SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Sidang Tuntutan Tjipta Digelar Pekan Depan, Tuntutan Belum Rampung

  • Reporter:
  • Kamis, 20 September 2018 | 15:11
  • Dibaca : 73 kali
Sidang Tuntutan Tjipta Digelar Pekan Depan, Tuntutan Belum Rampung
Terdakwa Tjipta Fudjiarta di Pengadilan Negeri Batam, Senin (3/3/2018).

BATAM KOTA – Pembacaan tuntutan kasus penipuan, penggelapan dan pemalsuan akta otentik dengan terdakwa Tjipta Fudjiarta kembali ditunda, Rabu (19/9/2018). Penundaan dilakukan seiring belum rampungnya penyusunan tuntutan oleh penuntut umum.

“Tuntutan belum rampung, makanya ditunda. Tidak ada alasan lain,” kata Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Batam, Filpan F D Laia.

Ia menjelaskan, penyusunan amar tuntutan membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Hal ini dikarenakan semua keterangan para saksi, ahli dan barang bukti harus menjadi pertimbangan yang harus termuat dalam tuntutan. Untuk itu, penuntut umum meminta waktu tambahan kepada majelis hakim Tumpal Sagala, Yona Lamerosa dan Taufik Nainggolan. “Ditunda sampai pekan. Semoga saja pekan depan sudah rampung dan sudah bisa dibacakan,” ujarnya.

Penundaan atas pembacaan tuntutan Tjipta sudah dua kali dilakukan. Pada penundaan sebelumnya, Filpan juga telah menegaskan bahwa pihaknya selaku penuntut umum akan melakukan tugas semaksimal mungkin untuk merampungkan tuntutan. Ia juga menginginkan agar persidangan kasus ini dapat selesai dengan segera. “Tidak ada kepentingan apapun bagi kami untuk menunda-nunda persidangan ini,” tegas Filpan.

Sebelumnya, beberapa orang saksi telah dihadirkan ke persidangan guna pembuktian dakwaan JPU seperti istri dan anak dari Conti Candra selaku pelapor. Beberapa orang ahli juga telah dimintai pendapatnya di hadapan persidangan. Tidak ketinggalan juga, para pemegang saham PT Bangun Megah Semesta (BMS) juga dihadirkan untuk memberikan kesaksian. Para notaris yang berkaitan dalam sengketa kepemilikan Hotel BCC juga dipanggil sebagai saksi.

Saksi notaris Angly Cenggana yang sempat dihadirkan ke persidangan menyebutkan bahwa tidak ada kwitansi yang dilaporkan kepada dirinya saat pembuatan akta penjualan saham dari Conti Candra kepada terdakwa.

Angly menjelaskan, ia telah membuat banyak akta sejak PT Bangun Megah Semesta (BMS) didirikan. Dari sekian banyak akta yang telah dibuatnya, ada satu akta terkait penjualan saham yang tidak bisa dijelaskan sistem pembayarannya. Hal tersebutlah yang kini menjadi pokok perkara persidangan dengan terdakwa Tjipta.

Menurut dia, saat pembuatan akta penjualan saham dari Conti Chandra kepada Tjipta Fudjiarta, ia telah menanyakan perihal pembayaran saham tersebut. Saat itu, kedua belah pihak menyampaikan bahwa pembayaran sudah dilakukan sehingga ia membuatkan akta tersebut. “Namun, sistem pembayaran dan seperti apa transaksinya, saya tidak tahu,” kata Angly menjawab pertanyaan Hakim Taufik Nainggolan.

Sebelum ia menerbitkan akta penjualan saham dari Conti ke Tjipta, lanjut Angly, ia telah membuat akta penjualan saham dari pemilik PT BMS sebelumnya yaknu Wie Meng dkk, yakni akta 89. Namun, akhirnya akta itu dibatalkan dengan akta 98. “Pada saat penjualan saham dari Wie Meng ke Conti, ada sejumlah kuitansi yang didaftarkan. Tapi, pada saat penjualan saham dari Conti ke Tjipta, tidak ada satupun kwitansi yang didaftarkan ke saya,” kata Angly. aini lestari

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com