SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Tetap Produktif selama Work From Home

  • Reporter:
  • Jumat, 27 Maret 2020 | 13:02
  • Dibaca : 293 kali
Tetap Produktif selama Work From Home
Warga beraktivitas di rumahnya di Kelurahan Mappala, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (25/3/2020). Sebagian warga di daerah itu mulai menerapkan "social distancingÓ atau menjaga jarak antar orang dengan mengurangi aktivitas di luar rumah sesuai himbauan pemerintah dalam mengantisipasi penyebaran virus corona (Covid-19). ANTARA FOTO/Arnas Padda/yu/hp.

Pegawai negeri sipil di Kepri dan sebagian pekerja swasta sudah lebih dari sepekan bekerja dari rumah. Kebijakan ini menjadi salah satu langkah mencegah penyebaran Covid-19. Mereka mencari cara agar tetap produktif.

 

Suasana jalan di bilangan Batam Center, Kota Batam, pekan lalu. /dok bp batam

 

Dewi, 29 tahun, seorang karyawan perusahaan aplikasi di Batam, tetap ingin produktif meski bekerja dari rumahnya sejak akhir pekan lalu. Kantor tempat ia bekerja, memberikan memberikan pilihan bagi karyawannya; mau kerja di rumah atau di kantor. Dewi belakangan memilih bekerja dari rumah. Ia pun lebih dulu sibuk menyiapkan alat kerja dan meja kerja khusus di rumah serta menyediakan multivitamin di rumahnya. “Biar tetap produktif dan rumah terasa kantor,” ujar Dewi. Bagi Dewi yang penting kerja dari rumah adalah komunikasi dan koordinasi. Ia pun selalu memantau Whatsapp Group tempatnya bekerja dari komputer jinjing atau ponsel. “Jangan sampai menghambat gara-gara kurang komunikasi,” sambung dia.

Ratih, karyawan perusahaan asuransi, juga sedang bekerja di rumah sambil mengurus anaknya yang masih SD. Kantor tempatnya bekerja bahkan menyediakan komputer jinjing untuk karyawannya agar bisa produkti bekerja di rumah.

Ratih harus membagi waktu mengurus pekerjaan kantor sambil mengawasi anaknya yang juga belajar di rumah sejak Pemko Batam menghentikan kegiatan belajar-mengajar. “Sedikit repot kadang-kadang,” tutur Ratih.

Patrick, seorang pegawai negeri sipil bagian kepegawaian di Sekretariat DPRD Kepri, mengaku mulai jenuh bekerja di rumah. “Jenuh juga sih di rumah sebenarnya. Selama ini kan mobilitas kemana-kemana. Sekarang dipaksa di rumah terus,” ujar dia.

Bagi Patrick, koordinasi dan komunikasi lewat laptop dan alat komunikasi penting demi manajemen pekerjaan dan tetap produktif selama bekerja dari rumah. Sejauh ini ia tak mengalami kendala dan kerepotan meski ikut mengurus dua anaknya di rumah bersama istri. Patrick bekerja dari rumah menggunakan komputer jinjing. “Setiap pekerjaan, kami koordinasikan lewat WAG (Whatsapp Group),” tutur dia.

PNS di Kepri mulai bekerja dari rumah sejak Selasa (17/3) pekan lalu. Sekretariat DPRD Kepri membagi tugas dan menyusun jadwal piket untuk pegawainya. PNS dapat bekerja bekerja di rumah tetapi dipastikan ada pejabat struktural yang bekerja di kantor. Setiap hari pegawai secara bergantian bekerja di rumah dan di kantor. “Kalau di bagian humas dan protokol, karena fungsinya pelayanan dan supporting, maka tunggu panggilan.

Kalau bagian administrasi, nanti masing-masing subbag yang bagi tugasnya. Kan ada laptop, tinggal dikirim. Intinya lebih enaklah di rumah,” jelas Patrick.

Patrick menjelaskan sesuai surat edaran Gubernur Kepri, tiap OPD wajib setiap hari, satu pejabatnya hadir di kantor, termasuk Sekretariat DPRD Kepri. Masing-masing Subbag minimal ada pegawai yang hadir di kantor. “Kecuali ada paripurna, setiap pegawai diharuskan hadir khususnya protokol dan humas,” ujar dia. Sedangkan untuk absensi karena dalam kondisi tanggap darurat, kehadiran pegawai di bawah pengawasan masing2 kassubbag/kasi.
Tapi dalam pelaksanaan bekerja dari rumah atau istilah work from home (WFH), tak semua bidang pekerjaan bisa dikerjakan di rumah. Chandra Gunawan, seorang jurnalis dan editor media massa, tak bisa bekerja dari rumah. Ia harus masuk kantor karena ketiadaan alat kerja yang ada hanya di kantornya. “Enggak bisa ditinggal, belum memungkinkan kerja dari rumah,” ujar dia. Termasuk juga Mardius, operator mesin percetakan. Ia harus tetap bekerja dari kantor juga faktor ketiadaan alat kerja dari rumah. “Enggak mungkin kerja dari rumah, enggak mungkin mesin cetak sendiri,” ujar dia.

Pekan lalu, Pelaksana Tugas Kepri Isdianto menyatakan wilayahnya dalam status tanggap darurat Covid-19. Ia menyerukan PNS bekerja dari rumah selama dua pekan hingga akhir Maret 2020. Sedangkan Pemerintah Kota (Pemko) mulai berlakukan kerja di rumah bagi pegawai khususnya pejabat eselon IV, fungsional dan pegawai non PNS. Kebijakan tersebut diberlakukan sampai 31 Maret 2020 mendatang, sebagai salah satu langkah antisipasi penyebaran coronavirus disiase (Covid-19).

Wali Kota Batam, Muhammad Rudi mengatakan kebijakan tersebut menindaklanjuti surat edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Surat Gubernur Kepulauan Riau. Para pegawai eselon IV, fungsional dan pegawai non PNS akan dilakukan penggiliran kehadiran sebagai jadwal yang disusun oleh pimpinan OPD.

“Sedangkan untuk pejabat selon II dan III wajib masuk kantor dan bekerja seperti biasanya,” kata Rudi, Minggu (22/3).

Kemudian seluruh kegiatan yang siaftnya mengumpulkan orang banyak seperti apel pagi, senam pagi, pegajian rutin dan kegiatan lainnya akan ditunda sampai waktu yang belum ditentukan. Apabila berdasarkan urgensi yang dan harus diselenggarakan rapat di kantor agar memperhatikan jarak aman antar peserta rapat.

“Dan menggunakan saran preventif seperti masker dan hand sanitizer,” kata Rudi.

Rudi mengingatkan agar pegawai yang sedang melaksanakan tugas kedinasan di rumah harus berada daam tempat tinggalnya masing-masing. Kemudian juga harus siap untuk dihubungi swaktu-waktu, kecuali dalam keadaan mendesak seperti untuk memenuhi kebutukan terkait pangan, kesehatan ataupun keselamatan, para pegawai harus melaporkan kepada atasannya langsung

“Bila kedapatan berada di tempat-tepat yang tidak semestinya akan diberikan sanksi berupa pemotongan tunjangan,” katanya.

Sedangkan untuk OPD pelayanan, seperti Dinas Kesehatan beserta UPT, RSUD, Satpol PP, Dinas Pemadam Kebakaran, Dinas Kependudukan dan Pencatatan sipil, Dinas Penanaman Modal dan PTSP, Dinas Perhubungan dan Kecamatan serta kelurahan diminta agar mengatur pola pelayanan masing-masing.

Pihaknya juga mengimbau agar dinas ke luar kota Batam agar dilakukan secara selektif dan sesuai tingkat prioritas. Untuk sementarra waktu pegawai juga tidak diperkenakan menjalankan cuti di luar Kota Batam, kecuali dala keadaan mendesak seperti sedang mendapatkan musibah keluarga ataupun yang lainnya.

“Bagi yang sedang melaksanakan perjalanan dinas dan cuti di luar Kota Batam maka wajib melakukan screening kesehatan di unit kesehatan terdekat saat tiba di Batam,” jelasnya.

Bekerja di rumah juga mulai diberlakukan oleh sejumlah perusahaan swasta, terutama perusahaan yang bergerak di sektor perhotelan dan restoran. Hal itu diberlakukan juga karena dampak Covid-19 yang membuat tingkat hunian hotel mengalami penurunan.

Ketua Asosiasi Pegusaha Indonesia (Apindo) kota Batam, Rafki Rasyid mengatakan sebagian hotel dan pelaku usaha yang berkaitan dengan pariwisata di Batam sudah mulai meliburkan dan merumahkan karyawan saat ini. Karena tamu yang begitu sepi saat ini.

Namun, untuk industri manufaktur yang menjadi tulang punggung perekonomian Batam belum ada laporan yang meliburkan ataupun merumahkan karyawan akibat adanya Covid-19. Pihaknya mengaku hanya dapat laporan kalau bahan baku masih tersendat dari luar negeri.

“Kami tetap menghimbau agar dunia usaha tidak melakukan PHK. Kita harus sama sama bertahan dan saling menjaga agar bisa survive dalam menghadapi kasus Covid-19 ini,” kata Rafki.

Untuk industri Batam yang orientasinya ekspor sebenarnya pelemahan rupiah dapat sedikit membantu biaya operasional yang dibiayai pakai rupiah. Namun jika bahan baku sulit di dapat, kita khawatirkan perusahaan bisa shutdown. Terutama bahan baku karena Malaysia yang saat ini melakukan lockdown.

“Para pengusaha berharap bahan baku dari China dan Singapura bisa lancar agar perusahaan di Batam tidak alami kesulitan dalam operasionalnya,” jelasnya.

 

Hingga saat ini pemerintah masih konsisten mengajak masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar rumah sebagai langkah memutus penularan mata rantai virus korona atau Covid-19.

Work from home (WFH) dan menjaga jarak sosial (social distancing) satu di antara langkah yang dinilai efektif untuk mengurangi jumlah penyebaran korona yang terus meningkat setiap harinya. Banyak perusahaan ?telah melakukan langkah WFH sebagai antisipasi penyebaran virus Covid-19 . Seperti Unilever, Coca-cola Indonesia, Danone Indonesia, PWC Indonesia, BMW Indonesia dan perusahaan-perusahaan lainnya.

Social distancing dan peraturan pemerintah untuk bekerja dan belajar dari rumah tidak sekadar sebagai jalan untuk memutus penyebaran Covid-19. Di balik kebijakan tersebut, tentu memiliki dampak psikologi tersendiri.

Menurut psikolog Elizabeth Santosa, social distancing tentunya memiliki pengaruh yang sangat banyak, tidak hanya pada orang dewasa, anak-anak pun akan mengalaminya. Contohnya saat diberlakukan kegiatan belajar dari rumah dan bekerja dari rumah. Tentunya rasa kecemasan itu akan ada dan ini juga akan dirasakan oleh anak-anak.

“Orang tua tentu merasa cemas dengan keadaan yang tidak stabil seperti harus mempersiapkan segala sesuatu dari rumah, bekerja dan membantu anak belajar. Tentunya membuat emosi tidak stabil dan hal itu akan menimbulkan rasa cemas dalam diri anak,” ungkap Elizabeth di Jakarta, kemarin.

Lalu, bagaimana cara menyikapi agar tetap santai dalam melakukan kewajiban tersebut? Elizabeth mengatakan, hal pertama yang dilakukan adalah orang tua tetap memiliki mindset atau pola pikir tetap bekerja dari rumah seperti biasa. Mengimplementasikan pola pikir tersebut dalam tindakan yang menunjang seperti kegiatan sebelum berangkat kerja.

“Jadi, kalau memang bekerja di rumah, tetap mindset-nya seperti bekerja di kantor. Bangun pagi, mandi, siapkan sarapan. Pokoknya melakukan kegiatan seperti biasanya,” jelasnya.

Secara emosional setiap individu mungkin memiliki respons yang berbeda terhadap pembatasan social distancing. “Bila hal ini dilakukan secara berkepanjangan, pastinya akan ada dampaknya seperti kesepian, kebosanan, frustrasi, atau ketakutan,” tegas Elizabeth.

Namun, untuk bisa mengatasi hal tersebut, Elizabeth menyarankan mencari kegiatan yang disukai selama berada di rumah. “Kita bisa mengalihkan kegiatan lain seperti memasak, membaca buku, melukis, atau menonton serial yang mungkin selama ini dilewatkan juga bisa menghilangkan kecemasan,” jelasnya.

Hal senada juga diungkapkan psikolog Novita Tandry. Dia mengatakan, demi menghilangkan rasa cemas berlebihan, bisa menyeimbangkan waktu dengan menggunakan kegiatan lain yang bermanfaat dan positif. ”Diri sendiri memiliki waktu luang agar tidak banyak terpapar terhadap pemberitaan yang kini sedang beredar,” cetusnya. Selama melakukan WFH, seseorang bisa menghibur dirinya, mulai dari mendengarkan podcast atau menonton video komedi. “Dengan mencari alternatif kegiatan yang menyenangkan untuk dikerjakan, maka pikiran kita tidak akan terobsesi hanya pada pemberitaan mengenai penyebaran Covid-19,” jelas Founder Nurture Teach Observe (NTO) itu.

WFH juga bisa dijadikan ajang untuk berolahraga lebih rutin. Olahraga juga bisa dijadikan sebagai satu di antara solusi sehat dalam menghilangkan kecemasan. Selain itu, olahraga juga bisa sebagai langkah pencegahan terhadap penyebaran virus. “Jangan lupa untuk tetap melakukan olahraga dan meditasi. Badan yang rileks serta segar akan membantu pikiran menjadi lebih tenang,” ungkapnya.

Aprilina Prastari, seorang remote working dan penulis buku Jangan Asal Resign untuk Ibu Bekerja, mengungkapkan, seseorang atau tim yang ingin bekerja dari rumah perlu menyiapkan diri menghadapi beberapa tantangan. Karena itu, seseorang harus mampu beradaptasi saat bekerja di rumah. “Ingat bahwa di rumah bukan berarti libur. Artinya, kita pun harus menyiapkan waktu kerja seperti bekerja di kantor,” tuturnya.

Bagi seorang pimpinan organisasi, kata dia, ada beberapa hal yang perlu dilakukan agar tim dapat bekerja dari rumah dengan baik. Ada beberapa platform yang bisa digunakan untuk bekerja jarak jauh. Namun, yang paling penting adalah membangun kesadaran tim bahwa bekerja dari rumah sama saja dengan bekerja di kantor. Bedanya hanya tempatnya.

Pakar virologi Indro Cahyono mengatakan, social distancing dan bekerja dari rumah untuk saat ini merupakan langkah yang paling baik, melihat semakin mudahnya virus korona ini menyebar. “Yang dilakukan pemerintah saat ini sudah benar, membatasi diri di wilayah yang virusnya sudah mulai tersebar bebas itu salah satu pencegahan yang terbaik karena mampu mengurangi paparan virus ke manusia yang masih belum terkena agar tidak tertular dan mampu menaikkan antibodi. Serta, memberikan waktu penyembuhan untuk yang sudah terkena dengan membatasi diri di dalam rumah,” tegas Indro.

Jika saja peraturan ini dijalankan dengan baik oleh masyarakat, maka orang-orang yang belum terpapar virus ini pun akan terjaga. Sementara yang telah terkena tidak akan menularkan kepada orang lain. “Sebaiknya untuk saat ini melakukan aktivitas dari rumah saja, tidak berkumpul di tempat umum. Hal ini untuk mengantisipasi sebaran droplet orang lain yang berpotensi terinfeksi,” jelasnya.

Indro menambahkan, harus ada peraturan yang jelas dari pemerintah daerah setempat untuk memberi informasi tentang batasan social distancing ini. Seperti dalam ruang tertutup hanya boleh beberapa orang, di ruang terbuka juga. Informasi ini tidak boleh lupa untuk disosialisasikan.

Wakil Sekjen Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Satriwan Salim mengatakan, terkait dengan kebijakan belajar dari rumah, pembelajaran yang diterapkan haruslah menyenangkan dan bukan dengan memberikan tugas-tugas yang justru membebani anak. “Pembelajaran yang bermakna itu adalah justru membuat siswa senang, bahagia, apa pun keadaannya, baik kondisi normal maupun khusus seperti ini,” katanya.

Kepala Dinas Kerja Provinsi DKI Jakarta Andri Yansah mengatakan, sampai saat ini sudah ada 220 perusahaan yang melapor ke dinas tenaga kerja untuk menginstruksikan karyawannya bekerja dari rumah. “Dari awal Pak Gubernur sudah mengimbau tujuan dari WFH ini untuk mencegah kemungkinan terburuk penularan virus Covid-19 kian meluas,” jelasnya kepada KORAN SINDO kemarin.

Para pelaku usaha juga diminta menyiapkan protokol kerja jarak jauh. “Kepada semua para pelaku usaha harus mempersiapkan diri untuk bisa menjalankan hal tersebut karena Jakarta sudah masuk dalam tahap tanggap darurat Covid-19,” tambahnya.

Meski bekerja dari jarak jauh, diharapkan para pekerja bisa terus berkontribusi secara produktif meski melakukan aktivitas bekerja di rumah. “Targetnya, walau melakukan aktivitas dari jarak jauh, Jakarta yang merupakan pusat ekonomi tetap bisa produktif. Dan, kegiatan social distancing serta WFH ini bisa menjaga potensi penularan yang semakin tinggi,” ungkapnya.

Melihat pemerintah yang telah mengambil langkah sigap dengan membatasi pergerakan di luar rumah. Pengamat kebijakan publik Agus Pambagio mengungkapkan, dirinya setuju apabila pemerintah memberlakukan bekerja dari rumah sebagai jalan membatasi penyebaran virus ini. Meski demikian, efektivitas dari kebijakan WFH juga sangat bergantung pada kesadaran masyarakat yang memang peduli akan kesehatan.

“Ini bisa dikatakan sebagai salah satu bencana besar dan serius, tetapi menurut pengamatan saya belum semua masyarakat mengerti dan menjalankan social distancing. Terutama pada masyarakat kelas menengah ke bawah,” ucapnya.

Agus menambahkan, sampai saat ini masih ada pekerja nonformal yang belum tergerak mengikuti kebijakan pemerintah untuk melakukan WFH. Jumlahnya sekitar 57% dari seluruh pekerja yang tercatat.

koran sindo/ahmad rohmadi/chandra gunawan

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com