SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Susi Lepasliarkan Penyu dan Napoleon di Natuna

  • Reporter:
  • Senin, 13 Mei 2019 | 13:08
  • Dibaca : 66 kali
Susi Lepasliarkan Penyu dan Napoleon di Natuna
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti di Natuna akhir pekan kemarin. FOTO: KKP.GO.ID

NATUNA – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melepasliarkan 25 ekor hewan dilindungi di perairan Natuna, Kepulauan Riau, Sabtu (11/5). 25 ekor hewan dilindungi yaitu, 20 ekor Penyu dan 5 ekor ikan Napoleon.

“Saya berharap orang Natuna mulai belajar tidak mengonsumsi dan memperjual-belikan lagi telur Penyu, karena sudah kita konservasi,” kata Susi, pekan lalu.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Agus Suherrman merinci, ada 20 ekor induk penyu yang terdiri dari 19 ekor penyu hijau dan 1 ekor penyu sisik dan lima ekor ikan Napoleon dilepasliarkan. Keseluruh hewan yang dilepasliarkan dipasangkan tanda dari Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Kementerian Kelautan dan Perikanan.

“Penyu-penyu tersebut merupakan hasil operasi Polair Baharkam Polri yang menggagalkan pemanfaatan penyu pada 19 April 2019,” kata Agus.

Selain penyu ada juga Ikan Napoleon indukan yang dilepasliarkan. Ikan ikan itu adalah milik masyarakat Natuna yang dengan kesadarannya memberikan kepada Pengawas Perikanan Natuna untuk dilepasliarkan di alam. Pelepasliaran di alam untuk mendukung keberlanjutan dan kelestarian Napoleon di perairan Natuna.

“Sampai hari ini Napoleon tidak bisa dibudidayakan, pembesaran bisa tapi pemijahan belum.” ujar Agus.

Penyu merupakan spesies yang dilindungi karena keberadaannya terancam punah, sementara Ikan Napoleon termasuk dalam daftar CITES appendix II tahun 2004, yang terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan.

Selain itu, Kepala Kejaksaan Negeri Batam yang diwakili oleh Kasi Intel Kejaksaan Negeri Ranai David Joni, Danlanud Ranai Kolonel (Pnb) Prasetiya Halim, Kepala Dinas Perikanan Natuna Zakimin, serta Kepala Pangkalan PSDKP Batam Slamet hadir dalam kegiatan itu.

Sebanyak 25 ekor penyu hijau dan 5 ekor penyu sisik yang dilepasliarkan. Penyu ini barang bukti kasus pemanfaatan ilegal spesies yang dilindungi di Batam yang berhasil diungkap oleh Polair Polda Kepri.

Polair bekerja sama dengan Pangkalan PSDKP Batam, BKSDA Batam, Stasiun Karantina Ikan Batam dan BPSPL Tanjungpinang melakukan penanganan dengan menempatkan sejumlah 118 ekor penyu hidup di area penangkaran di Pulau Mencaras Batam.

Upaya tersebut juga didukung oleh Asosiasi Dokter Hewan Megafauna Akuatik Indonesia di Batam.

Sementara sebanyak 30 ekor penyu mati dilakukan pemusnahan pada 21 April 2019 di tempat pembakaran daging Karantina Pertanian Batam.

Untuk meningkatkan perlindungan terhadap spesies penyu dilindungi, KKP pada 2015 menerbitkan surat edaran kepada Pemerintah Daerah (Gubernur dan Bupati) untuk meningkatkan sosialisasi peraturan perundang-undangan yang terkait, disertai pembinaan dalam rangka penyadaran masyarakat guna melindungi penyu dari kepunahan.

Selain itu, Pemerintah Daerah juga diharapkan melakukan koordinasi dalam rangka pencegahan, pengawasan, dan penegakan hukum untuk pelaksanaan perlindungan penyu, telur, bagian tubuh, dan/atau produk turunannya; melakukan perlindungan habitat peneluran penyu; serta melakukan monitoring terhadap pelaksanaan program perlindungan penyu, telur, bagian tubuh, dan/atau produk turunannya. sholeh ariyanto/okezone.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com