SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Warga Malaysia Divonis 4 Tahun Penjara

  • Reporter:
  • Selasa, 4 April 2017 | 11:39
  • Dibaca : 452 kali
Warga Malaysia Divonis 4 Tahun Penjara
ilustrasi

BATAM KOTA – Muhammad Faizzal Rizza alias Acai, tekong TKI asal Malaysia bersama Sayudin alias Jatim alias Diki Sandi dijatuhi hukuman 4 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Batam, Senin (3/4). Vonis ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Yogi Nugraha.

Selain mengurangi hukuman selama 2 tahun, majelis hakim Zulkifli, Hera Polosia dan Iman Budi juga menurunkan hukuman subsider atas denda sebesar Rp2 miliar yang dituntut oleh JPU Yogi.

Dalam amar tuntutan JPU Yogi pada dua pekan lalu disebutkan, perbuatan kedua terdakwa dinilai telah merugikan korban yang dijanjikan bekerja ke luar negeri. Keduanya dituntut dengan hukuman 6 tahun penjara dan denda sebesar Rp2 miliar dengan subsider 6 bulan kurungan.

“Menjatuhkan hukuman kepada keduanya dengan hukuman penjara masing-masing 4 tahun dikurangi masa penahanan yang telah dijalani. Menjatuhkan hukuman denda sebesar Rp2 miliar dengan ketentuan bila denda tidak dibayar, maka masing-masing terdakwa wajib menggantinya dengan hukuman penjara selama 2 bulan,” kata Zulkifli.

Atas putusan tersebut, kedua terdakwa mengaku menerimanya. Sedangkan JPU Yogi mengaku akan mengajukan banding. “Saya sempat menyatakan pikir-pikir. Tapi saya akan banding dan akan segera saya sampaikan,” kata Yogi ditemui usai persidangan.

Sebelumnya, kedua terdakwa terseret ke persidangan bermula ketika Ani Rahayu dan Jumiah, dua TKI asal Medan mengaku dijual ke agen TKI Ilegal di Malaysia.

Bahkan, pada persidangan beberapa waktu lalu, keduanya mengaku dimintai uang ganti rugi sebesar Rp30 juta bila hendak berhenti bekerja sebelum masa kontrak berakhir.

Di hadapan majelis hakim kala itu, Ani Rahayu mengaku, dirinya mengenal Diki dari seorang rekan yang diketahui bernama Ira. Kala itu, ia menanyakan pekerjaan kepada Ira.

Lalu, Ira menawarkannya pekerjaan di salah satu restoran di Singapura. Karena diiming-imingi gaji yang cukup besar, Ani setuju dan berangkat ke Batam. Ia juga sempat menginap selama 3 hari di rumah Ira hingga akhirnya bertemu dengan Diki.

Diki menawarkan pekerjaan di Singapura dengan sistem potong gaji penuh selama 6 bulan. Namun, Ani tidak setuju. Diki kembali menawarkan pekerjaan di sebuah salon di Malaysia dengan perjanjian setelah satu bulan bekerja, Ani bisa kembali ke Indonesia. Keduanya pun sepakat dan Ani berangkat ke Malaysia bersama dengan Jamiah dan Diki.

Setibanya di Johor, ketiganya dijemput oleh Acai. Acai selaku tekong yang berada di Malaysia langsung mengambil paspor dan identitas kedua korban lainnya. Lalu, Acai menjual keduanya kepada tekong yang ada di Malaysia.

“Waktu itu, saya tahunya dari tekong di rumah Apek yang ada dj Malaysia. Saya bilang mau berhenti kerja, tapi dia marah dan bilang kalau dia sudah beli saya dari Acai, ” kata Ani.

Bila hendak berhenti bekerja, lanjut Ani, ia diharuskan membayar biaya ganti rugi dengan nilai yang cukup besar, yakni Rp30 juta. “Saya setuju, tapi saya bilang harus hubungi keluarga dulu. Saya mau hubungi keluarga, tidak diizinkan. Ponsel saya juga disita,” kata Ani lagi.

Hingga akhirnya, Ani melarikan diri dari tempat penampungan tersebut. Ia lalu bertemu dengan seorang tukang bangunan yang akhirnya membantu kepulangannya ke Indonesia.

Hal senada juga disampaikan Jumiah. Ia mengaku telah dijual Acai senilai 15 ribu Ringgit Malaysia. “Orang yang di Malaysia itu yang bilang kalau dia sudah beli saya, jadi saya harus bekerja selama 2 tahun,” katanya.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com