SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Turunlah dari “Shidratul Muntaha” Dunia

  • Reporter:
  • Selasa, 18 April 2017 | 09:22
  • Dibaca : 694 kali
Turunlah dari “Shidratul Muntaha” Dunia
ilustrasi

Saat ini dalam kalender Hijriah 1438 kita berada pada salah satu bulan yang dimuliakan Allah, yaitu bulan Rajab. Sebagai umat Islam ketika mendengar kalimat Rajab, maka yang akan teringat adalah peristiwa besar yang dialami oleh Rasulullah Muhammad SAW, yaitu sebuah peristiwa yang dikenal dengan nama Isra’ Mi’raj.

Isra’ Mi’raj adalah peristiwa spektakuler yang dialami oleh Kanjeng Nabi Muhammad. Spektakuler dikarenakan perjalanan Nabi Muhammad (lebih tepatnya diperjalanan oleh Allah) dari tiga (3) tempat yang sangat jauh dalam waktu sehari semalam. Rasulullah SAW diperjalanan oleh Allah dengan Buraq dari Masjid Al Haram di Mekkah menuju Masjid Al Aqsha di Palestina. Kemudian menembus lapisan langit tertinggi bernama Shidratul Muntaha.

Selain pelajaran wajibnya melaksanakan dan mendirikan shalat lima waktu, sebenarnya ada pesan lain yang bisa dipetik, yaitu pesan tanggung jawab untuk mengemban peran dan menuntaskan amanah di bumi.

Nabi Turun dari Shidratul Muntaha
Menurut buku-buku sejarah kehidupan Nabi Muhammad (Shirah Nabawiyah) peristiwa Isra’ Mi’raj adalah “undangan” Allah untuk “menghibur” Nabi Muhammad yang telah merasakan berbagai macam kesedihan dan penyiksaan. Sebelum menuju Shidratul Muntaha Rasulullah telah kehilangan istri beliau, Khadijah binti Khuwailid dan pamannya Abu Thalib. Nabi sendiri menamakan tahun tersebut sebagai tahun duka cita (‘Aamul Huzni) karena begitu berat dan hebatnya penderitaan di jalan dakwah Nabi pada tahun itu.

Berkata Ibnu Hisyam : Setelah Abu Thalib meninggal, kaum Quraisy bertambah leluasa melancarkan penyiksaan kepada Rasulullah SAW. Sampai orang awam Quraisy pun berani melemparkan kotoran ke atas kepala Rasulullah SAW. (Sirah Nabawiyah; Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah SAW : Muhammad Sa’id Ramadhan Al Buthy : 108).

Selain itu telah mengalami penyiksaan demi penyiksaan. Yang terakhir (sebelum diperjalanan oleh Allah) yaitu penyiksaan oleh masyarakat Tha’if. Padahal saat itu Rasulullah datang saat itu untuk mencari perlindungan dan dukungan dari Bani Tsaqif. Yang didapatkan justru siksaan dari masyarakat Tha’if.

Namun apa yang terjadi? Setelah sampai di Sidratul Muntaha Rasulullah tidak lupa daratan. Padahal Shidratul Muntaha adalah tempat yang tidak ada tetesan darah dan air mata. Tempat yang nihil dari adanya penyiksaan demi penyiksaan. Di sana tidak ada tangisan, kelaparan dan ketidakadilan. Namun nyatanya Rasulullah SAW tetap untuk ke bumi mengemban amanah dakwah yang berat.

Nabi Muhammad lebih memilih untuk kembali ke bumi menemui sahabat-sahabatnya. Menyampaikan risalah kebenaran kepada kerabat, sahabat dan siapa saja untuk didakwahkannya. Rasul lebih memilih ke bumi untuk menuntaskan “perang” terhadapnya kemusyrikan dan keabsurdan lainnya. Meski risikonya yang akan dihadapi tidaklah ringan.

Kalian, Turunlah dari Sidratul Muntaha
Sastrawan Islam, Muhammad Iqbal menyentil model orang-orang egois dengan senandungnya. “Andai aku adalah Muhammad. Maka aku tak akan turun lagi ke bumi setelah sampai di Shidratul Muntaha”. Legenda sastrawan Islam dunia itu mengkritik orang-orang yang saat ini berada di “Shidratul Muntaha” dunia. Mereka terlena dengan nikmatnya dunia sehingga melupakan tugas sejatinya untuk melakukan perbaikan masyarakat.

Lantas siapakah mereka yang sedang berada di “Shidratul Muntaha” dunia? Mereka adalah para penguasa yang sibuk dengan kursinya yang empuk. Yang sibuk dengan urusan pribadi dan kelompoknya. Sampai jeritan rakyatnya tidak bisa mereka dengar lagi. Realitas di lapangan dengan jelas menggambarkan masyarakat kini semakin susah dalam bertahan hidup. PHK di mana-mana. Ekonomi masyarakat pun mengalami kelambatan, namun anehnya justru tarif listrik dinaikkan dengan berbagai dalih.

Lantas siapakah mereka yang sedang berada di “Shidratul Muntaha” dunia? Mereka adalah para anggota DPR tingkat kabupaten/kota, provinsi dan pusat. Tak ketinggalan mereka juga adalah anggota DPD yang baru saja mempertontonkan “film” buruk kepada rakyat.

Tentu yang dimaksud adalah anggota legistalif yang tidak memiliki integritas. Yang berpikir untuk kepentingan pribadinya. Yang tidak mau meningkatkan kapasitasnya untuk membela kepentingan rakyat. Anggota dewan yang justru buta dan tuli dengan nasib warga yang memilihnya. Anggota dewan yang tidak memahami tugas pokok dan fungsinya. Wakil rakyat yang dalam istilah orde baru hanyalah datang, duduk, diam dan uang saja yang dipikirkan.

Yang sedang di Shidratul Muntaha juga para pengusaha besar yang terus memeras tenaga pekerjanya dengan upah yang murah. Mereka yang terus memikirkan bagaimana keuntungannya kian menggunung tanpa mempedulikan karyawannya sejahtera atau sengsara.

Lantas siapakah mereka yang sedang berada di “Shidratul Muntaha” dunia? Mereka adalah para intelektual yang “asyik masyuk” dengan dunia diktatnya. Tidak lagi mau menengok ke bumi bagaimana masyarakat butuh ilmunya untuk mengangkat derajat mereka. Mereka juga para kyai, para asatidz yang sibuk melakukan ibadah transendental tanpa mau berpikir untuk mencari solusi umatnya. Mereka juga para mubaligh yang sibuk ceramah sana-sini tanpa pernah terpikir untuk “mengerami telur-telur” objek dakwahnya untuk menyambung generasi. Apalagi jika mereka adalah para mubaligh yang bergantung kepada “jatah makanan olahan” dari pendengar ceramahnya.

Posisi “Shidratul Muntaha” dunia juga berlaku bagi mereka yang sebagai tokoh masyarakat yang telah menjual kepercayaan rakyat untuk kepentingan sesaat pilkada, pemilu maupun pilpres. Masyarakat yang cepat mengeluh dan putus asa dan terus mengandalkan suapan dari orang-orang nir integritas juga masuk dalam kategori yang berada di Shidratul Muntaha dunia.

Kesimpulan
Rasulullah sangat paham risiko apa yang akan dihadapi ketika memilih untuk turun ke bumi. Harusnya seperti itu pula yang dipahami oleh para pejabat dan orang-orang yang ditakdirkan Allah menjadi menjadi bandul kehidupan.

Semua berharap orang-orang yang sedang berada di Shidratul Muntaha dunia itu adalah orang-orang yang siap menanggung amanah dan siap bertanggung jawab atas persoalan keumatan dan kebangsaan. Jika mereka mereka memilih seperti sang Nabi, insya Allah pasti gelapnya langit di Indonesia akan berganti cerah.

Jika Presiden, gubernur, walikota atau bupati mau turun dari “Shidratul Muntaha” pasti akan ada perbaikan di berbagai lini. Apabila penegakan hukum; jaksa, hakim dan polisi turun dari Shidratul Muntaha maka akan tercipta keadilan. Tidak ada cerita sumir sogok menyogok, tekan menekan dalam menyelesaikan suatu kasus.

Apabila wakil-wakil rakyat mau turun dari empuknya singgasana “Shidratul Muntaha” dunia niscaya tidak ada lagi rasa putus asa terhadap kondisi perpolitikan yang ada di negeri ini.

Andai para tokoh dan rakyat bahu membahu membangun optimisme, maka cerita perih rakyat akan mulai tersingkir seiring waktu. Semoga semangat Isra’ Mi’raj dapat menjadi motivasi untuk melukis peradaban yang lebih baik. semoga melalui momentum isra’ mi’raj semua komponen anak bangsa bisa mengambil peran untuk bertanggung jawab memberi kontribusi terbaiknya untuk kebaikan manusia. Wallahua’lam.

Penulis : Ibnu Syakir – Direktur Center for Madani Studies, Batam

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com