SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Gemerlap Shanghai dan Sejuknya Kota Hohhot

  • Reporter:
  • Rabu, 2 Oktober 2019 | 20:03
  • Dibaca : 279 kali
Gemerlap Shanghai dan Sejuknya Kota Hohhot
Suasana kota Shanghai di malam hari.

MENGUNJUNGI China seperti melihat masa lalu dan masa akan datang. Modernisasi tak membuat negeri ini mengesampingkan hal lampau. Kombinasi kuno dan futuristik adalah kekuatan pariwisata China.

DEDEN ROSANDA, China

Hari belum terlalu siang ketika pesawat Cathay Pacific yang membawa kami dari Hongkong tiba di Bandar Udara Internasional Beijing, Senin, 16 September lalu. Kira-kira jam 10.20 waktu setempat. Dan perjalan berpesawat udara dari Singapura-Hongkong-Beijing ini belum berakhir.

Kami hendak ke Hohhot, kota otonom di wilayah Inner Mongolia, sebelah utara China. Setelah transit beberapa jam, pesawat akhirnya take off sekira jam 15.30 dan tiba di Bandara Hohhot 2 jam kemudian.

Rombongan disambut Pejabat Kantor Urusan Luar Negeri Hohhot di Bandara Hohhot.

Tak semegah lapangan terbang Beijing memang, namun bandara Hohhot cukup eksotis. Banyak taman bunga. Dedaunan hijau di mana-mana.

“Selamat datang di Hohhot,” kata Qi Muge, pejabat Kantor Urusan Luar Negeri Hohhot sambil mengalungkan kain biru khas Mongolia kepada rombongan kami.

Suhu udara kota di ketinggian 1.065 meter dari permukaan laut ini sangat sejuk. Sore itu sekitar 18 derajat celcius. Pagi hari bisa 8 derajat celcius. Menggigil jika tak pakai jaket tebal. “Salju turun mulai Desember hingga awal tahun,” kata Qi.

Saat musim dingin, kota Hohhot diselimuti salju cukup tebal. Suhunya minus 5 hingga minus 11 derajat celcius.

Hohhot adalah kota termaju di Inner Mongolia. Baru sekitar 10 tahun wilayah berpenduduk sekitar 3 juta jiwa itu ditata. Presiden China Xi Jinping menginginkan kota itu menjadi kota industri modern yang cantik. “Presiden ingin memajukan Inner Mongolia. Ia mendorong kami untuk bekerjasama dengan berbagai pihak dan mengembangkan potensi yang ada untuk kesejahteraan masyarakat,” ujar Qi.

Jamuan makan malam di Hohhot.

Bangunan maupun rumah lama yang usang di tepi jalan kota itu dibongkar, diganti dengan yang baru oleh pemerintah untuk kemudian diserahkan kembali ke pemiliknya. Uangnya dari pemerintah. Toko-toko diatur, diserasikan. Terkesan seragam, tapi tertata rapi.

Modernisasi wilayah ini juga mengedepankan keasarian lingkungan. Taman-taman bunga dibangun di banyak titik. Jalanan kota ini hijau. Pejalan kaki mendapat hak yang semestinya dan pesepeda punya jalur tersendiri.

Di Hohhot, kami yang berangkat atas undangan Konsul China untuk Indonesia berkedudukan di Medan, mengunjungi sejumlah tempat menarik. Kami ke Museum Inner Mongolia, kantor perencanaan pembangunan pemerintah setempat, hingga salah satu pabrik susu terbesar di China, Yili.

Museum Inner Mongolia yang berarsitektur modern menyimpan benda-benda bersejarah zaman purba hingga era-era dinasti. Di antara koleksi paling memukau di museum itu adalah fosil Dinosaurus setinggi 16 meter dengan panjang 28 meter. Itu adalah fosil dinosaurus terbesar yang pernah ditemukan di Inner Mongolia.

Pabrik susu Yili di kota Hohhot.

“60 persen fosil ini asli, sisanya replika karena tidak ditemukan dalam kondisi utuh,” kata pemandu sejarah museum itu.

Museum ini juga menyimpan kepingan perunggu yang jadi mata uang pertama dalam aktivitas perdagangan di China pada masa Dinasti Qin. Ada pula gold burial mask alias topeng emas yang dicetak dari wajah para ratu, baju prajurit dan peralatan perang khas bangsa Mongol.

Qi Muge, pejabat Kantor Urusan Luar Negeri Hohhot ingin kami mengenal bangsa Mongolia lebih dalam. Dibawalah kami ke padang rumput Inner Mongolia di perbukitan sekitar 3 jam perjalanan menggunakan minibus. Karena sedang musim gugur, rumput-rumput di wilayah itu mulai menguning.

Seperti ditarik ke masa lampau. Di padang rumput Inner Mongolia terdapat banyak perkampungan asli suku Mongolia. Rumahnya kecil-kecil, berbentuk silinder. Atapnya rendah berkubah. Mereka menyebutnya gubuk.

Di sepanjang jalan di hamparan padang rumput, masih banyak kuda-kuda berlarian liar. Ada juga domba maupun sapi. “Silakan mencoba naik kuda Mongolia. Walaupun tubuhnya lebih kecil dari kuda pada umumnya, tapi kuda Mongolia sangat kuat. Terutama untuk perjalanan jauh,” kata Qi.

Suku Mongol adalah bangsa nomaden. Hidupnya berpindah-pindah. Itulah mengapa orang Mongol belajar berkuda sejak kecil. Mereka sangat ahli. Pasukan kuda bangsa ini salah satu yang terkuat di dunia.

Abad 13-14 adalah masa kejayaan suku Mongol. Banyak wilayah yang telah mereka taklukkan. Kekuasaan mereka membentang di Jalur Sutera sejauh 15 juta km2, dari Asia hingga Eropa. Cerita ratusan tahun silam itu jadi kebanggan bangsa Mongol, selamanya.

Gemerlap Shanghai

Tiga hari di Hohhot, kami terbang ke Shanghai. Butuh 2,5 jam untuk sampai ke kota kelas dunia itu. Shanghai adalah kota paling modern dan pertumbuhannya tercepat di China. Lebih pesat dari Beijing. Berpenduduk 26 juta jiwa, wajah utama Shanghai adalah gedung-gedung pencakar langit, transportasi canggih dan ekonomi yang sibuk.

Kota Shanghai dibelah Sungai Huangpu sepanjang 90 kilometer. Satu bagian disebut Shanghai lama dan satu bagian lagi, di kawasan Pudong, disebut Shanghai baru. Pemerintah China membangun 16 terowongan di bawah Sungai Huangpu untuk menghubungkan Shanghai lama dengan Shanghai baru. Sementara di atas terowongan, ratusan kapal-kapal besar lalu lalang di sepanjang jalur sungai itu.

Senja di kota Shanghai.

Pudong merupakan wilayah pengembangan yang sangat pesat pembangunannya. Dari kota ini, China seolah ingin menunjukkan bahwa mereka sejajar dengan negara-negara maju di Eropa bahkan Amerika Serikat. Shanghai Tower adalah simbolnya. Gedung setinggi 632 meter yang mulai digunakan tahun 2016 itu adalah gedung tertinggi ke-2 di dunia, di bawah Burj Kalifa, Dubai dengan tinggi 828 meter.

Tak hanya menjulang, Shanghai Tower adalah gedung yang memamerkan kemampuan China dalam pengembangan teknologi. Lift yang digunakan di gedung ini merupakan yang tercepat di dunia. Untuk mencapai puncak Shanghai Tower setinggi 632 meter itu, lift tersebut melesat dalam waktu 35 detik. Dari atas Shanghai Tower, kita bisa melihat hamparan gedung dan lalu lalang kapal yang menjadi kekuatan ekonomi dan pesatnya pembangunan China.

Sungai Huangpu Shanghai.

Jika di siang hari kota ini terlihat sangat sibuk dengan aktivitas ekonominya, di malam hari, kota ini terlihat indah karena “atraksinya”. Kaca-kaca di gedung-gedung kota Shanghai bercahaya warna-warni. Gemerlap. Atraksi yang bisa disaksikan dari atas feri sambil menyusuri Sungai Huangpu ini menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Setiap hari, ribuan orang antre menyaksikannya.

Di satu sisi, kita bisa melihat eksotisnya Shanghai lama dengan bangunan-bangunan bergaya Eropa peninggalan Inggris dan Prancis semasa Perang Candu. Di sisi lain, kita juga bisa menikmati kemegahan Shanghai baru dengan gedung-gedungnya yang berarsitektur modern. Shanghai benar-benar kota kelas dunia.

deden rosanda

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com