SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Wakili Kepri, Penampilannya Bikin Penonton Terharu

Wakili Kepri, Penampilannya Bikin Penonton Terharu
Jesen

Lebih Dekat dengan Jesen, Siswa SMA Bodhi Dharma yang Menjadi Penyanyi Mandarin Remaja Terbaik IV se-Indonesia

Usianya masih terbilang muda. Dia lahir pada 25 Oktober 1999 silam. Tapi prestasinya sudah cukup luar biasa. Tahun ini dia dinobatkan menjadi penyanyi mandarin remaja terbaik ke-4 se-Indonesia dalam ajang Shui Li Fang. Sebuah kontes bernyanyi bertaraf internasional.

Pilihannya terbilang tak biasa. Di usia semuda itu, Jesen lebih suka menyanyikan lagu lawas mandarin, ketimbang memilih alur musik mainstream seperti pop, rock atau alternatif lainnya. Pria belia ini senang menikmati barisan lirik yang menurutnya memberikan pesan kuat ketimbang lagu-lagu masa kini.

Pada final Shui Li Fang di Jakarta beberapa waktu lalu, dia menembangkan lagu Fu Qin, yang berarti Ayah. Lagu ini menceritakan pengorbanan seorang ayah demi keluarga dan anak-anaknya. Di mana sang ayah harus rela bekerja banting tulang siang dan malam, sampai terkesan tak punya waktu untuk anaknya.

“Saya belajar mengerti pengorbanan yang sudah dilakukan seorang ayah untuk anaknya. Banyak hal yang dia korbankan, termasuk waktu untuk berbagi kebahagian bersama keluarga, asal dia bisa mendukung anaknya sukses di masa depan,” ujarnya.

Lagu ini punya kesan mendalam bagi Jesen. Karena bagi dia, sosok ayah adalah pahlawan yang tak mungkin tergantikan. Di atas panggung Shui Li Fang, Jesen membawakan lagu ini dengan penuh penghayatan. Tak hanya 7 juri kelas internasional yang tersentuh mendengarnya bernyanyi, tapi tak sedikit pula penonton yang menitikan air mata mendengar lirik yang dibawakannya.

“Beberapa orang penonton mendatangi saya di belakang panggung. Mereka mengaku menangis mendengar lagu yang saya bawakan,” kata siswa SMA Bodhi Dharma itu.

Pilihan lagu ini jugalah yang membuat 4 juri dari China, 2 juri Indonesia dan seorang juri dari Singapura menobatkannya menjadi penyanyi lagu mandarin remaja terbaik keempat di seluruh Indonesia.

Namun prestasi adalah ganjaran setimpal dari kerja keras yang dipupuknya beberapa tahun belakangan. Kecintaannya bernyanyi bukan hanya proses emosi, tapi juga proses mengolah teknik yang telah dilakoni sejak usia 12 tahun.

Jesen memang lahir di keluarga keturunan Tionghoa. Namun kecintaannya kepada lagu mandarin baru lahir ketika dia menginjak usia 12 tahun. Awalnya Jesen senang memperhatikan salah satu tantenya bernyanyi lagu mandarin. Kebetulan tantenya itu juga senang tampil di panggung, sambil membawakan lagu-lagu lawas. Dari situ, hatinya tertarik untuk mencoba. Dia terdorong untuk bisa bernyanyi di atas panggung.

“Waktu itu saya masih kelas VII SMP,” ungkap anak pertama dari 4 bersaudara ini.

Sering melihat tantenya bernyanyi, diam-diam dia pun mulai senang berdendang. Namun dia belum mau menonjolkan kesukaannya terhadap dunia tarik suara. Sekedar bersenandung untuk memenuhi kesenangannya.

Kesempatan pertamanya unjuk gigi adalah ketika UIB mengadakan ajang Chinese Bridge. Dia memberanikan diri untuk tampil di atas panggung dan mengekspresikan kesenangannya menyanyikan lagu mandarin.

Walaupun tak mengantongi gelar juara pada lomba pertama ini, namun ada kelegaan dalam rongga dadanya. Dia menemukan dunia baru yang bisa membuatnya mengekspresikan isi hatinya secara bebas. Senang dan bahagia tampaknya terlalu sederhana untuk mendeskripsikan perasaannya saat itu.

“Saya tak tahu mau bilang apa. Tapi yang jelas, saya merasa ada pintu dan kesempatan baru yang terbuka lebar di depan,” jelasnya.

Lomba pertama berakhir tanpa gelar juara. Namun bukan berarti dia menyerah begitu saja. Jesen mengevaluasi kekurangannya dan mencoba memperbaikinya sendiri. Dia belum punya guru, atau mentor yang memberikannya masukan-masukan.

“Kebanyakan lihat penyanyi yang sudah bagus. Saya coba lihat bagaimana teknik mereka menyanyi,” jelasnya.

Setelah itu, Jesen rajin ikut lomba-lomba menyanyi lagu Mandarin. Setiap ada informasi ada lomba, dia langsung memburunya kemana saja. Dari festival dan lomba-lomba itulah dia bertemu seorang pria bernama Ko Ediyanto.

Ediyanto rupanya tertarik dengan warna suara Jesen yang unik. Menurut dia, Jesen punya kesempatan besar untuk jadi penyanyi mandarin kenamaan. Asal dia terus mengasah teknik bernyanyinya dengan tak jemu-jemu.

Mulai hari itu, Ediyanto kerap memberikan masukan-masukan kepada Jesen. Jesen pun mengimbanginya dengan waktu latihan yang cukup rutin. Setiap pagi, dia selalu latihan vocalizing untuk mematangkan teknik bernyanyinya.

“Jam 4 saya sudah mulai latihan olah suara,” ujarnya.

Setelah setahun latihan rutin, Jesen kembali menjajaki panggung festival menyanyi. Ini kali ketiga dia naik panggung, untuk mengukur sejauh mana peningkatanya selama melakoni setahun latihan. Hasilnya luar biasa, dia mampu menyingkirkan puluhan peserta, dan meraih tropi ketiga dalam lomba tersebut.

Jadi juara ketiga di konter bernyanyi lokal bukan impian terbesarya. Jesen masih punya seabrek cita-cita dan impian yang ingin diraihnya. Termasuk menaklukan panggung skala internasional. Tapi Jesen juga cukup bijaksana melihat kapasitas diri, sehingga titian prestasi juga ditapakinya sedikit demi sedikit.

Jesen rajin ikut festival bernyanyi lokal. Hingga dua tahun lalu dia diberi kesempatan untuk ikut kontes bernyanyi Shui Li Fang. Kontes ini menjaring bakat-bakat penyanyi dari seluruh Indonesia, untuk kemudian dikirim berlaga di Beijing setiap tahunnya.

Dua tahun lalu dia berlaga dengan puluhan remaja dari seluruh penjuru Indonesia. Namun panggung itu masih terlalu sulit ditaklukan. Dia pulang dengan tangan hampa, namun tak dengan kepala tertunduk lesu.

Dia kembali membuat catatan-catatan terkait kekurangannya bernyanyi. Dari situ, dia mulai menemukan banyak hal yang harus diperbaiki dalam teknik bernyanyi dan penguasaan emosi saat membawakan lagu.

Dua tahun dia membenahi dirinya. Dua tahun juga banyak perkembangan yang sudah dialaminya. Bulan lalu dia baru saja memboyong piala sebagai Juara II Lomba Nyanyi Lagu Buddhis Mandarin yang diadakan oleh Yayasan Buddha Tzu chi di DAAI TV Jakarta. Merasa sudah lebih siap tahun ini, dia kembali menjajal panggung Shui Li Fang. Jesen kembali berdiri mewakili Batam di panggung akbar tersebut.

Di babak penyisihan, Jesen bersaing dengan 25 peserta dari seluruh penjuru negeri. Dia sudah lebih tenang, karena sudah mempersiapkan diri sejak lama untuk panggung ini. Dia berhasil menjadi satu dari delapan peserta yang masuk ke final.

Juri hanya memberinya waktu 10 menit untuk mempersiapkan diri menuju pentas final. Banyak hal yang harus dipersiapkan, namun dia lebih memilih mempersiapkan suaranya agar lebih fit. “Saya tak pikirkan yang lain lagi,” jelasnya.

Setelah bernyanyi dia tak mampu lagi membendung kelegaan di hatinya. Dia berhasil mempesona hati juri dan penonton yang hadir memenuhi tempat acara. Turun dari panggung, dia disambut beberapa penonton yang mengaku terharu mendengarnya bernyanyi.

“Mereka menangis,” jelasnya.

Namun ini bukan akhir perjalanan Jesen. Berhasil mendapatkan predikat terbaik ke-4 belum membawa langkahnya menuju panggung internasional. Karena hanya juara pertama dan kedua dari kontes ini yang dipercaya mewakili Indonesia ke Beijing.

Jesen akan mempersiapkan diri untuk panggung berikutnya. Target selanjutnya adalah membawa nama Indonesia di pundaknya, dan mengharumkan nama bangsa ini di mata dunia. “Saya ingin juara di panggung Shui Li Fang Internasional,” tuturnya.

Ketua UIB Mandarin Centre Nicky mengaku, saat ini Jesen adalah penyanyi mandarin remaja terbaik di Batam. Dia tak merasa ragu sedikitpun ketika mengutus anak pertama dari 4 bersaudara ini untuk mewakili Kepri di kancah Nasional.

“Dia masih yang terbaik sampai saat ini,” jelasnya.

Nicky dan UIB Mandarin Centre memang konsen terhadap pembinaan bakat-bakat muda seperti Jesen. Tidak hanya Jesen, pihaknya akan terus mencari bakat-bakat baru untuk mengharumkan nama Kepri dan Batam dalam konteks bahasa mandarin.
“Kami support dalam semua hal,” imbuhnya.

Pemuda ini akan memeriahkan acara Dharmasanti Waisak dan Ulang Tahun Yayasan Buddhayana Batam ke-20 di Pacific Hotel, 17 Juni mendatang.

1 Komentar

  1. Jelin Minggu, 20 Januari 2019

Theme Portal Berita TUX_URL.com