SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Rutin Bagikan Nasi Bungkus, Bertemu Ibunya yang Hilang 12 Tahun

  • Reporter:
  • Jumat, 2 Februari 2018 | 16:48
  • Dibaca : 293 kali
Rutin Bagikan Nasi Bungkus, Bertemu Ibunya yang Hilang 12 Tahun

Inaayah percaya sedekah memudahkan jalan hidupnya. Sedekah membuatnya memiliki banyak saudara, sedekah pula yang diyakini membawa langkahnya menemukan ibu kandung yang sudah 12 tahun terpisah, hilang tak tahu rimbanya.

ASRUL RAHMAWATI, Batam

Penampilannya bersahaja. Kendati kemana-mana mengendarai sepeda motor, dia tak kerepotan dengan gamis panjang dan hijab lebar yang dikenakannya. Wanita Tionghoa berusia 31 tahun ini juga tak peduli wajah dan punggung tangannya gosong terkena panas matahari.

“Hari ini jadwal saya jemput donasi. Meski panas tetap harus keliling,” kata Inaayah, Rabu (31/1/2018).

Pagi itu dia menyempatkan diri mampir ke rumah temannya di Tiban Indah. Selain sedekah, silaturahmi dia percayai memudahkan langkahnya. Di samping mengurus usaha katering, Inayaah banyak mengisi waktu untuk mengoordinasi kegiatan sedekah.

“Namanya sedekah nasi kotak Jumat berkah,” ujar dia.

Beberapa hari menjelang Jumat, Naay panggilan akrabnya sudah memposting ajakan untuk berdonasi lewat jejaring sosial Facebook dan broadcast di WhatsApp.

Nasi kotak itu yang hendak disedekahkan, tiap porsinya bernilai Rp15 ribu. Donatur bisa menitipkan sedekah lewat Naay dalam bentuk uang. Dia kemudian yang memasak lalu membagikan nasi kotak itu pada hari Jumat kepada para dhuafa.

“Memasaknya tak sendirian, saya panggil dhuafa, anak-anak yatim, janda dan mualaf kesusahan yang saya kenal,” kata Naay.

Setelah memasak selesai, nasi ditata dalam kotak beserta lauk pauk, sayur dan buah kemudian dimasukkan keranjang yang telah ditempel tulisan donasi Jumat untuk kaum dhuafa.

“Setiap Jumat jam 10-an sudah mulai keliling. Dulu target nasi kotaknya 100, sekarang 150, eh malah kadang donasinya terkumpul untuk 200 kotak,” imbuh dia.

Dulu ketika memulai kegiatan itu, Naay sendirian membagi-bagikan nasi kotak. Kini sudah mulai ada donaturnya yang ikut membantu. Kadang memberinya tumpangan mobil sehingga dirinya tak capek membonceng keranjang nasi di sepeda motor.

Para pemulung, orang-orang susah dan kaum marjinal yang dia temui di jalanlah yang mendapat bagian nasi kotak tersebut.

Saat Ramadan, Naay tak hanya mendistribusikan nasi kotak untuk buka puasa. Dia juga mengumpulkan donasi untuk membagikan parsel dan kado istimewa.

“Saya menjadi jembatan antara pengusaha atau orang mampu dengan para dhuafa,” kata dia.

Satu parsel nilainya Rp200 ribu. Isinya kue lebaran, sirup, susu, teh dan keperluan lainnya. Lalu dibungkus dan dihias dengan pita cantik.

Sementara untuk kado istimewa, Naay meminta donatur menyumbang dalam bentuk barang. Mulai dari jilbab, baju gamis, mukena, sarung, peci, buku iqra, alat tulis dan lain-lain. Naay yang membungkus dan membagikannya kepada dhuafa, anak-anak yatim dan panti asuhan yang membutuhkan.

Aktivitasnya bersedekah ini dimulai sejak dua tahun lalu. Naay mengaku kehidupannya sangat sulit, untuk membeli beras saja kepayahan. “Setelah perbanyak sedekah jadi luar biasa,” kata dia.

Wanita yang tinggal di Pondok Rhabayu, Batuaji ini dulu jadi kurir katering. Dari hobi memasak, Naay kemudian berinisiatif untuk menjual produk kuliner sendiri dengan menjajakannya berkeliling menggunakan sepeda motor.

“Jualan saya banyak sisa. Daripada terbuang, saya bagi-bagikan ke pemulung, dan orang-orang susah,” kata ibu tiga anak ini.

Meski dibagikan gratis, Naay merasa tak rugi. Justru setelah berkali-kali melakukan hal seperti itu, suatu hari dia dapat orderan katering. Lama-lama kateringnya dikenal orang, dia pun buka usaha katering.

Hasrat Kuat Bertemu Ibu Kandung
Inaayah lahir dengan nama Cindy Eka Ratna Sari di Purwokerto. Dia berasal dari keluarga berada. Yoga, ayahnya merupakan keturunan Tionghoa di Jawa dan Tjeng Hong, ibunya beretnis Tionghoa dari Kalimantan.

Naay pindah ke Batam saat masih duduk di bangku kelas tiga SD. Namun dia tak ingat pada tahun berapa tiba di kota industri ini. Keluarganya saat itu punya bisnis air mineral, akan tetapi tahun 2006 bisnis itu gulung tikar dan keluarganya mengalami kebangkrutan.

“Mama kemudian berinisiatif kerja ke Kalimantan Selatan. Papa pulang ke Jawa dengan membawa dua adik saya,” kisahnya.

Naay yang sudah tamat sekolah langsung bekerja. Dia tak ikut orang tuanya dan memilih mandiri di Batam. Dia kemudian menjadi mualaf kemudian menikah. Nama Cindy Eka Ratna Sari diubah menjadi Inaayah.

Dalam dua tahun belakangan ini, niat Naay mencari ibu kandungnya semakin kuat. “Tak lama setelah ke Kalimantan, mama tak ada kabar, kami kehilangan kontak. Tapi kehidupan kami di Batam juga susah, jadi tak fokus mencarinya,” kata dia.

Berbagai upaya dia lakukan demi menemukan ibunda. Naay pernah ke kantor Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Batam untuk mencari keberadaan ibunya lewat data di dinas tersebut yang terhubung ke data penduduk se-Indonesia, namun tak ketemu. Dia juga pernah mencari bantuan pihak imigrasi Batam tapi tak membuahkan hasil.

Belum lama ini, Naay diundang ke Yogyakarta untuk mengajar masak. Saat itu dia mampir ke Batu, Malang. Di sana dia sempat membantu urusan temannya dengan sedekah. Saat akan pulang dan menginap di Surabaya, ada teman yang menghubunginya.

“Dia bilang, di Facebook ini kok ada yang mirip mama saya,” ujar Naay.

Naay yang penasaran langsung mencari akun yang dimaksud. Status terakhir di akun tersebut mengatakan sedang menyewakan apartemen di Kalibata, Jakarta Selatan. Naay langsung berencana akan ke Jakarta namun masih tak tenang karena belum pasti ibunya tinggal di sana.

“Teman yang pertama kasih info itu hubungi lagi, dia berhasil menemukan nomor telepon mama setelah ubek-ubek Facebok,” kata Naay.

Betapa terkejutnya saat ditelepon, orang tersebut tak mengenali Naay. Perempuan di seberang telepon itu tak ingat apa-apa dan mengaku pernah mengalami kecelakan mobil. Ingatannya hilang, berkas-berkas dan data dirinya juga sudah berubah.

Naay menyebut nama wanita 51 tahun itu bukan Tjeng Hong lagi tapi berubah jadi Aisyah Ling karena jadi mualaf. “Seketika pecah tangis saya, rindu campur bahagia. Apalagi setelah video call dan benar itu mama, dalam hitungan jam saya langsung berangkat ke Jakarta, 18 Januari kemarin kami ketemu,” kenangnya.

Kini hubungan mereka kembali erat, meski ibundanya tetap di Jakarta namun komunikasi mereka terus berjalan. Setelah pertemuan itu, Naay semakin percaya kekuatan sedekah. Selain mengajak orang lain untuk sedekah nasi kotak tiap Jumat, Naay juga sering membantu orang mencarikan donasi.

“Tahun ini punya program dua. Sunatan massal kerja sama dengan ikatan dokter di Batam dan mau kerja sama dengan sekolah Thibun Nabawi herbal untuk cek medis dan pengobatan kaum dhuafa,” ujar Naay.

Naay mengaku tak berbadan hukum dan bukan organisasi. Semua kegiatan yang dilakukannya ini disebutnya sebagai jihad. Dia bekerja semampunya, dengan donatur yang tak tetap setiap minggunya.

“Saya hanya mualaf yang ingin mencari saudara. Kalau orang senang, belum tentu mau jadi saudara saya meski seiman, tapi kalau orang susah dan saya bantu pasti mau,” kata dia.

Informasi mengenai kegiatannya di bidang sosial membuat Naay dilirik partai politik. Namun Naay enggan menyebut nama partainya meski ada pengurus organisasi politik tersebut pernah mengajaknya bergabung.
Iming-imingnya Naay akan mudah mendapatkan donasi, partai tersebut juga akan secara berkala memberikan donasi untuknya. Namun Naay menolaknya. Dia tak ingin kegiatan tulusnya ditunggangi kepentingan politik.

Sementara itu sang suami pun mendukung aktivitasnya. Selagi tak melalaikan tugasnya sebagai ibu rumah tangga. “Yang penting anak-anak tak terbengkalai, kalau keluar saya juga selalu izin suami,” katanya.**

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com