SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Teknologi Pertanian Dorong Produktivitas

  • Reporter:
  • Jumat, 9 Maret 2018 | 16:22
  • Dibaca : 434 kali
Teknologi Pertanian Dorong Produktivitas

JAKARTA –Masalah ketahanan pangan bukan hanya ada di Indonesia, tapi juga merupakan masalah dunia. Hal ini bisa diatasi dengan kemajuan teknologi untuk menciptakan produktivitas.

Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla mengatakan, pertumbuhan penduduk, keterbatasan lahan, urbanisasi, perubahan iklim, dan ketersediaan air menjadi tantangan sektor pangan. Tantangan-tantangan ini bukan masalah jangka pendek namun akan terus dihadapi di masa depan.

”Pertumbuhan penduduk yang meningkat mengakibatkan kebutuhan pangan terus naik setidaknya 3% per tahun. Kita harus siap meningkatkan produksi,” ujarnya pada pembukaan Jakarta Food Security Summit (JFFS) ke-4 di Jakarta, kemarin. Wapres mengatakan, tantangan selanjutnya adalah tren harga pertanian selalu naik.

Pada 2000, harga impor beras hanya USD170 per ton. Dalam 18 tahun terjadi kenaikan tiga kali lipat menjadi USD400 per ton. ”Dulu subsidi pangan hanya Rp1.500 per kg karena harga raskin waktu itu Rp3.000. Sekarang raskin tetap Rp1.500 per kg, tapi harga beras sekarang Rp10.000.

Jadi subsidi lebih berat akibat kenaikan harga pangan,” ujarnya. Jusuf Kalla menuturkan, pemerintah dan pengusaha harus berkolaborasi dalam menerapkan teknologi baru untuk mengatasi tantangan pangan. Menurut Wapres, banyak negara yang bisa meningkatkan produktivitas tanpa menambah lahan.

”Kalau di negara lain dengan teknologi mereka yang dimiliki, mereka bisa menghasilkan 8 ton padi per hektare (ha), sedangkan kita 5,5 ton padi. Tentu kita bisa sama 8 ton asalkan teknologinya sama,” ungkapnya.

JK memaparkan, tujuan dari peningkatan produktivitas bukan hanya memenuhi kebutuhan pangan namun juga meningkatkan pendapatan petani. ”Semua tantangan itu ada peluangnya. Artinya, apabila tahun ini masih impor beras, maka ada kesempatan memperbaiki produktivitas.

Kedua, kita harus memperbaiki data pangan,” tuturnya. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, dalam dua tahun terakhir ini pemerintah mencoba mengembangkan program klasterisasi lahan pertanian dalam meningkatkan produktivitas.

”Walaupun kita tahu di pangan tidak mudah mengembangkan itu. Tapi saya mengapresiasi yang sudah menjalankan. Dengan program klaster, maka para petani bisa bekerja sama. Klaster itu boleh namanya koperasi, boleh namanya kelompok, nggak ada masalah asal prinsip-prinsipnya berjalan baik,” ujarnya.

Darmin mengatakan, klaster dapat diterapkan pada teknik dan manajemen budi daya yang baik. Selain itu, klaster akan membantu pertanian dalam memilih bibit unggul. ”Kita lama sekali tidak terlalu peduli dengan bibit, terutama di perkebunan dan hortikultura. Karena pengembangan bibit itu mahal.

Dengan klaster ini bisa memperbaiki teknik dan manajemen budi daya yang lebih baik, bibit yang lebih baik,” katanya. Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, untuk meningkatkan produktivitas dalam jangka pendek, pihaknya akan mengoptimalkan lahan yang ada seperti lahan tadah hujan.

”Itu ada 50% lahan pertanian di Indonesia menjadi lahan tadah hujan. Biasanya tanam sekali dan sekarang bisa menjadi dua atau tiga kali,” ujarnya. Amran mengatakan, peningkatan produktivitas pada bibit unggul juga akan dilakukan. Selain itu, Kementerian Pertanian akan menambah distribusi alat mesin pertanian untuk menekan biaya produksi sebesar 30-40%.

”Kita beri alat mesin pertanian baru mulai dari traktor, combine harvester, dan rice transplanted. Ini kita berikan pada petani gratis. Tujuannya menekan biaya produksi 30-40%,” ungkapnya. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P.

Roeslani mengatakan, pertanian merupakan sektor paling tinggi dalam penyerapan tenaga kerja sekitar 47 juta. Di sisi lain, sektor pertanian menjadi penyumbang perekonomian terbesar kedua setelah industri pengolahan. ”Tetapi, dalam pertumbuhannya setiap tahun hanya 3-4% dari sektor pertanian, peternakan, dan dari pada petani.

Oleh sebab itu, Kadin melihat pemberdayaan petani menjadi hal krusial dalam mewujudkan pemerataan di Indonesia,” ujarnya. Rosan menuturkan, Kadin akan terus meningkatkan upaya mendorong kemitraan dengan petani yang pada saat ini berjumlah 387.098 jiwa.

Pada saat ini, Kadin akan terus berusaha mengembangkan konsep kemitraan dengan menerapkan sistem closed loop (mata rantai tertutup dan terintegrasi). Dalam sistem ini semua pemangku kepentingan akan dilibatkan aktif melalui ko ordinasi kelembagaan terkait.

”Bank harus mendukung perusahaan sebagai pembeli barang petani dan mendukung koperasi dalam memberikan pendampingan ke petani dengan bunga murah. Selanjutnya koperasi membantu mengupayakan pencairan kredit, peningkatan kualitas SDM,” tuturnya.

Dalam sistem ini, kata Rosan, perusahaan memainkan peran selain selaku off taker, juga memberikan pendampingan agar good agricultural practices dijalankan dengan baik.

”Kita membutuhkan kebijakan dari pemerintah yang mendukung sehingga produktivitas dan kesejahteraan petani semakin meningkat. Kita harap Indonesia tidak hanya swasembada pangan, tapi juga menjadi lumbung padi dunia,” ujarnya.

oktiani endarwati

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com