SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Siaga 24 Jam, Petugas AirNav Hang Nadim Dibutuhkan Changi

  • Reporter:
  • Rabu, 5 September 2018 | 19:46
  • Dibaca : 185 kali
Siaga 24 Jam, Petugas AirNav Hang Nadim Dibutuhkan Changi
Petugas Air Traffic Control (ATC) Bandara Internasional Hang Nadim berkomunikasi dengan pilot untuk mengatur lalu lintas ruang udara di Batam, Rabu (5/9/2018). /AHMAD ROHMADI

Petugas AirNav Indonesia menjadi bagian penting di balik lalu lintas pesawat di Tanah Air. Tak terkecuali di Batam. Berseberangan dengan Singapura, sosok-sosok di ruangan Air Traffic Control (ATC) turut berperan mengawasi lalu lintas pesawat internasional antara Bandara Changi dan Bandara Hang Nadim Batam.

Ahmad Romadi, Batam

Menara yang terletak di kawasan Bandara Internasional Hang Nadim Batam tampak seperti bangunan biasa. Dari kejauhan terlihat tidak ada aktivitas. Namun, di balik gedung itulah lalu lintas dan keselamatan penerbangan dikendalikan. Di ruang ATC itu para petugas berkomunikasi dengan para pilot untuk pengaturan lalu lintas pesawat yang melintasi ruang udara Batam.

Tempatnya tidak luas. Di puncak menara ATC yang tingginya sekitar 20 meter itu, hanya ada empat petugas. Terlihat sedang berkonsentrasi dalam menjalankan tugasnya. Di tangan para petugas itulah keselamatan penerbangan dipertaruhkan, sedikit salah memberikan informasi akibatnya bisa fatal.

“Di sinilah kami bekerja selama 24 jam bergantian. Untuk Batam, kami melayani rata-rata sekitar 120 pesawat setiap harinya,” kata General Manager AirNav Indonesia Cabang Batam, Miwan Muhammad Bunay, Rabu (5/9/2018).

Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau AirNav Indonesia, merupakan satu-satunya perusahaan yang memiliki kewenangan untuk memberikan layanan navigasi penerbangan di seluruh Indonesia. Perannya sangat dibutuhkan untuk menjaga keselamatan dan mengatur lalu lintas penerbangan di udara.

Hingga saat ini, ATC Bandara Hang Nadim memiliki wilayah ruang udara hingga ketinggian 1.500 kaki. Sedangkan untuk ketinggian di atasnya lalu lintas udara dikendalikan oleh Approach Centre Unit (APP) di Tanjungpinang, yang memang memiliki radar untuk memantau pergerakan pesawat pada ketinggian 1.500 hingga 10.000 kaki di atas permukaan laut.

Sebagai single Air Traffic Service (ATS) Provider di Indonesia, AirNav Indonesia memiliki peranan yang sangat penting. Terutama dalam melaksanakan penyediaan jasa pelayanan navigasi penerbangan sesuai dengan standar yang berlaku pada penerbangan, baik dalam lingkup nasional ataupun internasional.

“AirNav diberikan tugas oleh pemerintah untuk memberikan layanan navigasi penerbangan di Indonesia. Sebagaimana Undang-Undang No. 1 tahun 2009 tentang Penerbangan. Karena itu jika bebicara seberapa penting, jelas kami memiliki peranan yang sangat penting untuk penerbangan,” kata Miwan.

Untuk di Batam, dia menjelaskan AirNav Indonesia terus berupaya meningkatkan pelayanan, termasuk juga meningkatkan teknologi yang digunakan untuk mengontrol ruang udara. Kemudian juga menambah fasilitas yang ada. Salah satunya ATC di Hang Nadim Batam telah memiliki frekuensi cadangan untuk mempercepat layanan apabila terjadi gangguan khususnya dari pemancar radio.

“Frekuensi cadangan diperlukan untuk menjaga komunikasi dengan pilot agar dapat mencegah insiden yang tidak kita inginkan,” katanya.

Sebagai daerah yang sangat dekat dengan Singapura, peranan ATC di Hang Nadim Batam juga sangat dibutuhkan bagi penerbangan negera tetangga tersebut. Pasalnya, jika ada kendala yang terjadi pada penerbangan di Bandara Changi Singapura, Hang Nadim selalu menjadi alternatif pendaratan pesawat.

Sebelum melakukan pendaratan, para pilot juga harus berkomunikasi dengan para petugas ATC di Hang Nadim Batam. Itu sebabnya ATC memiliki tugas penting untuk mengatur lalu lintas di udara. Meskipun pesawat memiliki Global Positioning System (GPS), tapi tidak bisa melakukan pendaratan tanpa dipandu oleh petugas ATC.

“Jadi ketika sebuah pesawat itu masuk pada wilayah udara kita, harus berkoodinasi dengan ATC. Kalau itu tidak dilakukan berarti melanggar prosedural penerbangan,” katanya.

Dalam menjalankan tugasnya pihaknya mengaku selalu menjalankan prinsip 3S+1C dalam penerbangan yaitu Safety, Security, Services dan Compliance. Setiap petugas sendiri memandu maksimal hanya dua jam, dan melakukan pergantian secara rutin. Hal itu dilakukan agar petugas bisa berkonsentrasi saat menjalankan tugasnya.

“Tujuannya tidak lain adalah agar penerbangan bisa berjalan dengan sempurna. Baik itu saat mendarat atapun saat akan terbang,” katanya.

AirNav Indonesia, lanjut Miwan, merupakan perusahaan badan usaha milik negara (BUMN) yang orientasi lebih kepada keselamatan dan kemanan penerbangan. Berbeda jika dibandingkan dengan Badan Usaha Bandar Udara (BUBU) semacam Angkasa Pura.

“Kalau mereka orientasinya memang lebih kepada profit meskipun juga tidak menyampingkan keselamatan dan keamanan. Tapi kalau AirNav memang lebih kepada keselamatan dibanding dengan profit,” jelasnya.

General Manager Umum BUBU Hang Nadim Batam, Suwarso mengatakan keberadaan AirNav Indonesia di Batam sangat penting untuk keselamatan penerbangan. Menurut dia, selama pesawat itu masih berada di udara sepenuhnya dikendalikan dan dipandu oleh ATC AirNav Indonesia.

Dulu, seluruh penerbangan di Bandara Hang Nadim dikendalikan oleh Badan Pengusahaan (BP) Batam, tapi sejak adanya AirNav menjadi Perum pengoperasiannya sendiri. Namun, dalam pengelolaanya tetap pihaknya menjalin koordinasi dengan AirNav Indonesia untuk keselamatan penerbangan.

“Ketika pesawat itu masih di udara itu menjadi wilayah AirNav, dan ketika sudah landing baru diserahterimakan kepada AMC (Apron Movement Control) bandara untuk mengatur parkir pesawat,” kata Suwarso.

Segala informasi di udara pihak ATC yang menurut dia pertama kali mengetahui, sehingga jika ada pesawat asing yang hendak mendarat di Bandara Internasional Hang Nadim pihaknya berkoordinasi dengan AirNav Indonesia. Begitu juga ketika ada pesawat domestik yang akan mendarat atau terbang selalu menunggu intruksi dari AirNav.

“Jadi kalau berbicara seperi apa pelayanan AirNav Indonesia bagi penerbangan ini, tentu sangat penting. Kalau tidak diatur lalu lintas di udara bisa berbahaya penerbangan ini,” katanya. ***

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com