SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Telaten Menghadapi Anak-anak, Pernah Melayani Suku Laut

Telaten Menghadapi Anak-anak, Pernah Melayani Suku Laut
drg Juanna Soehardy. Foto Teguh Prihatna.

Lebih Dekat dengan Drg Juanna Soehardy, Ketua Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia Batam

Kiprah drg Juanna Soehardy di Batam sudah terekam sejak 31 tahun lalu. Di awal-awal, ia bertugas membawa mobil gigi dan keliling sekolah. Pernah melayani suku laut, kini dua periode sudah ia menjadi Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Batam.

Pintu ruangan Poli Gigi I Rumah Sakit Budi Kemuliaan (RSBK) sedikit terbuka, Jumat (21/4) siang. Seorang dokter perempuan mempersilakan masuk saat KORAN SINDO BATAM menyambangi poli itu. Tangan kanannya masih memegang sebuah pulpen hitam. Tampaknya dia baru saja menulis.

“Sudah ditunggu ni,” katanya lagi sambil tak lupa tersenyum.

Dia adalah Ketua Persatuan Dokter Gigi Indonesia (PDGI) Kota Batam drg Juanna Soehardy, MARS. Wanita berusia 55 tahun ini adalah salah satu saksi sejarah berkembangnya RSBK. Mulai dari masih berupa yayasan, berkembang menjadi rumah sakit besar seperti sekarang ini.

Awalnya Juanna tak pernah punya cita-cita menjadi dokter gigi. Dia lebih suka bermimpi menjadi dokter umum, seperti kebanyakan orang. Bahkan setelah lulus SMA di Jakarta, dia juga masih tetap ingin masuk fakultas kedokteran.

Namun saat itu beberapa teman dan kerabatnya memberikan pandangan-pandangan yang berbeda kepadanya. Jika dia masuk Fakultas Kedokteran di perguruan tinggi swasta, maka butuh waktu lama baginya untuk bisa lulus. Karena saat itu dia hrus mengikuti ujian negara untuk penyetaraan.

“Jadi kalau mau sampai jadi dokter, butuh 7 sampai 8 tahun. Lama sekali,” jelasnya.

Atas nasehat pamannya, akhirnya Juanna memutuskan untuk masuk ke Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Trisakti, Jakarta. Dia juga sebenarnya lulus masuk ke jurusan Elektro, namun hatinya sudah memutuskan ingin jadi dokter gigi.

Singkat cerita, dia berhasil memanggul profesi sebagai dokter gigi pada tahun 1986. Semua proses perkuliahan berhasil dia selesaikan dengan baik. Dia kemudian pindah ke Batam karena mengikuti orang tuanya yang juga hijrah ke kota industri ini.

Dua bulan di Batam, dia ditawari bekerja di Yayasan Pembina Asuhan Bunda milik Sri Soedarsono. Saat itu, yayasan memiliki mobil gigi keliling yang harus dioperasikan. Dia diberi tanggungjawab mengelola mobil gigi keliling tersebut sendirian.

Dia sempat kaget dengan tugas yang diberikan kepadanya. Saat itu Juanna masih minim pengalaman, tapi langsung dipercaya mengelola mobil gigi keliling tersebut sendirian. Mulai dari manajemen hingga melayani pasiennya.

Oleh Sri Soerdarsono, dia diperintahkan untuk mengoperasikan mobil tersebut dari sekolah ke sekolah. Karena itu, tiap hari dia berkeliling sekolah yang ada di Batam untuk melakukan pemeriksaan gigi. Dari TK, hingga SMA.

“Langsung dilepas begitu saja. Tapi di sana saya belajar banyak hal. Mulai dari administrasi sampai menghadapi guru di berbagai sekolah. Manajemen saya atur sendiri,” jelasnya.

Awalnya dia hanya sendirian keliling ke seluruh sekolah yang ada di Batam, tanpa ada bantuan perawat. Dia mengurusi segala kegiatan di mobil gigi in. Mulai dari pencatatan data pasien, administrasi, hingga penanganan pasien.

“Baru setelah beberapa bulan, ada asisten. Tapi bukan perawat gigi,” jelasnya.

Delapan tahun dia berkutat di mobil gigi keliling itu. Tak sedikit pun dia mengeluh. Bahkan menurutnya asyik bisa melayani keliling Batam menggunakan mobil itu. Apalagi karena peralatan medis kedokteran gigi yang ada di dalam mboil terbilang lengkap.

“Bahkan ada rontgen foto di mobil itu. Juga dilengkapi genset. Jadi praktik di mana saja bisa,” jelasnya.

Tentu saja apa yang dialaminya berbeda jauh dari ekspektasi sebagaian besar orang tentang praktik kerja dokter. Banyak yang menyangka, dokter pasti bekerja di ruangan nyaman berpendingin ruangan, dengan kursi empuk sambil mendengarkan keluhan pasien dari kursi empuknya.
“Di mobil itu tak ada kursi empuk, pendingin ruangan juga seadanya,” jelasnya.

Namun di mobil itulah dia ditempa menjadi dokter gigi yang tangguh. Dari sana dia belajar bagaimana mengalihkan perhatian pasien yang ketakutan jika berhadapan dengan dokter gigi. Apalagi jika pasien itu adalah anak kecil yang sudah ketakutan melihat alat-alat dokter gigi yang menyeramkan.

Pernah, dia menghadapi murid SD yang menangis karena takut. Satu kelas ikut menangis ketika satu temannya menangis ketakutan ketika berhadapan dengan dokter gigi ini.
“Dari situ saya belajar bagaimana cara penanganan-penanganan yang tepat. Kalau ada yang cabut gigi misalnya, jangan ramai-ramai. Cukup satu atau dua orang. Karena kalau satu nangis, semua juga ikut nangis,” ujarnya sambil tertawa renyah.

Tidak hanya menangani mobil gigi keliling, dia juga dipercaya melayani di Pulau Bertam. Sebulan sekali, Juanna naik kapal khusus ke Pulau Bertam, dan mengobati penduduk suku laut yang menghuni pulau tersebut.
“Saya pakai kapal yang ada kursi gigi di atasnya, jadi sebulan sekali merapat ke sana untuk memeriksa penduduk Pulau Bertam,” jelasnya.

Saat Balai Pengobatan Budi Kemuliaan buka di Nagoya, dia sempat diberi tanggunjawab ganda. Pagi hari hingga pukul 14.00, dia harus mengoperasikan mobil gigi keliling ke sekolah-sekolah. Sementara pada pukul 16.00-21.00, dia bertugas di balai pengobatan tersebut.

Di awal balai pengobatan tersebut berjalan, belum ada poli gigi untuk menjadi ruang kerja Juanna. Jadi semua pasien yang datang masih ditangani di mobil gigi keliling tersebut.

“Mobilnya diparkir di depan. Jadi pasien yang mau ditangani masuk ke mobil. Itu sampai tahun 1990,” jelasnya.

Proses yang dialaminya selama 8 tahun itu dia jalani dengan baik. Hingga kini, sudah 81 tahun dia mengabdi sebagai dokter gigi. Kariernya semakin menanjak, seiring dengan peningkatan kualitas dan kinerjanya.

Tahun 2011 dia dipilih menjadi ketua PDGI Kota Batam. Dia tak pernah berpikir bisa terpilih, karena kiprahnya di organisasi profesi itu ia anggap tak terlalu cemerlang. Hanya saja, dia sempat dipercaya menangani sebuah acara PDGI dan berakhir sukses.
“Sekarang saya sudah menjabat 2 perioe,” ujarnya.

Banyak hal yang dia lakukan unutk PDGI Kota Batam. Sasarannya adalah seluruh dokter gigi di Kota Batam mengantongi Surat Tanda Registrasi (STR) dan Surt izin Praktik (SIP). Ketika menjabat, masih ada dokter gigi yang belum mengantongi kedua dokumen tersebut.
“Saya harus lakukan pendekatan personal kepada mereka. Akhirnya, semua sudah punya STR dan SIP,” ungkapnya.

Saat ini sudah ada 180 dokter gigi di Batam. Seluruhnya telah memiliki STR dan SIP dan tersebar di seluruh kota Batam. Ada yang buka praktik dan klinik sendiri, ada pula yang bekerja di Puskesmas dan rumah sakit.

“Sekarang tak sulit lagi menemukan dokter gigi. Hampir semua klinik punya dokter gigi,” katanya.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com