SINDOBatam

Terbaru Metro+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Stok Obat Bius Kosong, Operasi Enam Pasien RSUD Tertunda

  • Reporter:
  • Rabu, 15 Januari 2020 | 20:34
  • Dibaca : 131 kali
Stok Obat Bius Kosong, Operasi Enam Pasien RSUD Tertunda
RSUD Embung Fatimah. /DOK SINDO BATAM

BATUAJI – Enam pasien RSUD Embung Fatimah terpaksa menunggu hingga tiga jam agar bisa menjalani operasi karena stok obat bius kosong, Rabu (15/1). Keluarga pasien protes, sebab penundaan operasi dapat mengancam keselamatan pasien.

Informasi yang dihimpun SINDO BATAM, enam pasien yang mengalami penundaan jadwal operasi terdiri dari dua pasien kebidanan, tiga pasien bedah dan satu pasien eliktip (operasi ditunda karena puasanya batal). Seharusnya para pasien dijadwalkan operasi pagi, namun karena stok obat bius kosong, operasi baru bisa dilaksanakan setelah jam makan siang.

Kasus kosongnya stok obat bius ini menambah permasalahan yang sering terjadi di rumah sakit pelat merah tersebut, mulai dari pelayanan kesehatan kepada pasien maupun sejumlah kasus lainnya.

Salah seorang dokter membenarkan kasus kosongnya obat bius di rumah sakit di kawasan Batuaji itu. Ia yang seharusnya melakukan operasi kepada pasiennya pagi kemarin, terpaksa melakukan penundaan karena stok obat bius kosong. Operasi baru bisa dilaksanakan pukul 13.00 setelah manajemen rumah sakit mendapatkan pasokan obat bius.

“Seharusnya jadwal operasinya pagi, karena stok obat bius kosong operasi terpaksa ditunda. Manajemen baru bisa mendapatkan pasokan obat bius pukul 12 siang, dan baru bisa saya melakukan operasi,” kata dokter yang enggan namannya disebutkan.

Senada dengan dokter lainnya. Menurut dia, stok obat di rumah sakit tidak boleh kosong, meskipun tak ada jadwal operasi. “Stok obat bius harus ada. Misalnya saat ini sisa 50 ampul. Untuk ke depan sudah harus disiapkan. Penundaan operasi ini bisa mengancan nyawa pasien juga,” ujarnya.

Ia mempertanyakan kinerja manajemen rumah sakit, sebab permasalahan ini bisa disebabkan beberapa hal, termasuk soal keuangan. “Selama kami (dokter) dituntut untuk bekerja maksimal. Sekarang lihat manajemen rumah sakit. Kosongnya obat bius ini karena apa. Apa karena manajemen tak bisa kerja atau memang tak ada uang untuk beli obat,” tegasnya.

Salah satu pasien yang operasinya terpaksa ditunda karena stok obat bius kosong adalah Karina. Pagi kemarin seharusnya ia dijadwalkan untuk operasi caesar. Febrian, suami Karina, menyampaikan keluhannya atas kosongnya obat bius di RSUD Batam. “Istri saya seharusnya operasi jam 10. Tapi operasi ditunda karena obat bius habis. Pelayanan RSUD buruk sekali. Kalau ada pasien kritis bagaimana. Ini menyangkut nyawa manusia loh,” katanya.

Humas RSUD Embung Fatimah, Novita yang dikonfirmasi membenarkan bahwa sempat ada penundaan operasi beberapa pasien karena tidaknya stok obat bius. Namun kejadian tidak berlangsung lama. Pasien hanya menunggu beberapa jam saja, dan setelah pasokan obat datang pelayanan sudah normal dan pasien kemudian penanganan tim dokter.

“Sudah tidak ada masalah, hanya beberapa jam saja. Obatnya saat ini sudah ada,” ujarnya.

Wakil Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengakui sempat ada enam pasien ditunda menjalani operasi karena harus menunggu obat. Menurut dia, obat tersebut sudah dipesan ke vendor, hanya saja ada beberapa obat yang datangnya tidak bersamaan dan terkadang membutuhkan waktu bisa sampai satu Minggu.

“Jadi memang ada beberapa obat yang lama. Tapi masalah itu sudah selesai,” katanya.

Untuk evaluasi ke depan, ia sudah memerintahkan manajemen RSUD Embung Fatimah untuk berkerjasama dengan vendor terdekat atau rumah sakit lainnya yang ada di Batam. Sehingga jika ada obat yang kosong bisa memakai sementara obat dari rumah sakit lainnya. “Jadi tidak sampai kosong, kalau obatnya sudah datang tinggal diganti,” kata Amsakar.

Ketua Komisi IV DPRD Batam Ides Madri meminta manajemen RSUD Embung Fatimah untuk proaktif dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Kehabisan stok obat jangan sampai terulang lagi.

“Tadi sudah kami minta penjelasan dari Direktur RSUD, bahwa ada keterlambatan kedatangan obat. Tapi intinya bagaimana ini tidak terjadi lagi,” kata Ides.

Saat ini, katanya, RSUD menggunakan katalog elektronik atau e-katalog dalam memesan obat-obatan. Mereka tinggal mengklik obat yang akan dipesan dengan estimasi pengiriman seminggu.

“Tetapi pengiriman terlambat. Tadi juga kami sampaikan kalau obat itu masih di Batam, ya dijemput. Jangan nunggu habis. Apalagi obat untuk operasi,” katanya.

Menurut dia, RSUD Kota Batam merupakan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) yang diperbolehkan mengelola anggaran sendiri. DPRD juga sudah menambah alokasi anggaran untuk obat sekitar Rp5-7 miliar dalam APBD Batam tahun 2020.

“Baik penambahan itu lewat Dinas Kesehatan atau RSUD langsung. Tapi yang namanya rumah sakit plat merah tak boleh profit orientit. Istilahnya keuntungan dan segala macam. Beda dengan rumah sakit swasta,” katanya.

Pemerintah daerah berkewajiban mengalokasikan anggaran ke RSUD jika rumah sakit tersebut tidak memiliki anggaran yang cukup dalam melakukan pelayanan kesehatan.

“Jadi mudah-mudahan pelayanan kesehatan ini tidak terhambat gara gara tidak ada obat dan segala macam. Tadi bukan tidak ada anggaran. Tapi perjalanan obat yang lambat,” ujarnya. ahmad rohmadi/iwan sahputra/m ilham

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com