SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Saudi Keluarkan Visa Turis Tahun Depan

  • Reporter:
  • Kamis, 21 Desember 2017 | 19:42
  • Dibaca : 150 kali
Saudi Keluarkan Visa Turis Tahun Depan

RIYADH – Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman menekankan reformasi total di semua lini sehingga akan berdampak pada perubahan sosial-budaya.

Riyadh kini akan mengeluarkan kebijakan visa elektronik pada kuartal pertama 2018 mendatang. Visa elektronik itu akan di berikan ke pada seluruh warga di mana negaranya mengizinkan warganya berkunjung ke Arab Saudi. Itu sebagai serangkaian reformasi ekonomi, setelah Arab Saudi juga membuka pintu lebar bagi investor asing yang hendak masuk ke negara tersebut.

”Kita kini sedang menyiapkan regu lasi tentang siapa yang boleh men dapatkan visa dan bagaimana mendapatkannya,” kata Pangeran Sultan bin Salman, Kepala Komisi Pariwisata dan Warisan Nasional dilansir Arab News. Biaya untuk mendapatkan visa juga belum diputuskan. Namun, Pangeran Sultan menegaskan biaya visa tersebut akan semurah mungkin.

”Kita me ne kan kan dampak kumulatif ekonomi yang lebih besar dibandingkan dengan uang tunai dari visa,” ujarnya. Menurut Pangeran Sultan, Saudi memiliki banyak kekayaan dan harta karun yang melimpah. ”Tapi, hanya sedikit orang mengetahuinya dalam hal yang sempit,” kata Pangeran Sultan.

Dia menggambarkan Arab Saudi memiliki pegunungan, pan tai, dan ratusan pulau se – pan jang Laut Merah. ”Kita tidak hanya pedagang minyak,” ungkapnya. Dijelaskan Pangeran Sultan, nanti ada petunjuk dan arahan untuk pe ngembangan sektor pariwisata. ”Bagaimanapun kita tidak ingin mengorbankan dengan budaya dan nilai-nilai lokal kita,” katanya.

Dia menambahkan, Saudi me rupa kan lokasi dua masjid suci, negara Islam, dan berbagai keuntungan yang tidak bisa dilepaskan demi pariwisata. ”Wisa ta wan bisa datang untuk mendapatkan pengalaman Saudi,” kata Pangeran Sultan. ”Tapi, di sana tetap ada keterbatas an, seperti di negara lain. Kita tidak ingin pariwisata datang dengan segala harga,” katanya.

Hingga hari ini seluruh penduduk kecuali dari anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), sepertiUniEmirat Arab, Bahrain, Kuwait, dan Oman, membutuhkan visa untuk berkunjung keArab Saudi. Arab Saudi merupakan tempat suci bagi jutaan Muslim yang melaksanakan ibadah haji dan umrah dengan visa khusus. Namun, wisata wan lain akan menghadapi banyak kesulitan untuk berkunjung ke Arab Saudi.

Saat ini Kerajaan Arab Saudi hanya mengeluarkan visa untuk pekerja, pebisnis, dan umat Muslim yang ingin mengunjungi tempat-tempat suci. Untuk visa bisnis, keluarga, atau transit di Arab Saudi memang relatif mudah di dapatkan. Kalau visa turis hanya dikeluarkan biro wisata yang ditunjuk dan prosesnya memakan waktu berbulan-bulan.

Biaya visa Arab Saudi juga dikenal mahal dan sulit mendapatkannya. Pada 2013 lalu, Riyadh mengumumkan akan mengeluarkan visa turis untuk pertama kalinya dalam sejarah demi me narik kunjungan wisatawan. Tapi, program tersebut ber ulang kali ditunda.

Pasalnya, Arab Saudi sedang menyiapkan infrastruktur dan menyiap kan warganya ramah dalam menyambut wisatawan. Sebelumnya pada 2016, pendahulu Mohammed bin Salman, Mohammad bin Nayef, pernah berencana mengeluarkan visa turis. Dengan mengusung proyek ”Visi 2030”, Mohammed bin Salman ingin mengubah ke hidupan warga Arab Saudi agar lebih atraktif bagi wisatawan dan investor asing.

Visi negara Arab Saudi kini bertujuan menuju masyarakat modern. Dalam bidang sosial, Mohammed juga pernah menyatakan keinginan Saudi kembali ke Islam moderat. Itu pun ditunjukkan Mohammed dengan meng izinkan perempuan mengendarai mobil, konser musik digelar, dan pencabutan larangan pendirian bios kop setelah 35 tahun lamanya.

Sektor pariwisata telah diidentifi kasi sebagai penyumbang utama karena pihak ber- wenang berharap uang yang dikeluarkan dari pariwisata meningkat dari USD27,9 miliar (Rp378 triliun) pada 2015 menjadi USD46,6 miliar (Rp632 triliun) pada 2020. Pada Agustus silam, Arab Saudi meluncurkan sebuah proyek pariwisata besar untuk membangun resort di sekitar 50 pulau di lepas pantai Laut Merah.

Tahap pertama proyek ini akan selesai pada 2022 yang dibangun di antara Kota Umluf dan Alwajh. Proyek itu akan menciptakan 35.000 pekerjaan baru. Selain itu, proyek tersebut juga akan berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) Saudi mencapai senilai USD5 miliar (Rp66,66 triliun).

Bersaing dengan Dubai

Harian Al Watan melaporkan kalau Arab Saudi akan lebih mudah dikun jungi dengan ada nya kebijakan visa turis. De ngan kebijakan baru tersebut, Riyadh akan bersaing dengan Dubai yang selama ini menjadi magnet bagi wisatawan dari berbagai penjuru dunia. Padahal setiap tahunnya, Arab Saudi menampung 3,7 juta umat Muslim yang melaksana kan ibadah haji.

Hanya 200.000 wisatawan nonibadah yang berkunjung ke Saudi setiap tahunnya. Saudi berharap pada 2020, jumlah wisa ta wan asing akan meningkat menjadi 1,5 juta orang. Pada 2030, Saudi menargetkan kunjungan wisata wan men capai 30 juta orang.

Sebenarnya Arab Saudi telah men dapatkan devisa banyak dari kunjungan jamaah haji dan umrah. Dengan adanya kawasan resor wisata, pilihan jamaah haji dan umrah akan menambah liburan semakin bervariasi. Namun, selama karena Arab Saudi dikenal memiliki aturan ketat, baik secara keagamaan dan sosial, Riyadh mengalami kesulitan menarik kunjungan wisatawan asing non-haji dan umrah.

Hal yang menjadi ke kha watir an adalah citra Arab Saudi se bagai negara Islam kon servatif dengan berbagai larangan. Belum jelas informasi menge nai bagaimana pakaian yang boleh di gunakan atau apakah pembatasan serta pelarangan akan dilonggarkan atau ti dak.

Pasalnya, alkohol, bioskop, dan teater dilarang di Arab Saudi. Pe rempuan juga harus menge na kan pakaian pajang serta kerudung jika mereka Muslim. Perempuan juga dilarang me ngendarai mobil dan harus mendapatkan izin dari suami atau orang tua jika bepergian.

Namun demikian, Arab Saudi dikabarkan akan melong garkan berbagai aturan khusus di zona wisata resor Laut Merah tersebut. Melansir The Guardian, Arab Saudi sedang memper-siap kan atur an hukum agar alkohol boleh dikonsumsi wisatawan. Mereka akan membuka pintu bagi berbagai tempat hiburan karena lokasi itu akan menjadi kota hiburan baru per tama di Arab Saudi.

Berbagai wahana wisata theme park juga akan di – bangun di sana. ”Jika Saudi tidak mengubah larangan alkohol dan berpakaian, wisata wan akan enggan ke sana,” ujar Direktur Teneo Intelligence berbasis di London, Crispin Hawes, dilansir The Washington Post.

Riyadh Diserang

Duta Besar Amerika Serikat (AS) untukPerserikatan Bangsa- Bangsa (PBB) Nikki Haley menyebut kan rudal yang ditembak kan dari Yaman ke ibu kota Arab Saudi, Riyadh, memiliki ciri khas senjata yang dipasok Iran. Di hadapan para anggota Dewan Ke aman an PBB, Haley mengatakan, rudal ter sebut punya kesamaan dengan rudal dalam serangan-serangan serupa yang menggunakan senjata pasokan Iran.

”Kita harus bertindak bersama meng ungkap kejahatankejahatan rezim Teheran dan melakukan apa pun yang di-perlukan demi memastikan mereka mendapat pesannya,” ujar Haley dilansir BBC. ”Jika kita tidak melaku kannya, Iran akan membawa dunia lebih masuk ke dalam konflik kawasan,” papar Haley.

Namun, Rusia yang bersekutu de ngan Iran, mengindikasikan tidak akan mendukung rencana aksi tersebut. Sebelumnya Iran berkeras membantah mempersenjatai kubu pemberontak Houthi di Yaman.

Stasiun televisi Al Masirah milik kelompok pemberontak Houthi di Yaman mengatakan, sasaran rudal adalah per temuan para pemuka Arab Saudi di Istana Al-Yamama yang merupakan kantor pusat raja dan juga pengadilan kerajaan.

andika hendra

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com