SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Tembak Mati Bandar Narkoba Pilihan yang Rasional

  • Reporter:
  • Kamis, 8 Februari 2018 | 19:34
  • Dibaca : 313 kali
Tembak Mati Bandar Narkoba Pilihan yang Rasional

SINDO BATAM – Sikap tegas Polda Sumatera Utara (Sumut) terhadap pengedar narkoba, terutama sindikat jaringan internasional, patut diacungi jempol. Awal 2018 atau Januari lalu sudah enam pelaku ditembak mati karena berusaha melawan petugas saat diamankan.

Kini, bagi jajaran Direktur Reserse Narkoba (Dirresnarkoba), pengedar narkoba menjadi musuh utama. Tidak ada kata ampun bagi pengedar yang berusaha melawan saat diamankan, dor! Hal ini merupakan tindakan yang tepat dan diharapkan bisa jadi efek jera bagi bandar narkoba lainnya. Lebih dari itu juga menjadi peringatan bagi yang lainnya jangan coba-coba berbisnis barang haram. Pengedar hanya tahu mencari uang banyak yang cepat tetapi tidak mau tahu dampak sangat merugikan masyarakat, terutama merusak masa depan generasi muda. Sikap tegas jajaran Dirresnarkoba Polda Sumut diperlihatkan saat berusaha menangkap lima sindikat jaringan internasional pada Jumat, 5 Januari 2018 di Medan.

Namun, kawanan ini melawan dan akhirnya petugas melepaskan timah panas. Akibatnya, tiga tersangka tewas, yakni Chion Yoon Fah alias Acin, warga Malaysia; Tan Siong Tiong alias Tiong, dan Joni alias Aguan. Dari tangan pelaku polisi menyita 11 bungkusan sabu-sabu seberat 11 kg, 8 unit telepon seluler, KTP, dan paspor. Selang 17 hari kemudian atau pada Senin, 22 Januari 2018, petugas kembali mem – perlihatkan sikap tegas. Petugas menembak mati tiga kawanan bandar narkoba jaringan internasional di dua lokasi terpisah. Dalam penyergapan yang dilakukan tersebut, petugas menyita tiga bungkusan narkoba jenis sabu-sabu yang dikemas dalam teh China bertuliskan Guan Yin Wang pada Jumat, 19 Januari.

Selain menyita 4 kg sabu-sabu, petugas juga terpaksa menembak tiga tersangka di Percut Seituan, Deliserdang. Mereka adalah Baktiar M Isa, Ismuhar Z, dan Sobirin Sementara di Palembang, Kapolda Sumatera Selatan kemarin menggelar paparan tentang hasil penggerebekan bandar narkoba. Tidak tanggungtanggung, barang bukti yang diamankan seberat 20 kg sabusabu dari di dua tempat berbeda. ”Palembang bukan lagi transit, sudah menjadi pasar narkoba. Jadi ini sudah sangat darurat narkoba. Bandar rencananya akan mengedarkan 20 kg sabusabu di Palembang,” ujarnya.

Selain menyita 20 kg sabusabu, juga tiga tersangka diamankan, yakni M Arif, 48; Rahmad, 19; dan Lukman Wahyudi. Ketiganya merupakan jaringan komplotan pengedar. ”Dengan penangkapan ini sekitar 500.000 orang diselamatkan dari penggunaan sabu-sabu yang hendak diedarkan,” ujarnya didampingi Direktur Reserse Narkoba Polda Sumsel Kombes Pol Juni. Sabu-sabu seberat 20 kg asal Aceh tersebut didapat dari dua lokasi berbeda, yakni di kawasan Jalan Tegal Binangun, Kecamatan Plaju Darat, seberat 18 kg terbungkus plastik teh bertulis huruf China warna kuning silver tersimpan di dalam koper warna biru di sebuah kontrakan yang ditempati Arif dan lokasi kedua di Jalan Lettu Simanjuntak Gang Serasan, Kelurahan Pahlawan, Kecamatan Kemuning, petugas mendapatkan 2 kg sabu-sabu dibungkus dengan modus yang sama.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta Pane sangat mendukung langkah kepolisian yang melakukan tindakan tegas terhadap bandar narkoba bila melakukan perlawanan. Baginya, tembak di tempat bagi pelaku yang berusaha melawan petugas adalah pilihan yang rasional. Maraknya kasus penyerangan terhadap polisi yang dilakukan para bandar narkoba merupakan masalah serius. ”Kasus penyerangan ini terjadi saat pengungkapan narkoba. Ini menunjukkan narkoba berbahaya. Tak hanya barangnya, melainkan bandarnya,” kata Neta. Namun, Neta juga berharap pimpinan Polri harus memberikan apresiasi kepada anggota yang berhasil mengungkap jaringan pengedar narkoba dengan kuantitas barang banyak.

Sementara sosiolog dari Universitas Sumatera Utara (USU) Agus Suriadi mendukung tindakan tegas yang telah dilakukan Dirresnarkoba Polda Sumut. Baginya, sikap ini harus terus dipelihara dan dijaga. Ini disebabkan pengedar dan peredaran narkoba tentu masih tetap berlanjut. Dengan kondisi itulah tidak ada kata lain bagi petugas untuk terus memburu jaringan pengedar narkoba. ”Kita harus memahami bahwa pengedar narkoba itu merupakan extra ordinary crime yang sama dengan korupsi. Makanya itu perlu tindakan tegas,” kata Agus.

Agus menilai upaya menindak tegas bandar harus menyampingkan persoalan hak asasi manusia (HAM). Orang-orang yang terjun ke dunia bandar narkoba ini merupakan orang yang secara ekonomis menguntungkan pribadinya, tetapi sama sekali tidak memikirkan efek dari tindakan yang dilakukannya. Apalagi, bagi bandar narkoba yang sudah malang melintang menjalankan bisnis ini pasti sudah merasakan kenikmatan yang besar. Mereka tidak perlu mengeluarkan tenaga dan bekerja keras, tapi sudah bisa mendapatkan keuntungan yang banyak. Namun, dampaknya bisa membuat negara kehilangan generasi (lost generation ).

”Bandar narkoba ini tidak pernah memikirkan dampaknya kepada pemakai, yang penting bagi dia cepat dapat uang. Tindakan seperti ini seharusnya bisa menjadi warning dan efek jera bagi bandar narkoba ataupun pengedar lainnya. Apalagi, selama ini yang sering ditangkap itu hanya pengedar yang kecil-kecil, seharusnya memang bandar-bandar besar,” kata Agus. Hal senada diungkapkan psikolog dari Universitas Medan Area (UMA) Mustika Tarigan. Mustika mengatakan, tindakan yang dilakukan Dirresnarkoba Polda Sumut tentunya sudah sesuai standar operasional prosedur (SOP).

”Itu kan sudah sesuai dengan SOP. Jangankan bandar narkoba, penjahat sekalipun kalau tertang – kap dan melarikan diri serta melawan petugas tentu harus diberikan tindakan tegas,” ujar Mustika. Mustika berharap tindakan yang dilakukan tersebut dapat menjadi efek jera bagi pengedar narkoba lainnya. Ke depannya di Indonesia harus dibuat tidak ada sama sekali masa depan para pengedar maupun bandar narkoba. Begitu pun kata Mustika, untuk menghentikan jaringan bandar narkoba sangat berat. Apalagi, secara psikologis, dengan mudahnya mendapatkan uang dari jaringan ini mengakibatkan orang berani untuk mengambil risiko apa pun asal cepat mendapatkan yang diinginkan. Namun, tindakan yang dilakukan pihak kepolisian bisa menjadi terapi kejut sehingga bandar narkoba lainnya akan berpikir dua kali untuk berbuat.

”Tindakan yang dilakukan Dirresnarkoba Polda Sumut itu harus dilakukan demi menyelamatkan generasi bangsa. Apalagi, angka penyalahgunaan narkoba semakin tinggi bahkan menerpa anak-anak hingga orang tua mulai dari usia 10 hingga 50 tahun,” papar Mustika. Ketua DPW Perindo Sumsel Febuar Rahman mengajak seluruh komponen masyarakat agar waspada. Atas penangkapan sabu-sabu dengan barang bukti besar ini, membuktikan jika Palembang sudah menjadi wilayah untuk memasarkan narkoba.

”Nah, untuk masalah ini jangan hanya kita serahkan ke aparat. Tapi bagaimana semua pihak bergerak mencegah dan memberantas narkoba,” ujarnya. Narkoba, katanya, memang sudah menyasar semua golongan, tapi masyarakat bersama ormas kepemudaan harus berperan membentengi generasi muda agar tidak menjadi korban. ”Semua pihak, ormas, OKP, ayo bersama-sama menjauhkan generasi muda dari narkoba,” katanya.

Lia Anggia Nasution, Berli Zulkanedi

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com