SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Selera Fashion Lokal Menuju Global

  • Reporter:
  • Senin, 23 April 2018 | 15:33
  • Dibaca : 225 kali
Selera Fashion Lokal Menuju Global

Dukungan untuk budaya Indonesia di industri fashion lokal dan global tetap menjadi prioritas utama bagi LaSalle College Jakarta (LCJ).

Hal itu terlihat dari karya lulusan mahasiswa LCJ di ajang Creative Show 2018 . Acara tersebut juga merupakan perayaan 21 tahun berdirinya LaSalle College Jakarta (LCJ) yang diselenggarakan pada Jumat, 13 April 2018, bertempat di The Hall Senayan City lantai 8. Tema yang dipilih yakni “Nian Tana” artinya Mother Land (Tanah Air) dari bahasa daerah Maumere, Flores. LaSalle College Jakarta menampilkan enam program unggulan, yakni fashion design, fashion business, interior design, digital media design, photography dan artistic make – up .

Seluruh lulusan dari program-program LCJ berkolaborasi untuk menyukseskan acara “ Nian Tana “ dengan menunjukkan karyakarya terbaik mereka. Creative Show 2018 terdiri dari pameran hasil karya terbaik dari program fashion design, fashion business, interior design, digital media design, photography , dan make – up life installation . Graduation Ceremony LaSalle College Jakarta pada tahun ini berhasil meluluskan sebanyak 211 siswa, dengan 51 siswa fashion design , 52 siswa fashion business , 24 siswa digital media design , 6 siswa photography , 19 siswa interior design , dan 59 siswa artistic make – up .

Program Director Fashion Design LCJ Shinta Djiwatampu menyebutkan, Creative Show tentang fashion show yang mengusung tema “Nian Tana” terinspirasi alam dan keramahan daerah Maumere. “Tidak hanya wilayahnya alami, kami terinspirasi penari dan penenun di Maumere. Kain tenunnya semua dibuat dari pewarna alam,” ujar Shinta. Pergelaran kreatif ini menampilkan sebanyak 70 desainer dengan total 266 baju yang dibagi dalam 4 sekuen dengan tema yang berbeda. 72 koleksi di antaranya menggunakan kain Flores, yang dibagi ke dalam 33 koleksi wanita dan 39 koleksi pria yang dibagi dalam empat sekuen dengan tema berbeda-beda, di antaranya Flores dan Mini Collection.

“Treatment yang digunakan pun berbeda. Ada yang dengan teknik bordir, fabric , namun semua didesain modern sesuai kebutuhan sekarang, ready to wear . Kami menggunakan kain tradisional tapi tidak terlihat seperti kostum karena menggunakan teknik cutting modern,” katanya. Shinta menambahkan, untuk pengerjaannya, koleksi busana ini memakan waktu selama delapan bulan karena harus menyesuaikan kain yang terkadang tidak cukup. “Jadi, timnya harus benar-benar mendesain agar kain tersebut cukup untuk diubah menjadi dress, outer, bottom , hingga top yang lebih modern,” tambahnya. Kain Flores memiliki ciri khas seperti motif berupa gambar flora dan fauna, dengan permainan warna yang berbeda dengan kain tradisional Indonesia lainnya.

Misalnya kain Flores memiliki warna pink dan hijau muda. Pemilihan kain Flores itu karena warnanya sudah maju, seperti memiliki warna pink dan hijau muda yang tidak dimiliki kain lainnya. Kualitasnya pun cukup bagus dan tidak mudah luntur,” imbuhnya. Peragaan busana “Nian Tana” ini merupakan tugas akhir dari para siswa lulusan LCJ yang diharapkan bisa menampilkan karya kreatif dan luar biasa, serta mampu bersaing dalam industri fashion lokal maupun internasional. Mengawali acara Creative Show LCJ , para undangan disuguhkan dengan tarian khas dan musik tradisional Maumere. Para penarinya didatangkan langsung dari daerah asalnya. “Desain busana yang ditampilkan eco friendly baru sebagain dan ada juga yang dicampur bahan katun line ,” lanjut Shinta.

Setiap tahunnya, LCJ mengangkat tema berbeda. Adapun daerah yang diangkat adalah daerah yang terkenal dengan kain khasnya. Jika 2018 mengangkat Flores, Shinta menyebutkan, berikutnya akan mengeksplorasi Kalimantan Barat. “Meskipun kita sekolah internasional, kita tetap mengutamakan kekayaan alam kita. Kekayaan tekstil setiap daerah kita wujudkan dalam bentuk koleksi, seperti Flores karena tekstilnya terkenal. Ini salah satu cara menanamkan cinta Indonesia,” ucap Shinta. Selanjutnya, mahasiswi yang menerima penghargaan dari LCJ antara lain best student dari fashion desig n, Monica Ratna Sari, dan fashion business , Regina Dharmawan.

Selanjutnya, best portfolio fashion design , Rashesa Putri Sabrina, kategori favorite student untuk digital media design , Nauval Azhar, photography Andreas Soputra, dan artistic make – up Andi Pertiwi Fajri Huduri. Beberapa alumni LCJ memang terkenal dengan karyanya yang apik. Salah satunya adalah founder label Cotton Ink yakni Carline Darjanto dan Ria Sarwono. Keduanya bersahabat sejak SMP dan setelah lulus dari LCJ memutuskan untuk mempunyai label sendiri.

sali pawiatan

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com