SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Sisi Gelap Modernisasi Nelayan

  • Reporter:
  • Kamis, 12 April 2018 | 15:08
  • Dibaca : 70 kali
Sisi Gelap Modernisasi Nelayan
MUHAMAD HUSEN Pengurus DPD HNSI Jabar dan Pengurus Masyarakat Akuakultur Indonesia

Peringatan Hari Nelayan Indonesia, 6 April, ber langsung senyap. Tidak ada gempita, kemeriahan di se jumlah wilayah, gaung Hari Nelayan nyaris tak terdengar.

Mem bahas kampanye partai dan pemilu tampaknya lebih me na rik ketimbang isu-isu nelayan. Padahal untuk menggali po ten si perikanan yang demikian be sar, dibu tuh – kan sosok ne layan modern. Posisi nelayan di Tanah Air saat ini memang belum bisa dikatakan modern. Meskipun dikatakan primitif juga tentu tidak. Untuk mencapai mo – dern pun belum me mung kin – kan. Roda kehidupan nelayan berjalan seperti biasa, me lan – jut kan hidup di tengah kes e – sak an pendapatan dan impitan kebutuhan hidup.

Nasibnya tetap memprihatinkan. Mengapa nelayan belum modern? Sebagian besar ja wa – bannya akan merujuk pada te r – batasnya armada dan tek no logi penangkapan serta adanya ham batan kultural dan struk – tural, termasuk berbagai ken da – la lain yang selalu meng ha dang.

Kalaupun mereka me nik mati kemajuan, posisinya selalu ter – tera pada urutan paling be la – kang. Kehidupan nelayan tetap saja merupakan sosok keter – ting galan, padahal para peme – gang kebijakan di negeri ini sudah sering bongkar pasang berikut program memo der nisasi nelayan menjadi salah satu pencanangan ker janya.

Realita modernisasi masih memiliki sisi gelap, mereka yang bertarung hidup di te ngah ganasnya lautan, ibarat pah – lawan yang kalah perang. Hasil tangkapan cenderung me nu – run karena kalahnya daya jang – kau menembus laut dalam, me – ngingat kapal yang di pakai ber – ukuran kecil.

Aki batnya, pen da – patan nelayan minim. Jika patah semangat, sebagian dari mereka akan me nempuh jalan pintas dengan cara berpindah pekerjaan. Se ba gian bisa ber – hasil, tetapi tidak sedikit pula gagal karena tidak memiliki keterampilan khusus. Tidak mudahnya me raih tambahan modal, apalagi tingkat edukasi mereka yang ren dah sehingga keterbelakangan selalu menyelimutinya.

Mengalami Penurunan

Gaung yales veva yaya mahe serta bait-bait lagu “nenek mo – yangku orang pelaut”, semakin kental dikenal dan mudah di – hafal di kalangan anak-anak se – kolah. Semboyan yang men cer – minkan kejayaan nenek mo – yang kita sejak zaman Sriwijaya dan masih tertanam di benak para pelaut Indonesia sampai sekarang.

Makna isinya baru terasa menggema pada se ba – gian kecil dari penguasaan laut secara menyeluruh, yaitu da – lam dunia pelayaran dan pen je – lajahan laut-laut Nusantara. Namun, pada bidang-bidang lain, khususnya pada pe man – faa tan sumber daya hayati yang se cara ekologis dapat terles ta – ri kan, kajian ekonomisnya me – nguntungkan dan ana – lisis il miah bisa diper – tang gung ja wab kan, sem boyan heroik itu be – lum terpatri secara utuh da lam sanubari para pe – tinggi negeri ini.

Secara kasatmata bangsa Indonesia umum – nya me nge tahui bahwa sekitar tiga per em pat wilayahnya berupa laut. Memiliki luas 5,8 juta kilo me ter persegi yang meng hu bung kan lebih dari 17.504 pulau de – ngan panjang garis pantai 95.200 km (ter – panjang kedua di dunia). Daerah pesisir dan laut – annya mengandung po – tensi ekonomi kelautan luar biasa, diperkirakan mencapai USD1,3 miliar per tahun.

Ko non dari perikanan tangkap ber nilai USD15,1 juta, budi daya laut USD46,7 juta, budi daya tambak USD10 juta, dan bioteknologi kelautan USD4 juta. Sumber daya ikan laut diperkirakan sebanyak 12,5 juta ton/tahun. Pada 2017 produksinya baru 7,67 juta ton. Di balik fakta di atas, selalu muncul pertanyaan klise dan menggelitik, mengapa keka ya – an laut sedemikian besar itu be lum bisa membuat bangsa kita menjadi lebih maju dan mak mur.

Apalagi untuk me mo – der n kan nelayan, padahal me – re ka lah selama ini turut meng – gali potensi kelautan tersebut. Saat ini kontribusi sektor ke – lautan Indonesia sekitar 22% dari produk domestik bruto (PDB), tergolong kecil di ban – dingkan dengan negara APEC lainnya, seperti Vietnam, Ko – rea, dan Je pang.

Bahkan ting – kat pendapatan nelayan masih ber ki sar sekitar Rp300.000 per bu lan. Sementara kerugian ne gara akibat pencurian ikan me nurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) diper ki – ra kan rata-rata Rp30 triliun per tahun.

Runyamnya regulasi per – ikanan tangkap, adanya du ga an tentang sumber daya ikan di beberapa wilayah perairan su – dah mengalami degradasi, dan sering kurang bersahabatnya cuaca buruk tidak menentu, te – lah menambah deretan pan jang penyebab nasib nelayan selama ini. Ujung-ujungnya, mereka terpuruk di ladang sendiri.

Tidak mengherankan apabila jumlah nelayan di ne gara kita mengalami penurunan, jika pada 2003 tercatat 3,85 juta ne la – yan, maka pada 2007 berkurang menjadi 2,66 juta. Pada 2016 diperkirakan seba nyak 2,17 juta (hanya 0,87% dari jumlah te na – ga kerja Indo nesia). Minimnya akses sarana pro – duksi membuat nelayan be lum mampu memanfaatkan dan mengelola kekayaan laut secara optimal.

Di sejumlah sentra produksi perikanan, akses ba – han bakar minyak sulit diper – oleh. Nelayan terpaksa mem – be li solar eceran di wa rung de – ngan harga lebih mahal ke tim – bang membeli di stasiun pe ng – isian bahan bakar untuk umum (SPBU). Kesulitan lain adalah akses permodalan un tuk me – laut. Sulitnya akses per bankan mengakibatkan ne la yan ter – jerat utang permodalan de – ngan tengkulak.

Model perikanan skala me – nengah ke bawah dengan sis – tem bagi hasil nelayan dengan pemilik menghasilkan hubu – ngan patronase yang kuat. Ar ti – nya, segala sesuatu kendala pengusaha ditanggung pula pe – kerjanya. Kendala berlanjut hingga hilir, yakni mata rantai perdagangan yang dikuasai tengkulak. Akibatnya, nelayan nyaris tak punya posisi tawar.

Tidak Ada Apa-apanya

Manakala menelaah vo lu me serta nilai produk per ikan an Indonesia, tentu kita ber pen – dapat ternyata kemam puan kitatidakadaapa-apanyadi ban – dingkan dengan negara lain da – lam mengelola kekayaan laut – nya. Korea Selatan yang h a nya memiliki garis pantai tak le bih dari 2.713 kilometer mampu menyumbang 37% bagi PDBnya.

Jepang dengan garis pantai 34.386 kilometer, sektor kelautannya mampu menyumbang 54%. Te tangga kita, Thai land, yang garis pantainya saja 2.600 ki lo me – ter juga dapat me ngekspor produk perikanan jauh lebih besar dari Indonesia.

Sementara Cina, luas wi – la yah perairannya 503.209 km persegi (8,81% luas perairan In donesia) dengan panjang ga ris pantai 32.000 km, sepuluh tahun lalu kon – tribusi sektor kelautannya terhadap PDB men capai 48,4%, keber pihakan pemerin tahnya terhadap sektor perikanan terbukti mu lai dari pembangunan rumah susun nelayan yang layak ter masuk berbagai insentif usaha untuk menumbuhkan investasi.

Negara Islandia dan Nor – wegia telah membuktikan pula bahwa laut dapat menjadi tum puan penghidupan eko – no mi. Di Islandia, 65% PDB berasal dari sektor perikanan dengan pendapatan per kapita ra k yatnya USD26.000, se – dangkan Norwegia mem be – rikan kon tri busi 25% untuk ekspor ikan sal mon saja senilai USD2 miliar per tahun.

Ada – pun penda patan per kapitanya mencapai USD30.000. Mencermati kisah sukses negara lain berikut sederet per – soalan yang dihadapi nelayan, saatnya Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla menjadikan peringatan Hari Nelayan tahun ini sebagai mo – mentum membangkitkan dan menyejahterakan nelayan se – suai Nawacita. Ambisi me nem – patkan Indonesia sebagai po ros maritim dunia hanya bisa tercapai jika nelayan modern bisa diwujudkan.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com