SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Satu Jam Terbang Bersama Xpress Air ke Mutiara Utara

  • Reporter:
  • Minggu, 30 September 2018 | 22:23
  • Dibaca : 175 kali
Satu Jam Terbang Bersama Xpress Air ke Mutiara Utara
Suasana Piugus Resort, Kecamatan Palmatak, Kabupaten Kepulauan Anambas, Kamis (27/9). /chandra gunawan

Pulau Matak dikelilingi gugusan pulau bak surga dunia. Memajang pasir putih, air jernih berkilau, terumbu karang warna-warni dan jingga matahari petang. Di balik sana, Laut China Selatan membentang luas hingga Manila. Cerita dari pantai di ujung utara nusantara.

CHANDRA GUNAWAN, Batam

Lumba-lumba meloncat sendirian memecah keheningan fajar. Gemericiknya hinggap sampai ke Pulau Piugus. Matahari baru separuh mengambang di atas jari-jari daun kelapa, deru ombak berdecik pelan. Blesss, tak sampai lima detik, jesss, suara loncatan lumba-lumba tadi kembali membuat lupa udara dingin yang menyelinap masuk tulang.

Di bibir teras pondok kayu Piugus Resort, sepasang mata berbinar-binar. Dahinya mengernyit, bibirnya bersimpul, kepalanya mendongak mengamati laut. Seekor lumba-lumba seolah menyampaikan pesan selamat pagi meski gelap masih membungkus Matak subuh itu.

Sekali lagi lumba-lumba yang sama dari kejauhan menggoda dengan loncat dari dasar laut, lantas hilang bersamaan dengan sinar fajar yang mulai menampakan kejernihan laut Piugus. “Jelaaaasss
terpesona,” Leni Marliza berseru kagum.

Leni sudah menginap di Piugus Resort yang terletak di sebelah timur Pulau Matak sehari sebelumnya. Blogger wisata asal Tanjungpinang itu terbang dari Bandara Hang Nadim Batam dengan maskapai penerbangan Xpress Air pada Rabu (26/9) pukul 12.00. Leni dengan semangat 45 bergegas duduk di kursi paling depan. Hari itu, sebanyak 28 kursi terisi.

Xpress Air sudah terbang perdana dari Batam dua hari sebelumnya. Pesawatnya terbang dari Batam menuju Matak tiga kali dalam sepekan, Senin, Rabu dan Kamis. Perjalanannya cuma satu jam menuju Anambas, kabupaten paling utara di Indonesia.

Pesawatnya kecil tapi tangguh bolak-balik membelah langit Kepri sampai ke utara. Xpress Air memakai Dornier 328-100 berkapasitas 32 kursi. Getaran mesin turboprop-nya dan baling-baling terasa ketika lepas landas dan saat menembus sekumpulan awan.

Penumpang bisa duduk tenang dan tidur nyenyak ketika pesawat sampai pada ketinggian 17.000 ribu kaki. Satu jam penerbangan yang nyaman menyusuri lautan Kepri menuju ujung utara Indonesia berubah mempesona. Perhatian tertuju ke luar jendela pesawat. Inilah kemolekan Anambas yang dikelilingi gugusan pulau.

“Ada pulau bentuknya seperti penyu. Lautnya biru,” celetus Lina sembari mendongakkan kepalanya ke jendela sebelah kiri.

Satu per satu kumpulan terumbu karang dari dasar laut tampak jelas dari dalam pesawat. Deretan gugusan pulau dan panorama bawah laut yang cantik menyambut lebih dulu di langit. Langit cukup cerah ketika pesawat Xpress Air mendarat di Bandara Matak. “Hati-hati turunnya bapak ibu. Selamat datang di Matak,” sambut Baim, petugas Xpress Air.

Pulau Matak adalah salah satu pulau besar di Kabupaten Anambas. Sebelah selatan ada Tarempa di Pulau Siantan. Butuh sekitar 20 menit dari Bandara Matak ke Tarempa, ibukota Anambas. Dua kali
etape. Pertama naik kendaraan dari bandara di utara ke Pelabuhan Matak.

Dari sana menyewa kapal cepat menuju Tarempa. Satu lagi Pulau Jemaja di sebelah barat daya yang memakan waktu perjalanan empat jam dari Tarempa menggunakan kapal. “Di sini pantainya indah-indah. Pulaunya banyak,” ujar Basri, sopir mobil yang mengangkut Leni dan penumpang lain dari Bandara Matak.

Penumpang setelah keluar dari Bandara Matak menuju gerai check in Xpress Air di Desa Payalaman. Sekitar lima menit dari gerbang Bandara Matak jika menggunakan kendaraan. Bagasi juga diambil di sana. Alurnya seperti itu karena Bandara Matak adalah bandara milik perusahaan migas yakni Medco dan bagian dari Matak Base, kantor operasional aktivitas minyak dan gas di sumur Natuna.

Di balik gerai Xpress Air ada warung makan, tempat penumpang menunggu diangkut dari dan ke bandara. Bagi yang ingin menyusuri keindahan Anambas, dari sana pula gerbang perjalanan jika terbang dengan Xpress Air.

Menelusuri Pulau Matak adalah melihat laut, pulau, kebun dan hutan. Jalannya lurus kadang menanjak menyusuri pesisir pulau. Rumah penduduk berderet di pinggir pantai Pulau Matak, di tengah pulau berdiri bukit.

Menuju pulau-pulau bisa dari desa mana saja yang punya dermaga. Dari Payalaman, misalnya, bisa menuju Desa Ladan. Butuh 10 menit menggunakan mobil dari gerai Xpress Air. Dermaga Desa Ladan adalah salah satu gerbang laut menuju resor di pulau-pulau atau pulau kosong yang mengelilingi Matak.

Di Dermaga Ladan, Basri menghubungi penjaga pulau, Bondi, untuk menjemput Leni. Tujuan berikutnya adalah Pulau Piugus, pulau mungil di seberang Desa Belibak, Pulau Pangiran. Basri menunjuk Piugus ada di seberang kanan dermaga Ladan. “Tak jauh,” kata Basri meyakinkan.

Dari Ladan, Pulau Piugus tampak kecil di kejauhan. “Nah itu datang,” seru Basri menunjuk speedboat yang
mengarah ke Ladan.

Bondi, 35 tahun, dan Tendi, 23 tahun, menemani perjalanan ke Piugus Resort, salah satu resor yang banyak dikenal turis asing di Anambas. Jika Piugus Resort diketik di Google, paling atas adalah Airbnb, marketplace online travel asal Amerika Serikat.

Hanya 10 menit menuju ke Piugus Resort dari Ladan. Haluan speedboat yang dipacu Bondi mulus menembus laut yang berwarna biru toska. Perairan Pulau Matak terasa tenang dengan deru ombak memercik pelan. Di balik pulau-pulau timur dan utara, sudah bentangan Laut China Selatan (sekarang Laut Natuna Utara).

Gugusan pulau-pulau yang mengelilingi Pulau Matak seolah menjadi pagar yang melindungi penduduknya dan  aneka fauna dari keganasan ombak laut lepas.

Sepanjang mata memandang adalah laut biru dan barisan pulau. Di bawah lambung speedboat, lautnya begitu bening, terumbu karang warna-warni, ikan aneka ragam berseliweran. Di tengah laut antara Piugus dan Pulau Belibak, kawanan burung berwarna putih mencari mangsa.

“Setiap hari begini lautnya. Makin siang makin biru,” celetuk Bondi di tengah perjalanan.

Piugus Resort makin dekat berbaris dengan pulau kosong di sebelahnya. Tiba di dermaga kayu Piugus Resort disambut terumbu karang di sepanjang pantai, pasir putih, dan batu koral. Dua orang ibu-ibu menyambut kedatangan Leni dan pengunjung. Hap, hap, pengunjung melompat dari kursi speedboat ke dermaga. Kepala Leni menggeleng-geleng.

Airnya begitu jernih dari atas dermaga, kita bisa melihat karang dan ikan. Selepas berkenalan dengan Murni karyawan Piugus Resort, pengunjung duduk sebentar di kursi depan lobi sembari menikmati panorama cantik dan hembusan angin selatan yang sepoi-sepoi.

Murni dan Modi adalah koki, resepsionis sekaligus orang yang merapikan kamar resor. Sementara Bondi dan Tendi bertugas menjemput pengunjung dan menyelesaikan pekerjaan berat. “Baru tadi pagi bule Italia pulang. Turis luar suka dengan resor yang sunyi seperti di Piugus,” seru Murni.

Senja tampak bersiap dari ufuk bukit Pulau Matak. Murni mengantarkan Leni ke pondok kayu yang dari jauh tampak berada di atas laut. Mirip-mirip dengan di Maladewa. Pondok serupa kamar hotel berjejer di sepanjang jalan menuju dua pondok spesial paling ujung.

Ada enam pondok standar. Tarifnya dibanderol Rp990 ribu semalam. Lebih murah dari pondok spesial kelas deluxe di ujung yang seharga Rp1.600.000. “Di banding resor lain, di Piugus termasuk murah. Turis setelah tahu harga resor Pulau Bawah, memilih ke sini,” terang Murni.

Pantas jika dua pondok ujung lebih mahal. Menuju ke sana menapaki jembatan kayu sepanjang 10 meter, dipinggirnya lampu-lampu bulat mengiringi suara derap kaki mengentak papan kayu. Di kiri kanan lagi-lagi pemandangan biru dan hijau laut yang berkilau, ombak pelan berdesis.

Jembatan terbagi dua, satu pondok di kiri dan satu di kanan. Selepas membuka pintu masuk pondok, langsung terpampang pemandangan laut. Sinar senja jatuh di lantai kayu kamar, menembus dari pintu

dan jendela tembus pandang. Di teras, terdapat ayunan tidur. Di sudut kiri ada tangga yang menyentuh laut, makin dekat dengan dasar laut. Tangan dan kaki bisa menggayung-gayung menyapa ikan-ikan.

Pindah ke sisi lain ada teras lain yang menghadap timur. Panorama pulau kosong, hutan, pantai pasir putih dan laut. Kamar mandinya modern, dengan sedikit terbuka bagian atas menghadap langit. Tidak ada televisi di pondok.

Lupakan siaran televisi. Hempaskan badan ke kasur bersprei putih. Biarkan pintu bening pembatas teras terbuka, angin selatan menyelinap ke kulit, desis ombak menjadi musik. Nikmati istirahat sejenak sambil memandang birunya laut. Pemandangan indah,
suasana nyaman dan ketenangan yang natural adalah alasan Piugus Resort begitu disukai. Air laut sejernih cermin dan pantai sunyi mampu membuat pelancong sesaat menyingkir dari keramaian.

Gelap membungkus Matak, desis ombak terus hinggap di telinga. Sayang rasanya mengurung diri dalam pondok sementara alam menyajikan kecantikan. Di malam yang tenang, Leni, Bondi dan Tendi menunggu di dermaga sambil melihat kaki langit.

Menghabiskan waktu dengan rebahan, sebelum Murni memanggil waktunya malam malam. Tersaji ikan kuah kuning, tumis kangkung dan sotong goreng. “Ikan dan sotongnya dari laut sini,” sebut Murni.

Pukul sembilan lebih, sekeliling Pulau Matak teduh. Di Pulau Belibak, di seberang Piugus tampak lengang. Di dermaga Piugus, Bondi sibuk merakit dermaga apung sedari senja tadi. Rehat sejenak, dia bercerita tentang laut.

Hidup di pulau membuat warga menghormati laut. Dari laut mereka hidup, dari laut mereka belajar tentang kehidupan, laut membuat kekerabatan amat kuat. “Di sini yang penting kebersamaan. Misalnya setiap bulan selalu ada turnamen sepak bola atau olahraga. Warga rela jauh-jauh datang, hadiahnya tak penting,” ujar Bondi.

Bulan sudah meninggi, menambah sendu kesunyian. Sudah waktunya menikmati tidur dengan desis ombak dan sinar bulan. Pagi buta, ketika matahari belum tampak, Leni berdecak kagum menyaksikan lumba-lumba di kejauhan meloncat dari dasar laut sebanyak tiga kali. Kesempatan langka. Momen fajar dari Piugus Resort layak ditunggu. Sama halnya ketika senja. Ada kaitannya dengan logo Piugus Resort. Matahari diselipkan di logo resor ini.

Deru ombak terdengar lebih deras ketika Matak mulai terang disinari matahari dan kembali tenang memasuki siang. Kapal pembersih sampah tampak berkeliling menjaga laut seperti merawat halaman depan rumah sendiri. Dari teras Piugus, laut yang sudah selangkah begitu menggoda untuk diselami.

Alat snorkeling disediakan Piugus Resort, silakan menikmati heningnya laut dan menyelam bersama ikan. Di tengah laut, tampak burung putih mencari mangsa ikan kecil yang bergerombol melompat-lompat dari arah timur ke barat. Persis di depan teras, gerombolan ikan berkilau itu juga berkali-kali meloncat-loncat dari dalam laut.

Seusai sarapan, Mondi biasa membawa pengunjung berkeliling ke pulau-pulau yang tak kalah indah dari Piugus. Banyak pulau dengan pasir putih yang tak berpenduduk. Terdapat pantai menjorok ke dalam membentuk teluk dengan gugusan karang, Pulau Penjalin. Ada Pulau Ayam yang juga berpasir putih. Jangan lewatkan lokasi-lokasi menyelam. Di Anambas ratusan pulau serta pesona bawah airnya tidak akan habis dijelajahi dengan sekali melancong.

“Sekarang orang berlomba-lomba bikin resort di pulau-pulau sini. Piugus lebih dulu,” ujar Mondi.

Piugus Resort sendiri dibangun sejak 2015. Semua pondoknya bergaya natural kental berwarna coklat dan terbuat dari kayu. Kayu-kayu untuk bangun pondok dari Pulau Jemaja. Warga setempat menyebut kayu Balau. “Kayunya tahan air, kuat dan tahan lama,” kata Mondi.

Pulau Piugus yang mungil populer di kalangan pelancong dalam negeri dan luar negeri. Paling ramai ketika awal tahun dan biasanya memuncak pada bulan April.

Mondi sadar wisata bahari kini menjadi bagian penting Pulau Matak sehingga warganya harus menghormati laut. Termasuk juga lumba-lumba di perairan Matak yang memang benar-benar ada. Bahkan menurut warga ada ikan paus di balik timur, laut lepas.

Bagi warga setempat, lumba-lumba adalah sesuatu yang sakral. Kemunculannya terbilang jarang di Matak. Lumba-lumba di perairan sana tidak setiap hari bisa disaksikan. Dalam satu tahun hanya beberapa kali singgah di perairan Matak. Tiga kali dalam setahu kata Bondi. Tak semua yang berlibur ke Matak beruntung melihat lumba-lumba. “Lumba-lumba tidak boleh diganggu,” kata Bondi.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com