SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Bercadar di Kampus

  • Reporter:
  • Kamis, 8 Maret 2018 | 16:36
  • Dibaca : 417 kali
Bercadar di Kampus
Sudjito Atmoredjo, Guru Besar Ilmu Hukum UGM

Tiada maksud memihak sia pa pun dalam urusan bercadar. Sejujurnya, kita prihatin atas munculnya kembali isu bercadar. Terlebih, isu ini berasal dari salah satu universitas negeri Islam ternama di Yogyakarta.

Isu sedemikian seksi dan sensitif ini telah ber kembang luas. Disadari atau ti dak, isu ini telah mencoreng mu ka umat Islam sendiri. Masalah nya bisa menjadi genting, apa bila kebijakan larangan berca dar itu merembet ke per gu ruan tinggi lain. Isu yang bersifat lo kal-universitas bisa ber kembang menjadi isu nasional. Ini sa ngat tidak sehat dan perlu sege ra diredam. Berbagi pemikiran tentang ber cadar merupakan cara bagus me mahami isu yang tergolong “abu-abu” atau multitafsir ini. De ngan cara demikian di ha rapkan ada feedback dan titik temu atas berbagai pemikiran yang ber beda-beda. Secara di alektika, ketika ada tesis bahwa ber cadar di kampus itu salah dan ka – re nanya dilarang, maka di pastikan ada antitesis bahwa ber cadar di kampus itu boleh, bahkan wa jib hukumnya.

Ketika tesis di hadapkan dengan antitesis, ti dak semestinya berlanjut men ja di konfrontasi dan pe nihil an satu pihak atas pihak lainnya. Perlu sikap bijak, int e lektual-akademik, dan ber wa wasan sosial-kebangsaan agar dida pat kan sintesis yang diterima ber sama. Kehidupan sosial-ke – bang saan akan menjadi nyaman ketika proses dialektika telah membudaya. Cadar adalah kain penutup wa jah muslimah sebagai ke satu an dari jilbab (hijab). Bercadar ada l ah cara berpakaian untuk me nutupi aurat. Di dalam Islam ti d ak ada mazhab mana pun meng haramkan muslimah berca dar. Menutup aurat itu hukum nya wajib. Aurat perempuan adalah seluruh anggota badan, kecuali muka dan kedua tela pak tangan.

Aurat itu wajib ditu tup, disembunyikan, dan haram orang bukan mahram melihatnya. Inilah substansi yang per lu dipahami. Dalam konteks bercadar di ruang sosial-kebangsaan (misal: di kampus), sangat mungkin muncul riak-riak sebagai impli kasinya. Riak-riak itu bisa posi tif. Misal, diterimanya banyak pi hak sehingga bercadar membu daya. Akan tetapi, riak-riak itu bisa pula negatif, antara lain mun culnya sikap sinis, curiga, ba h kan dituduh sebagai bibit ra dikalisme. Sudah tentu amat be rbahaya bila riak-riak itu s eba gai isu pinggiran dibiarkan be r kembang liar, liberal, tanpa ada upaya pengendalian diri, dan tanpa ada upaya me mi ni – ma lisasi agar ke nya man an kehi dup an so sial-kebangsaan tak ternodai.

Bercadar itu sehat dan in dah. Sehat dalam keutuhannya men c akup: sehat roha ni, jas ma ni, dan so sial. Perempuan ber c a dar dapat di ka takan se hat ro ha ni bila d ila kukan atas dasar ke – iman an, pengamalan ajar an aga ma Islam, ser ta sebagai ben tuk ke patuhan pada Allah SWT dan rasul-Nya. Ber adar di la ku kan de ngan niat dan ke sa daran se matama ta demi ridha Allah SWT. Bercadar de mikian men jadi in dah karena meru pakan pan caran indahnya keiman an da lam hati nurani. Ketika hati nurani sehat, maka sikap, pe ri la ku, dan amalan apapun akan se hat dan indah. Berbeda halnya bila bercadar de ngan niat lain.

Misal, untuk me nunjukkan identitas diri sebagai penganut mazhab, golong an, dan kelompok tertentu. Se i ring dengan itu, kemudian ber sikap eksklusif. Apalagi meno lak pergaulan dengan ma nusia lain. Bercadar dengan motiva si demikian, tergolong sesat, ti dak sehat, berpenyakit, dan meng ganggu lingkungan. Dimensi sosial-kebangsaan amat penting diperhatikan da – lam bercadar. Sebagai makhluk sos ial, setiap muslim-mus limah harus dapat ajur-ajer, tepasalira, empan-papan, dan mampu berinteraksi dengan lingkung an sosialnya secara luwes. Bang sa Indonesia amat ma jemuk dalam soal sosial-ke agama an.

Niat baik bercadar tidak me s ti dapat dipahami sebagai ke baikan semua pihak. Dalam ke terbatasan ilmu dan wawasan, ada penguasa, tokoh aga – ma, anggota masyarakat yang su udzon, termakan isu-isu ping gir an, terjebak riak-riak pe ma kai an cadar, dan lalai te rha dap substansinya. Gara-gara isu larangan berca dar, masyarakat luas kini seakan terperangkap di dalam se buah “turbulensi religius”, yak ni kesimpangsiuran pemaha m an tentang ajaran ber cadar. B-e nar atau salah perihal ber cadar, di aduk-aduk, diseret ke sana-ke mari, dan tiada jelas muara nya. Turbulensi religius mu ncul ke tika agama di hilang kan nilai-ni lai kesakral annya. Dogma-dog m a agama di – ang gap tidak ada lagi. Semua orang boleh tam pil sebagai “ah li agama”.

Da lam konteks so sial-k e bang sa an, agama ditempatkan di ko ri dor se ku leris me. Mereka in ter ven si, men dekonstruksi, bah kan mem permainkan dalil-dalil aga ma untuk kepentingan-kepentingan duniawi semata. Per mainan-permainan politik de ngan objek-objek institusi aga ma–seperti ca dar–dil ak u – kan sedemikian intens melalui pen dayagunaan media. Media main stream (televisi, koran, ra d io), maupun media sosial (Whats App, FaceBook, Twit – ter, dan lainnya) menjadi alatalat per mainan canggih untuk me mo rak-porandakan sta bi litas ma syarakat penggunanya.

Dalam kondisi demikian, pen ting diingat pernyataan JF Lyo tard dalam Just Game (1990) bahwa keputusan apa – pun yang dikenakan pada perem puan bercadar akan di konta minasikan oleh kepentingan po litik. Bercadar di kampus di bo lehkan ataukah di larang me r u pakan sikap po litik, bukan si kap kea gamaan. Karenanya, s i kap sabar dan tawakal pada umat Islam perlu diperluas dengan pemahaman tentang tur bulensi religius dan per main an-pe rmainan politik itu. Sungguh bagus bila pengua sa, tokoh agama, maupun pe rem puan bercadar mampu menjauhkan diri dari sikap aro gan ataupun an tagonis. Ke de pan kan s ikap intelektual-aka de mis, re ligius, dan ber wa wa san so sial-kebangsaan.

Jangan sok Islami, jangan sok moderat, dan jangan sok berkuasa. Kem ba lilah ke tuntunan Islam se ca ra kaffah. Isu dan polemik bercadar se be narnya sudah basi. Tak perlu di angkat lagi. Islam adalah agama rahmatan lilalamin.Dari pada nya terpancar kesejukan, cah aya cerah, dan keindahan bagi se mua pihak. Polemik bercadar akan lenyap ketika umat Islam se hat dan cerdas dalam ber inter aksi di ruang sosial-ke bangsa an. Wallahualam.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com