, dan menawarkan. Karena rokok ini peminatnya banyak, ya saya jual,” ujarnya.

muhammad arief/ahmad rohmadi/novel sinaga

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com