SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

‘Wartawan Jahat’ Peraih Pulitzer

‘Wartawan Jahat’ Peraih Pulitzer
David Fahrenthold

Dunia dikejutkan dengan pemberitaan yang ditulis David Fahrenthold, wartawan harian The Washington Post, di masa-masa kampanye Presiden Amerika Serikat 2016 lalu. Bahkan, Trump sampai memusuhi Fahrenthold, dan menjulukinya sebagai ‘Wartawan Jahat’ lantaran menguak kegiatan Yayasan Trump dengan Partai Republik.

Tak dinyana, reportase detail David Fahrenthold kala itu, malah mengantarkannya meraih penghargaan tertinggi bagi insan pers, Pulitzer 2017 kategori berita nasional. Penghargaan Pulitzer sendiri diberikan sejak 1917 oleh Joseph Pulitzer, penerbit surat kabar asal Hungaria, yang menyumbangkan seluruh kekayaannya bagi para wartawan. Setiap 20 pemenang masing-masing menerima hadiah USD15 ribu atau setara Rp199 juta, berikut selembar penghargaan serta medali emas yang disampaikan di Universitas Columbia, pengelola dana Pulitzer.

Reuters menulis, pemberitaan yang ditulis Fahrenthold telah mendorong terciptanya model jurnalisme transparan dalam melakukan pemberitaan kampanye politik, termasuk kritikan terhadap setiap isu. Adapun model reportase yang dilakukan Fahrenthold, ia susun bersama tim secara gamblang, padat data dan beragam, hingga membuat para juri menjadikan ia layak diganjar dengan penghargaan bergengsi Pulitzer. Jurnalis lulusan Universitas Harvard, ini secara sistematis mengungkap fakta yang ada selama masa kampanye, tanpa dipengaruhi pihak-pihak lain.

Fahrenthold harus menjalani proses mewawancarai ratusan sumber guna memastikan apa yang ia tulis merupakan fakta kuat dan layak diberitakan, bukan sekadar gosip. Reportasenya mulai ditulis Mei 2016. Dengan konsisten dan tekun, Fahrenthold memverifikasi dan menganalisa semua informasi yang diperolehnya. Semua informasi yang didapatkan lewat akun Twitternya, ia coba konfirmasi dan kembangkan satu persatu. Dari sinilah, Fahrenthold dan rekan-rekannya di Washington Post, selama kurang lebih selama empat bulan menyusun liputannya dengan detail dan data-data yang padat.

Selama kurun waktu itu, Fahrenthold telah menghubungi dan bertemu lebih dari 400 sumber utama. Dari ratusan sumber tersebut, hanya satu yang mengonfirmasi mereka benar telah menerima sumbangan pribadi dari Trump antara 2008 dan Mei 2016. Keuletan Fahrenthold membuatnya berhak menerima penghargaan tertinggi yang diidam-idamkan banyak jurnalis.

Apa yang diraih Fahrenthold tahun ini menjadi penghargaan ketiga kali bagi The Washington Post. Harian The Washington Post sendiri sehari-hari dicetak 477 ribu eksemplar. Pada 2015, salah satu harian terbesar di AS dengan 740 wartawan itu, juga meraih Pulitzer untuk liputan penembakan oleh polisi di AS. Harian ini juga pernah meraih Pulitzer setelah berhasil membongkar kasus Edward Snowden pada 2014.

Namun, The Washington Post masih kalah dibandingkan harian The New York Times, yang meraih tiga Pulitzer tahun ini, masing-masing untuk kategori liputan luar negeri tentang upaya Presiden Vladimir Putin melebarkan kekuasaannya. Lalu, laporan panjang mengenai profil seorang veteran marinir AS yang mengalami depresi berat, dan kategori fotografi yang merekam pembunuhan pemadat narkoba di Filipina.

Dalam akun Facebooknya, Fahrenthold mengaku apa yang ditulisnya hingga mengantarkannya meraih Pulitzer, merupakan sebuah pertualangan besar dan penuh risiko, namun banyak memberikan pelajaran. Sebagai jurnalis yang sehari-hari fokus ke isu-isu politik dan pemerintahan, Fahrenthold tetap berhati-hati dan memastikan semuanya berjalan sesuai kaedah-kaedah jurnalistik. Selain itu, Fahrenthold mengakui dorongan serta bantuan rekan-rekannya yang masuk menjadi tim, membuatnya tetap semangat mengakhiri kisah apa yang ia mulai tulis sejak Mei 2016 lalu.

Pegang Teguh Prinsip dan Tekun
Kemampuan Fahrenthold menyajikan reportase detail dan renyah bukan seketika datang. Sejak kuliah, jurnalis kelahiran Houston ini sudah mulai menekuni dunia pers. Selama menjalani masa kuliah, putra dari pasangan Jeane dan Peter Fahrenthold ini menulis untuk The Harvard Crimson. Baginya, apa yang layak ditulis meski sulit, bukan hal yang patut ditakutkan.

Fahrenthold lulus dari Harvard pada 2000, dengan mendapat banyak pujian karena ketekunannya dalam menulis. Setelah lulus, ia langsung memulai profesi sebagai jurnalis dengan bergabung di The Wangshington Post. Pada 2005, Fahrenthold menikahi Elizabeth Lewis seorang konsultan bisnis di McLean. Keduanya bertemu ketika hadir dalam pertemuan rutin alumni Harvard. Ayah Lewis adalah Harry R Lewis, seorang profesor ilmu komputer dan mantan dekan Harvard.

Fahrenthold sendiri lahir 3 Januari 1978, dengan nama lengkap David Alan Fahrenthold. Ia besar dari keluarga yang memang menekuni hal-hal detail. Ayahnya adalah seorang analisis bisnis di Houston. Sementara Jeane, sang ibu merupakan guru matematika di salah satu sekolah swasta. Lingkungan keluargalah yang mendorong Fahrenthold tumbuh berkembang menjadi seorang dengan prinsip kuat dan tekun menyelesaikan apa yang ia mulai. Ratusan tulisan sejak mahasiswa membuatnya tidak puas. Keuletannya sejak mahasiswa inilah yang mengantarkannya menjadi jurnalis terbaik di tahun ini.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com