SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Siapkan Batam Jadi Kota Ekonomi Kreatif

  • Reporter:
  • Jumat, 30 Agustus 2019 | 22:30
  • Dibaca : 233 kali
Siapkan Batam Jadi Kota Ekonomi Kreatif

BADAN Ekonomi Kreatif melacak puluhan ribu pelaku usaha ekonomi kreatif di Kepri untuk dimasukkan dalam satu keranjang data seluruh Indonesia. Memudahkan investor atau calon pembeli melirik usaha potensial melalui layar ponsel dengan mengklik profil usaha dengan ujung jari. 

CHANDRA GUNAWAN, Batam

Kepala Dinas Pariwisata Batam Ardiwinata punya misi khusus setiap bertemu Badan Ekonomi Kreatif: membujuk pejabatnya memilih Batam jadi tuan rumah Festival Bekraf 2020. Tawaran sama dilempar lagi saat Bekraf mengenalkan aplikasi Bekraf Information System on Mobile Application (BISMA) di Hotel Aston Batam yang dihadiri 200 pelaku usaha ekonomi kreatif, kemarin. Bekraf Festival acara tahunan yang digelar sejak 2017 dan memamerkan 16 sektor ekonomi kreatif Tanah Air. 

Membujuk Bekraf lewat Mou dan Surat Wali Kota Batam, Ardi merangkul juga anak-anak muda Batam yang menggerakkan ekonomi kreatif. Ardi memandang ekonomi kreatif di Batam punya masa cepan cerah. Bermula dari dari ide dan kreativitas lalu menjadi usaha kecil-kecilan, Ardi yakin bisnis ekonomi kreatif bisa meraksasa. Energi dari pelaku usaha kreatif inilah jadi modal Ardi membawa Festival Bekraf tahun depan ke Batam sekaligus jadi magnet wisatawan. Ardi membayangkan 16 sektor usaha itu dikawinkan dalam mata rantai industri pariwisata Batam. Dampaknya diyakini berantai-rantai. 

“Pariwisata Batam butuh produk-produk dari industri ekonomi kreatif. Contohnya souvenir, tayangan promotif, atraksi kreatif, sampai periklanan yang menarik,” ujar Ardi di sela-sela pengenalan platform BISMA, kemarin.

Tantangan muncul, Pemko Batam masih meraba-raba apa saja sektor ekonomi kreatif yang eksis di Batam dari 16 subsektor yang ditetapkan Bekraf. Di Batam, dari obrolan Ardi dan pelaku usaha, jenis usaha ekonomi kreatif di Batam terbilang banyak mulai dari kuliner, jasa desain visual, perfilman sampai aplikasi. Selain banyak, mereka umumnya juga dianggap pelaku usaha kecil dan menengah dan mencari pasar sendiri. 

Pemetaan pelaku usaha ini dibutuhkan untuk merumuskan sasaran pembangunan industri ekonomi kreatif sekalipun Ardi menyebut sektor usaha ini dicantumkan dalam RPJMD Batam dengan dua dinas terpisah yakni Dinas Perindustrian dan Perdagangan, satu lagi Dinas Pariwisata. Pemetaan ini juga perlu untuk pendampingan modal usaha. Ardi melihat usaha kreatif bisa mendapat akses modal lewat pembiayaan Kredit Usaha Rakyat dari pemerintah atau dana bergulir.

Dinas Pariwisata tetap ingin mengakomodir industri ekonomi kreatif Batam. Anak-anak muda yang menggerakkan ekonomi kreatif didorong menyuarakan pengembangan usaha ini lewat Musyawarah Perencanaan dan Pembangunan (Musrenbang) Kota Batam. “Anak-anak muda Batam yang menggerakkan 16 subsektor ekonomi kreatif akan tergabung dalam Asosiasi Insan Kreatif,” tutur dia.

Tantangan peta pelaku usaha ekonomi kreatif ini persis dihadapi Badan Ekonomi Kreatif. Subsektor ekonomi kreatif telah dirinci ke sebanyak 16 jenis usaha yakni Aplikasi dan pengembangan permainan, Arsitektur, Desain Produk, Fesyen, Desain Interior, Desain Komunikasi Visual, Seni Pertunjukan, Film-Animasi dan Video, Fotografi, Kriya (kerajinan tangan), kuliner, musik, penerbitan, periklanan, seni rupa dan terakhir televisi dan radio.

Berdiri sejak 2015, Bekraf masih giat melacak pelaku usaha ini untuk dimasukkan dalam satu keranjang database lewat platform BISMA. Hingga 29 Agustus 2019, sudah terdata 48.661 pelaku usaha ekonomi kreatif di seluruh Indonesia yang ada dalam database BISMA dengan 9.727 produk. Jumlah itu hanya hanya seujung jari dari perkiraan Bekraf mengacu data Badan Pusat Statistik. Terdapat 8,2 juta pelaku usaha ekonomi kreatif yang tersebar di seluruh Indonesia. Pendataan ini penting untuk pelaku usaha agar bisa mengembangkan usahanya dengan pendampingan dari negara terutama modal dan strategi penguatan.

“Tanpa ini (data) kami gelap. Makanya Bekraf membangun keintiman dengan pelaku usaha lewat BISMA,” ujar Direktur Riset dan Pengembangan Bekraf Wawan Rusiawan di kegiatan BISMA Goes To Get Member (Bigger) 2019 di Aston Batam Hotel, Batam, kemarin.

Di Kepri jumlahnya tak sedikit. Bekraf melacak ada sekitar 34 ribu pelaku usaha kreatif tapi baru 561 yang terdata dalam BISMA. Batam paling banyak, 423 entitas usaha yang sudah terdata. Batam kemudian menjadi primadona bagi Bekraf karena potensi wisatanya yang bersaing dengan DKI Jakarta dan Bali.

Mengacu data itu dan besarnya kunjungan wisman ke Batam, Bekraf rajin menggelar sosialisasi BISMA di FTZ Batam. Alhasil Bekraf punya pemetaan awal sektor ekonomi kreatif unggulan yang sudah mendulang rupiah dan menggerakkan ekonomi Kepri. Paling unggul adalah kuliner yang menyumbang sektor pariwisata sekaligus ekonomi kreatif. Setelah kuliner yakni fesyen dan kriya atau kerajinan tangan dari macam-macam bahan.

Dengan BISMA, seluruh data dijadikan acuan menyusun kebijakan tepat agar mengembangkan kapasitas pelaku usaha. Bekraf memberikan macam-macam strategi mulai dari pendampingan, pemasaran produk dan jasa sampai akses modal dari pemerintah, crowdfunding, filantropi, lembaga pembiayaan atau ventura.

Berbasis web (bisma.bekraf.go.id), IOS dan Android, pengguna yang sudah mengunduh BISMA bisa melacak entitas usaha ekonomi kreatif seluruh Indonesia lewat layar ponselnya atau komputer. Ketika dibuka, BISMA menampilkan peta Indonesia dengan informatif. Ada jumlah usaha ekonomi kreatif di provinsi-provinsi. Bekraf menampilkan pula banyak agenda kreatif termasuk jadwal agenda sertifikasi yang diperlukan pelaku usaha.

Tak cuma profil usaha dan produknya dipamerkan di etalase digital BISMA, sampai ke alamat entitas usaha itu bisa ditampilkan. Wawan mengungkapkan pelaku usaha yang terdata BISMA mendapat prioritas untuk fasilitas dan dukungan dari Bekraf. Permodalan, infrastruktur, pendampingan, HAKI sampai pemasaran, mempertemukan investor dengan pelaku usaha seluruh subsektor usaha. Menurut Wawan, yang penting Bekraf ingin memperkuat pasokan dan kualitas pelaku usaha kreatif Indonesia meski dari pendampingan akses pasar tetap harus diseleksi. “Kami coba total football Indonesia,” kata dia.

Bukti cerahnya ekonomi kreatif datang dari Infinite Studios-perusahaan animasi di Batam. Head of Production Infinite Studios Ghea Lisanova menuturkan kisah sukses Infinite yang mula kantornya hanya muat 40 orang kini bisa 100 orang. “Dari tempatnya kecil sekarang menjadi industri animasi yang dikenal orang,” kata dia.

Sementara masa depan cerah dari pelaku usaha, Financial Planner Mada Aryanugraha yang dihadirkan Bekraf melihat jatuh bangunnya usaha ekonomi kreatif bukan karena seret penjualan. Banyak usaha tutup buka karena manajemen keuangan yang buruk. Literasi keuangan cukup rendah dengan tantangan terberat adalah permodalan harus bisa diatasi. “Ada yang sama sekali tidak mencatat keuangan,” tutur dia. Dia melihat keranjang data BISMA memegang peranan penting bagi penguatan kapasitas ekonomi kreatif terutama membuka pintu permodalan. “Data BISMA bisa dishare ke lembaga pembiayaan,” ujar dia.

***

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com