SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Sudah Biasa Dibantai

  • Reporter:
  • Sabtu, 31 Maret 2018 | 14:49
  • Dibaca : 84 kali
Sudah Biasa Dibantai

MADRID–Argentina memiliki dua gelar Piala Dunia. Empat tahun lalu, mereka adalah runner-up Piala Dunia 2014. Diberkati banyak seniman hebat di lapangan hijau, Argentina akan selalu diunggulkan dalam turnamen besar.

Status yang membuat banyak orang kaget saat Argentina di bantai Spanyol 6-1 di Estadio Wanda Metropolitano, Madrid. La Albiceleste dipermalukan tuan rumah melalui gol Diego Costa pada menit ke-12, hattrick Isco (27, 52, 74), Thiago Alcantara (55), dan Iago Aspas (44). Pasukan Jorge Sampaoli hanya bisa mem per kecil skor lewat gol Nicolas Ota mendi pada menit ke-39. “Ini seperti tamparan keras di wajah. Saya ber tanggung jawab untuk kekalahan dan ikut bersimpati kepada pemain,” kata Sampaoli, dikutip Reuters.

Mantan pelatih Sevilla itu mengakui timnya tidak terlalu bagus dari sisi permainan, ter uta – ma di babak kedua, karena tidak memiliki kese imbang an. Hanya, dia membantah jika kekalahan itu menjadi indikasi jika Argentina kehilangan kualitas. Argentina memang tampil pincang. Beberapa pemain penting mereka tidak bisa tampil di Madrid. Lionel Messi hanya me – lihat dari bangku penonton karena mengalami masalah di kaki sehari sebelum pertandingan. Ser gio Aguero juga cedera sepekan sebelum laga internasional digelar. “Perbedaan kami dan mereka dalam pertandingan tidak sebesar skornya,” kata Sampaoli, dikutip Skysports. Tapi, Sampaoli seharusnya tak perlu terlalu malu.

Pendukung La Albiceleste juga tidak perlu purapura terkejut dengan kekalahan dengan margin lima gol. Karena, ini bukan kekalahan terbesar pertama mereka dalam sejarah Argentina. Belum lama, karena kejadian memalukan pernah terjadi sem – bi lan tahun silam, tepatnya pada 1 April 2009. Bertandang ke mar – kas Bolivia di Stadion Hernando Siles, La Paz, diperkuat mega bin – tang Messi, Argentina menyerah 1-6. Javier Mascherano dkk juga pernah dikalahkan Kolombia lima gol tanpa balas di kualifikasi Piala Dunia 1994. Bahkan, ke kalah an me malukan tersebut terjadi di depan pendukung sendiri di Stadion Monumental, Buenos Aires. Atau, saat mereka di ka lah – kan Uruguay 5-0 (6/12/1959) dan dihajar Rep Ceko 6-1 di Helsingborg, Swedia (15/5/1958).

Sementara kemenangan telak Spanyol juga bukan barang langka. La Furia Roja pernah mem bantai Kosta Rika 5-0, menghan curkan Liechtenstein delapan gol tan pa balas, menundukkan Korea Selatan (6-1), dan Tahiti diberondong sepuluh gol. Wajar, Pelatih Spanyol Julen Lopetegui menganggap wajar kemenangan atas Argentina. Okelah, kemenangan atas Argentina menjadi sejarah sendiri dalam per temuan kedua tim. Hasil tersebut bisa menjadi modal penting sebelum terbang ke Rusia. Tapi, lanjutnya, timnya tetap belum mendapatkan apaapa. “Hasil ini tak berarti apa-apa. Piala Dunia belum dimulai dan kami tetap akan memulai Piala Dunia tanpa poin,” tutur Lopetegui, dikutip Skysports.

Lopetegui pantas puas karena skenario keduanya dengan pemain alternatif berjalan mulus melanjutkan catatan 18 pertandingan tak pernah kalah. Pemain yang sempat terbuang seperti Costa tampil bagus de ngan me nyumbang satu gol. Thia go dan Aspas juga ber kontri busi. Ter masuk Isco, pe main yang sedang terombang-ambing di Real Madrid, membuat sejarahnya sendiri dengan mencetak tiga gol ke gawang Argentina.

Di Madrid, posisi Isco tidak selalu menjadi starter. Gelandang berusia 25 tahun tersebut langsung menyindir Pelatih Madrid Zinedine Zidane. “Di Madrid, saya tidak mendapat kepercayaan.Lopetegui memberikan kepercayaan dengan memberi menit bermain kepada saya,” ujar Isco.

Ma’ruf

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com