SINDOBatam

Terbaru Spirit+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Tambang Liar Marak, Kerusakan Gunung Muncung Makin Masif

Tambang Liar Marak, Kerusakan Gunung Muncung Makin Masif

LINGGA – Kerusakan Hutan Lindung Gunung Muncung akibat tambang ilegal makin masif. Sebulan terakhir muncul penambangan timah di kaki gunung yang mestinya menjadi penyanggah hutan.

Empat mesin penyedot timah didirikan di sepanjang danau di kaki gunung. Penambangan ini disebut dilakukan warga lokal. Aktivitas tambang terlihat jelas dari pinggir jalan bila menuju Dabosingkep atau Singkep Barat. Namun belum ada tindakan tegas dari otoritas yang setempat.

Padahal, tambang ini mengancam Hutan Lindung dan mencemari sumber air di sekitaran gunung. Air kaki gunung yang sebelumnya jernih menjadi tercemar dan berubah warna menjadi kuning bekat bercampur lumpur.

“Sudah sebulan lebih mereka beraktivitas. Padahal jelas-jelas dilarang karena hutan lindung,” ungkap warga lokal, Dani, kemarin.

Menurut warga, tambang liar muncul akibat sedikitnya lapangan pekerjaan. Dengan bekerja sebagai penambang, mereka bsia menjual timah yang sedang mahal-mahalnya. Harga timah sekarang mencapai Rp100 ribu per kilogram.

Penambang ini disebut-sebut bekerja untuk penampung timah skala besar yang tidak asing lagi di kalangan warga Dabosingkep. Dia menerapkan sistem bagi hasil dengan warga penambang timah.

Hanya saja aktivitas mereka mengorbankan Hutan Lindung Gunung Muncung, terlebih kawasan itu menjadi sumber air bersih warga sekitar dari mata air Gemuruh.

“Malahan kolong yang dikeruk timahnya ini adalah sumber mata air cadangan PDAM Lingga,” sebut Dani.

Sebagian warga, menurut Dani, berharap pemerintah mengambil tindakan tegas sebab bila dibiarkan akan merusak lingkungan lebih masif. “Dinas Kehutanan dan polisi harus segera bertindak. Tambang ilegal mengancam hutan dan sumber air kami,” papar dia.

Sebagai gambaran, aktivitas tambang timah ini muncul di saat Pemkab Lingga tengah galak dengan pemegang izin usaha pertambangan yang tidak menjalankan jaminan reklamasi. Lahan di Lingga bolong-bolong karena ditinggal setelah habis ditambang.

Awal tahun ini, terungkap dana jaminan reklamasi di Lingga tidak jelas karena tidak pernah masuk ke kas daerah semasa Daria menjabat Bupati Lingga. Padahal semestinya dana disetor ke kas daerah paling lambat 10 Desember 2014. Tapi sampai sekarang hanya Rp19,9 miliar yang pernah masuk ke kas daerah.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com