SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Tawur Kesanga di Simpang Lagoi Meriah

  • Reporter:
  • Rabu, 29 Maret 2017 | 10:59
  • Dibaca : 524 kali
Tawur Kesanga di Simpang Lagoi Meriah
Salah satu peserta Pawai Ogoh-Ogoh akan berangkat di Simpang Lagoi, Teluk Sebong, Senin (27/3). m rofik

BINTAN – Patung raksasa jahat dibuat dari bahan kayu, bambu dan sterofoam disebut ogoh-ogoh atau celuluk atau buta kalla diarak berkeliling Simpang Lagoi, Teluk Sebong selanjutnya dibakar.

Ogoh-ogoh atau celuluk adalah leak (sebutan untuk mahkluk halus yang digambarkan memiliki perwujudan menakutkan) merupakan anak buah dari Rangda (Ratu dari pada Leak). Celuluk bercirikan wajah seram, mata berlubang, gigi besar runcing dan kepala botak bagian depan. Buah dada sebesar pepaya terlihat mengerikan.

Mengarak dan membakar ogoh-ogoh ini merupakan rangkaian ritual bernama tawur kesanga, Senin (27/3) malam. Salah satu ritual keagamaan dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Tahun 1939 Saka, jatuh pada Selasa (28/3).

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Bintan Nyoman Wiartha mengatakan, arak-arak dimulai dari terminal bus Simpang Lagoi, pos Lantas, SD dan Simpang UPT Dinas Pendidikan Simpang Lagoi.

“Pembakaran ogoh-ogoh di Simpang UPT Dinas Pendidikan Simpang Lagoi,” kata Nyoman.

Perayaan Nyepi sudah dimulai Sabtu (26/3) dengan rituaal melasti atau melelasti. Merupakan simbol penghanyutan kotoran alam dan batin manusia, menggunakan sumber air kehidupan atau tirta amerta. Dalam kepercayaan umat Hindu, sumber air dianggap sebagai tirta amerta adalah danau, laut atau telaga.

Umat Hindu Lagoi, mengambil air laut di pantai Suntuk, Lagoi, sambil melafalkan doa agar diberi kesucian saat melaksanakan catur brata penyepian. Beberapa sesaji yang telah dibawa, juga turut dipersembahkan dalam ritual pengambilan air ini. Bagi umat Hindu, upacara melasti merupakan awal dari rangkaian perayaan Nyepi.

“Upacara ini memang jadi satu rangkaian persiapan perayaan Hari Nyepi. Upacara melasti bertujuan untuk menyucikan diri sebelum melaksanakan catur brata penyepian,” terang Nyoman.

Setelah melasti, rangkaian upacara Hari Nyepi akan dilanjutkan dengan Tawur Agung Kesanga, diakhiri pembakaran ogoh-ogoh.

“Semua sifat jahat ikut dimusnahkan, pada pembakaran ogoh-ogoh ini. Harapannya, saat melakukan Nyepi, para umat Hindu sudah dalam kondisi suci,” ujarnya.

Usai Tawur Agung Kesanga, kata dia, umat Hindu memperingati Nyepi dengan pengamalan Catur Brata.

“Catur brata penyepian merupakan empat pantangan yang harus dijalankan saat melaksanakan Nyepi,” terangnya.

Pertama, brata amati geni, yakni tidak menyalakan api selama hari Nyepi, dimana api yang dimaksud adalah sifat-sifat kroda manusia, seperti amarah. Brata amati geni disimbolkan dengan pemadaman lampu selama satu hari. Hal ini patut ditaati dan dilestarikan sepanjang masa, namun tetap harus ada kebijaksanaan seperti adanya umat sakit, bayi atau orang berumur tua renta. Sedangkan penyalaan api untuk kepentingan pelaksanaan upacara pada Hari Raya Nyepi tetap boleh hingga batas sebelum matahari terbit.

Kedua brata amati lelanguan. Brata dimaksudkan bahwa pada hari Nyepi umat tidak boleh melaksanakan kegiatan berfoya-foya atau bersenang-senang. Hiburan selain membantu untuk menghilangkan kejenuhan secara tidak sadar akan membuat menjadi lupa diri dan terjerumus. Bila mampu umat sebaiknya melaksanakan puasa.

Ketiga, brata amati lelungan. Brata ini dimaksudkan bahwa pada hari Nyepi umat tidak boleh berpergian melainkan harus tetap diam di rumah. Ini untuk melatih pikiran kita agar tidak senantiasa liar tetapi selalu ingat ke dalam sebagai instrospeksi diri.

Keempat brata amati karya. Brata ini dimaksudkan bahwa pada hari Nyepi umat tidak boleh melakukan pekerjaan, namun bukan berarti sama sekali tidak berkegiatan. Kegiatan yang tidak boleh dilakukan adalah kegiatan yang bersifat judi yang harus dinetralisir dengan pengendalian pikiran.

Secara nyata catur brata penyepian ini dapat memberikan kontribusi terhadap pelestarian lingkungan khususnya mengurangi dampak pemanasan global, walaupun hanya dalam skala kecil dan area yang sangat sempit, bisa dibayangkan bila seluruh dunia melaksanakan catur brata penyepian maka polusi udara akan berkurang. Dari segi psikologis tentunya juga sangat berguna karena dapat menghilangkan kejenuhan dari tugas-tugas rutin.

“Dengan melakukan Nyepi, kami ingin merevitalisasi hubungan dengan Tuhan, lingkungan serta sesama manusia,” katanya.

Setelah Nyepi dan Catur Brata, umat melaksanakan Dharma Santi Ngembak Geni. Para umat Hindu saling bersalam-salaman.

Salah seorang pembuat ogoh-ogoh, Made Ardana mengatakan, pembuatan ogoh-ogoh memakan waktu satu bulan. Dibuat dengan bergotong royong. “Membuatnya ramai-ramai, sepulang kerja,” kata Made.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com