SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Agar Kesejahteraan Merata hingga Pulau Terluar Indonesia

  • Reporter:
  • Sabtu, 14 September 2019 | 15:34
  • Dibaca : 2911 kali
Agar Kesejahteraan Merata hingga Pulau Terluar Indonesia
Wali Kota Batam Muhammad Rudi meninjau hasil RTLH di Karas, beberapa waktu lalu. /DOK SINDO BATAM

Pemerintah tengah getol membangun infrastruktur di seluruh wilayah Indonesia. Tak terkecuali di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Wilayah yang berbatasan langsung dengan Singapura itu juga sedang menggalakkan pembangunan. Namun, hal itu tak hanya terfokus di pulau utama (mainland), tapi juga merata hingga ke pulau penyangga (hinterland). Diharapkan, pembangunan ini bisa mengakselerasi pertumbuhan ekonomi, sekaligus meratakan kesejahteraan hingga ke warga di pulau terluar Indonesia.

Fadhil, Batam

Alias (56), tersenyum lebar saat menerima replika kunci rumah berbahan gabus dari Wali Kota Batam, Muhammad Rudi, pertengahan 2017 lalu. Warga Pulau Karas, Kecamatan Galang, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) itu adalah salah satu penerima bantuan renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) dari Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsos-PM) Kota Batam. Kala itu, ada 49 RTLH lain di kampungnya yang juga direnovasi.

Meski lokasi rumahnya tidak berubah, tapi bagi Alias, bangunan yang baru direnovasi itu bak rumah baru. Karena, kondisi rumahnya memang berubah total dibanding sebelum direnovasi.

“Tadinya papan, sekarang semen semua,” kata bapak tiga orang anak ini semringah.

Selain dari segi bahan dasar, luasan rumah juga mengalami perubahan. Menurut Alias, tempat tinggalnya kini sedikit lebih besar dari bangunan sebelumya.

“Agak mending dari yang kemarin ukurannya. Ditentukan Dinas Sosial itu 6×6 meter, tapi dibuatnya 8×6 meter. Alhamdulillah, cukup bahannya,” kata dia.

Pria yang berprofesi sebagai nelayan ini mengatakan, bantuan yang diberikan Dinsos-PM Kota Batam bukan dalam bentuk uang tunai. Melainkan bahan bangunan seperti semen, pasir, batako, seng, balok kayu, pintu, dan jendela.

Pengerjaan rumah barunya ini dilakukan dengan bantuan masyarakat sekitar secara gotong royong. Waktu penyelesaian berkisar dua pekan. Proses pembangunan dilakukan bertahap per ruangan. Sehingga, keluarganya tetap bisa menempati rumah itu selama renovasi berlangsung.

Selain Alias, warga Pulau Karas lainnya yang mendapat bantuan renovasi rumah adalah Ira. Ibu dua anak ini menempati rumah panggung di atas laut. Sehingga, bahan bangunan yang ia terima berupa seng, papan triplek, balok kayu, dan paku. Sama seperti Alias, rumah Ira juga dibongkar habis.

Alias dan Ira hanya dua contoh warga di pulau penyangga (hinterland) Batam yang mendapat bantuan renovasi rumah dari pemerintah. Selain di Kecamatan Galang, bantuan renovasi RTLH juga diberikan bagi warga hinterland yang tinggal di Pulau Bulang di Kecamatan Bulang, dan Pulau Belakangpadang di Kecamatan Belakangpadang, Kota Batam.

Pulau Belakangpadang masuk sebagai salah satu pulau terluar di Indonesia, karena berbatasan langsung dengan Selat Singapura, yang memisahkan Indonesia dengan negara tetangga, Singapura.

Tahun 2019 ini, Pemko Batam kembali merenovasi 55 RTLH di pulau penyangga, yakni Pulau Belakangpadang, Bulang, dan Galang. Tujuan program ini tak lain untuk pengentasan kemiskinan, sekaligus memeratakan berkah pembangunan, sehingga bisa menjangkau hingga ke warga yang tinggal di pulau-pulau kecil dan terluar di perbatasan negara tersebut.

Kepala Dinsos-PM Kota Batam, Hasyimah mengatakan, penerima bantuan renovasi RTLH ini ditentukan dari usulan lurah. Kemudian, diverifikasi oleh konsultan sesuai persyaratan yang ada. Sehingga, pihaknya memastikan bahwa penerima bantuan RTLH adalah masyarakat yang kurang mampu. Dengan bantuan ini, diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan hidup masyarakat yang tinggal di pulau-pulau kecil tersebut.

“Rumahnya ada yang di atas laut, ada yang di darat. Ada penilaiannya semua,” kata Hasyimah.

Sasaran penerima bantuan RTLH berdasarkan beberapa kriteria antara lain, dilihat kondisi kerusakan atap, lantai dan dinding (aladin). Setiap rumah, kata dia, akan mendapat bantuan Rp25 juta untuk renovasi. Terdiri dari, Rp22 juta untuk bahan bangunan, dan Rp3 juta upah tukang.

Hasyimah menegaskan, progam RTLH merupakan bagian dari komitmen Pemko Batam untuk memberikan kesejahteraan masyarakat yang merata dan menyeluruh. Karena itu, ia berharap penerima bantuan RTLH ke depannya bisa hidup dengan lebih baik.

“Mudah-mudahan dengan adanya program RTLH ini dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Batam, karena sekarang mereka bisa fokus bekerja untuk meningkatkan ekonomi keluarga,” ujar Hasyimah.

Selain renovasi RTLH dari Dinsos-PM Kota Batam, program serupa juga dilaksanakan Dinas Perumahan Rakyat, Permukiman, dan Pertamanan (Disperakimtan) Kota Batam. Tahun ini, sebanyak 190 RTLH di wilayah pinggiran Batam seperti di Kecamatan Sagulung dan Seibeduk, mendapat Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) yang merupakan program dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Kepala Disperakimtan Kota Batam, Eryudhi Apriyadi mengatakan, setiap rumah yang mendapatkan bantuan masing-masing akan menerima sekitar Rp17,5 juta. Jumlah ini dinilai meningkat jika dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya sekitar Rp15 juta.

“Tahun lalu ada 188 rumah tak layak huni yang mendapatkan bantuan ini, tahun sekarang ada 190 rumah,” kata Eryudhi.

Program BSPS ini merupakan kegiatan pemerintah pusat. Anggarannya disalurkan dalam bentuk Dana Alokasi Khusus (DAK) reguler. Eryudhi mengatakan, proses rehabilitasi rumah diimulai pada April lalu.

BSPS sudah tiga tahun terakhir dilaksanakan. Penerima program diambil dari data warga miskin yang ada di Kementerian Sosial. Data ini diserahkan oleh tiap kelurahan. Bagi yang lolos verifikasi akan diminta untuk melengkapi berkas administrasi. Seperti KTP, Kartu Keluarga, bukti kepemilikan bangunan, dan legalitas lahan.

Menata Kota demi Berkah Pariwisata

Selain meratakan akses pembangunan hingga ke pulau penyangga, Pemerintah Kota (Pemko) Batam juga tengah gencar menata infrastruktur kawasan perkotaan Batam sejak tiga tahun terakhir. Seperti, pembangunan dan pelebaran jalan protokol, mulai dari kawasan perdagangan di Nagoya hingga pusat pemerintahan di Batam Center.

Beberapa ruas jalan kini makin lebar. Jika dulu akses jalan terbatas hanya dua jalur di kanan dan kiri dengan masing-masing hanya punya satu atau dua lajur, kini berubah total. Masing-masing jalur setidaknya telah memiliki tiga hingga lima lajur, lengkap dengan pedistrian dan area penghijauan di sekitarnya. Bahkan, di beberapa ruas jalan, ada dinding pembatas yang sengaja dihias dengan lukisan mural yang makin menambah estetika.

Luasnya jalan dan tertatanya kawasan tentu saja disyukuri masyarakat dan para pengguna jalan di Batam. Salah satunya, sopir taksi Bluebird Batam, Agus Zainudin.

“Sekarang jarang terjebak macet, tamu juga enggak banyak komplain,” katanya.

Tak hanya itu, menurut Agus, sejak infrastruktur Batam ditata, banyak tamunya yang sebagian di antaranya adalah wisatawan mancanegara (wisman) asal Singapura dan Malaysia, mengaku kagum dengan transformasi wajah Batam tersebut. Mengingat, beberapa tahun lalu kondisi dan lalu lintas di Batam memang terlihat semrawut, dengan titik macet yang bisa dijumpai di berbagai penjuru.

“Sekarang bisa sedikit berbangga menceritakan Batam atau menawarkan beragam pilihan objek wisata,” ungkapnya.

Beberapa ruas jalan di Batam yang telah dilebarkan antara lain; Jalan Raja Haji Fisabilillah Batam Centre, Jalan Ahmad Yani yang menghubungkan Batam Centre dengan Seibeduk, Jalan Pembangunan Nagoya, Jalan Raja Ali Haji Jodoh, Jalan Kompleks Bumi Indah Nagoya, Jalan Teuku Umar Nagoya, Jalan Gajah Mada di sekitar kawasan Tiban, Kecamatan Sekupang, dan sejumlah jalan lain yang sudah ditata sedemikian rupa.

(atas) Suasana Jalan Raja Haji Fisabilillah, Batamcentre sebelum dan sesudah dilebarkan oleh Pemko Batam. (bawah) Jalan Sriwijaya, Pelita. /DOK SINDO BATAM

Pembenahan infrastruktur ini nyatanya tidak hanya menambah keindahan kota dan mengurai kemacetan saja, namun juga ada dampak ekonomi yang dirasakan warga di sekitar kawasan jalan yang dilebarkan tersebut.

Seperti, pengakuan warga yang tinggal di sekitar kawasan Kelurahan Lubukbaja Kota, Kecamatan Lubukbaja, Kota Batam.

“Dulu jalan ini satu arah, sekarang jadi dua arah dan makin ramai. Sejak itu dagangan saya juga mulai ramai lagi pengunjungnya,” kata Siti Khadijah, pemilik warung nasi di salah satu rumah toko (ruko) di Jalan Teuku Umar, Nagoya.

Sebelum dilebarkan, jalan itu dulunya hanya bisa dilalui oleh pengendara dari arah Kantor Telkom, Pelita, Lubukbaja menuju pertigaan Jalan Raden Patah, Lubukbaja. Namun kini, pengendara dari arah Jalan Raden Patah bisa melewati Jalan Teuku Umar jika ingin menuju ke Kawasan Nagoya.

“Sekarang juga sudah banyak ruko-ruko di sekitar sini yang dulunya banyak tutup, sekarang mulai buka usaha lagi,” ujarnya.

Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) atau Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia Batam, Andika Lim mengatakan, upaya Pemko Batam membangun infrastruktur memang memberikan kemudahan dalam mobilitas warga, termasuk juga para wisatawan yang datang ke Batam.

“Turis tidak buang-buang waktu di jalan, jadi bisa melihat lebih banyak tempat,” kata Andika.

Bahkan, bagi para pemandu wisata, luasnya jalan yang tak macet juga memudahkan mereka untuk memprediksi waktu kunjungan wisata dari satu tempat ke tempat lainnya. “Yang penting jangan dilupakan untuk memelihara daya tarik yang sudah ada dan perlu menambah daya tarik baru,” ia menganjurkan.

Tak lupa, Andika juga mengingatkan pentingnya edukasi kepada seluruh masyarakat Batam untuk ikut menjaga dan membuat turis nyaman selama berada di Batam. Sehingga, makin banyak wisatawan yang datang dan dampaknya juga positif bagi pergerakan ekonomi di kota ini.

Wali Kota Batam Muhammad Rudi mengungkapkan, upayanya membangun infrastruktur di Batam punya banyak tujuan. Selain untuk mempercepat laju ekonomi masyarakat dan mengurai kemacetan, pembangunan infrastruktur juga penting bagi dunia pariwisata.

“Infrastruktur ini penunjang, dengan jalan yang tidak macet, wisatawan suka dan Batam juga makin cantik,” kata Rudi.

Dalam tiga tahun terakhir, Pemko Batam memang terus melakukan pembangunan infrastruktur seperti jalan beserta fasilitas pendukungnya. Selain itu, kawasan bisnis dan perdagangan seperti di Kompleks Bumi Indah Nagoya, juga ikut ditata.

Tak lupa, destinasi wisata untuk menarik kunjungan wisatawan lokal maupun mancanegara juga jadi perhatian dan ditata oleh pemerintah kota. Pasalnya, dengan destinasi wisata yang makin menarik, otomatis bakal banyak wisatawan yang datang dan mengeluarkan uangnya di Batam.

“Semua kami benahi. Tapi yang paling menonjol dilihat oleh masyarakat adalah pembangunan jalan ini,” ujar Wali Kota.

Saat ini, kata dia, Pemko Batam juga sedang membangun Pulau Putri, yang termasuk pulau kecil terluar di Indonesia, untuk dijadikan salah satu destinasi wisata baru yang lebih atraktif.

“Kalau Pulau Putri itu jadi cantik dan kita kelola, wisatawan banyak datang maka nanti penambang (pengemudi) boat pancung (kapal kayu) bisa ikut ketiban berkah mengantar wisatawan menyeberang ke pulau itu,” tutur Rudi.

Rudi berharap, kunjungan wisatawan terus meningkat setiap harinya dan akan berdampak signifikan terhadap ekonomi di Batam. Mulai dari sektor perhotelan, kuliner, transportasi dan lainnya.

“Kalau mereka datang, uang akan berputar dan akan berdampak juga kepada ekonomi masyarakat Batam,” kata Rudi.

Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batam mencatat, sebanyak 1.086.796 wisman mengunjungi Batam hingga Juli 2019 lalu. Jumlah ini naik dibandingkan periode yang sama di tahun 2018, yang kala itu dikunjungi 1.044.309 wisman.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam Ardiwinata mengatakan, kunjungan wisman dari bulan ke bulan pada tahun ini mengalami peningkatan jumlah. Dengan tren positif ini, ia optimistis target kunjungan wisman ke Batam hingga akhir tahun mampu dicapai.

“Target kita sampai akhir tahun 2,4 juta kunjungan wisman, itu sesuai target dari Kementerian Pariwisata,” kata Ardiwinata.

Kepala Dinas mengungkapkan, sejak Agustus lalu, banyak event-event pariwisata yang menjadi magnet bagi wisman agar berkunjung ke Batam, sudah mulai digelar. Kemudian, saat perayaan Tahun Baru nanti sejumlah event baik dari pemerintah maupun swasta juga diyakini bakal menjadi magnet bagi wisman.

“Kita diuntungkan letak yang berseberangan langsung dengan negara tetangga, sehingga wisatawan yang berkunjung ke Singapura dan Malaysia bisa kita datangkan ke Batam dengan adanya event-event menarik,” ujar Ardiwinata.

Ardiwinata menambahkan, pembangunan jalan merupakan daya dukung untuk perkembangan dunia pariwisata. Pembangunan infrastruktur oleh Pemko Batam, sambungnya, tentu tidak hanya jalan saja. Sejumlah taman dan fasilitas lain seperti pedestrian, menambah area penghijauan, juga terus dilakukan.

Bahkan, Pemko Batam juga tengah membangun Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah, yang digadang sebagai masjid terbesar se-Sumatera. Nantinya, masjid ini juga akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti pusat kajian keislaman, membran payung yang bisa membuka dan menutup seperti di Masjid Nabawi Madinah, menara pandang setinggi 99 meter, dan masih banyak lainnya.

“Kita akan tawarkan wisata religi, namun masjid ini juga bisa dikunjungi wisman nonmuslim,” ujar dia.

Semua ini, kata Ardi, sangat dibutuhkan untuk menunjang dunia pariwisata Batam, yang menjadi penyumbang wisman tertinggi ketiga se-Indonesia setelah Bali dan Jakarta ini.

“Ini sangat penting bagi pariwisata yang menjadi lumbung ekonomi baru bagi Batam. Tentu ini memiliki dampak bagi perekonomian nasional maupun untuk warga secara langsung,” ujarnya.

Rp1,3 Miliar Bangun Infrastruktur Perumahan Warga

Selain pembangunan infrastruktur untuk jalan protokol, Pemko Batam juga mengucurkan anggaran untuk perbaikan jalan hingga ke kawasan perumahan dan seluruh kelurahan di Batam.

Sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Batam, jalan lingkungan dan jalan kawasan perumahan harus tuntas dibangun pada 2021 mendatang. Karena itu, Pemko Batam menganggarkan dana lewat program Percepatan Infrastruktur Kelurahan (PIK) yang jumlahnya tiap tahun meningkat.

“Saat ini, dana PIK Rp1,3 miliar untuk tiap kelurahan,” ujar Rudi, saat bertemu warga di Kelurahan Belian, Kecamatan Batam Kota, beberapa waktu lalu.

Karena itu, ia berpesan agar dana itu digunakan dengan sebaik-baiknya untuk pembangunan wilayah. “Silakan dirembuk melalui Musrenbang (Musyawarah Rencana Pembangunan) dengan baik, utamakan yang prioritas. Dan kepada camat, lurah, LPM (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat), RT, RW, jangan pilih kasih. Ini untuk kita semua,” katanya.

Khusus PIK, kata Rudi, memang diprioritaskan untuk mulai dikerjakan di awal tahun. Sehingga, pelaksanaannya bisa selesai sebelum akhir tahun.

Masuk sebagai Kota Termakmur Nomor 2 di Indonesia

Kota Batam menjadi salah satu kota termakmur di Indonesia berdasarkan hasil penelitian tentang Indonesia City Prosperity Index 2019 atau Indeks Kemakmuran Kota. Indikatornya soal produktivitas, upah minimum dan infrastruktur.

Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Real Estate Indonesia merilis hasil penelitian tentang Indonesia City Prosperity Index 2019 atau Indeks Kemakmuran Kota. City Prosperity Index merupakan metode yang dikembangkan oleh UN-Habitat untuk memonitor implementasi dari Sustainable Development Goals (SDGs) dan New Urban Agenda.

Ketua Umum DPP Persatuan Real Estate Indonesia (REI) Soelaeman Soemawinata menyatakan bahwa dalam CPI terdapat enam indikator yang diukur untuk menentukan kemakmuran suatu kota.

Keenam indikator yang dimaksud adalah produktivitas, pembangunan infrastruktur, kesetaraan dan inklusivitas sosial, kualitas hidup, keberlanjutan lingkungan, legislasi, dan postur kelembagaan kota.

Adapun, dalam menentukan penilaian untuk Indonesia CPI 2019, terdapat 21 kota yang diteliti oleh DPP REI.

Dari hasil penelitian yang dilakukan, Denpasar adalah kota yang paling makmur di Indonesia. Kemudian, diikuti Batam, Balikpapan, dan Tangerang Selatan.

“Denpasar sebagai kota paling makmur di Indonesia memperoleh skor 60,20 CPI yang artinya masih masuk dalam kategori moderately solid,” ujar Eman, sapaan akrab Soelaeman.

Ketua DPD Real Estate Indonesia (REI) Khusus Batam, Achyar Arfan menjelaskan biasanya tingkat kemakmuran itu dihitung berdasarkan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dibagi dengan jumlah penduduk. Karena itu pihaknya menilai sangat memungkinkan jika Batam masuk sebagai kota termakmur di Indonesia.

Karena, upah minimum kota (UMK) Batam saat ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Jawa ataupun luar Jawa.

“UMK kota Batam cukup tinggi di Indonesia, artinya kalau korelasinya semakin besar pendapatan masyarakat semakin makmur maka wajar jika Batam masuk kota termakmur,” katanya.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Batam, Rafly Rasyid mengatakan bersyukur Batam menduduki nomor dua dari 21 kota yang disurvei oleh REI dari angka CPI-nya. Melihat hasil penelitian tersebut ada 6 indikator yang dinilai yaitu produktivitas, pembangunan infrastruktur, kesetaraan dan inklusivitas sosial, kualitas hidup, keberlanjutan lingkungan, serta legislasi dan postur kelembagaan kota.

“Menurut saya yang menonjol dari Batam dibandingkan dengan kota lainnya di Indonesia adalah produktivitas dan pembangunan infrastrukturnya,” kata Rafky. ***

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com