SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Keadilan Energi bagi Warga di Pinggir Negeri

  • Reporter:
  • Jumat, 16 Agustus 2019 | 11:34
  • Dibaca : 231 kali
Keadilan Energi bagi Warga di Pinggir Negeri
Petugas PGN memasang jaringan gas bumi di kawasan Nagoya, beberapa waktu lalu. Kota Batam mendapat 5.000 kuota jargas untuk rumah tangga pada 2020 mendatang. DOK SINDO BATAM

PENYAMBUNGAN infrastruktur pipa gas bumi melalui program Jaringan Gas (Jargas) yang ditaja Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) ke 4.003 rumah warga di pinggiran Pulau Batam membawa dampak sangat positif. Betapa tidak, keluhan warga yang sebelumnya kesulitan mencari tabung gas untuk memasak, kini mulai sirna. Selain itu, penggunaan gas bumi juga jauh lebih efisien. Inilah terobosan untuk memeratakan keadilan energi bagi warga di pinggiran negeri.

FADHIL, Batam

Masih lekat di benak Bernat Sijabat saat menyambut rombongan tamu pejabat dari Jakarta yang datang ke rumahnya di Perumahan Sentosa Perdana (SP), Kecamatan Sagulung, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), pertengahan 2018 lalu. Tak seperti biasanya, para tamu tersebut tak disambutnya di ruang tamu atau ruang tengah rumahnya. Melainkan, diarahkan ke dapur yang berada di sisi belakang rumahnya.

Di ruangan yang tak begitu luas itu, para tamu dipersilakan menyalakan kompor yang sehari-hari digunakan Bernat dan keluarganya untuk memasak. Salah seorang di antara tamu tersebut maju dan mendekati kompor. Ia kemudian memegang knop kompor, memutarnya perlahan.

“Ceklek,” terdengar bunyi saat tuas kompor dengan dua tungku itu diputar sang tamu.

Tak sampai sedetik, api biru terlihat menyala melingkari sisi tengah tungku kompor. Para tamu itu tersenyum. “Bagaimana kesannya pakai gas bumi?” tanya tamu yang menyalakan tuas kompor tadi kepada tuan rumah.

Buru-buru, Bernat menjawab. “Lebih praktis pak, pakai dulu baru bayar dan tak khawatir gas habis,” ujar Bernat kepada tamunya tersebut.

Tamu itu tak lain adalah Herman Khaeron, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI yang juga Ketua Tim Reses Komisi VII DPR RI. Saat itu, Tim Reses Komisi VII DPR RI yang didampingi Direktur Jenderal (Dirjen) Migas Kementerian ESDM, Djoko Siswanto serta Direktur Infrastruktur dan Teknologi PT Perusahaan Gas Negara (PGN), Dilo Seno Widagdo sedang melakukan kunjungan kerja ke daerah untuk melihat efektivitas sekaligus mengevaluasi program Jargas di Batam.

Program Jargas adalah proyek penyambungan pipa instalasi gas bumi ke rumah-rumah warga secara gratis yang ditaja pemerintah pusat melalui Kementerian ESDM. Adapun penugasannya, diserahkan kepada PGN.

Untuk wilayah Batam, program sambungan pipa gas bumi ini diberikan secara cuma-cuma kepada 4.003 rumah warga yang berada di enam kelurahan dan terdiri dari 16 perumahan di Kecamatan Batuaji dan Sagulung. Yakni, Perumahan Fanindo Tanjunguncang Batuaji, Taman Carina Tanjunguncang, Bambu Kuning Bukit Tempayan Batuaji, Perumahan Buana Raya Boulevard Batuaji, Perumahan Muka Kuning II dan Muka Kuning Indah II Batuaji.

Sedangkan di Sagulung, terdiri dari Perumahan Graha Nusa Batam Sagulung, Mitra Centre Sagulung, Perumahan Puri Surya Sagulung, Perumahan Taman Teratai Sagulung, Buana Point Sagulung, Perumahan Muka Kuning Pratama Sagulung, Perumahan Putra Moro Indah II Sagulung, Perumahan Taman Anugerah Sagulung, Perumahan Sentosa Perdana, Villa Mukakuning Tembesi Sagulung.

Kecamatan Batuaji dan Sagulung termasuk dua kecamatan yang berada di pinggiran Kota Batam. Di dua kecamatan pinggiran Batam itu, jumlah penduduknya sangat padat.

Salah satu warga Kecamatan Sagulung yang merasakan manfaat sambungan Jargas tersebut adalah Bernat Sijabat, yang mendapat kunjungan dari Komisi VII DPR RI tersebut. Menurut Bernat, setelah menggunakan gas bumi untuk bahan bakar memasak keluarganya sehari-hari, ia merasakan banyak manfaat. Salah satunya, tak perlu khawatir kehabisan bahan bakar gas ketika memasak.

Kondisi itu berbeda dengan beberapa waktu sebelumnya, saat masih menggunakan bahan bakar berjenis Liquified Petroleum Gas atau LPG kemasan tabung. Kala itu, keluarganya masih menggunakan LPG bersubsidi kemasan 3 kilogram (kg). Jika sewaktu-waktu gas dalam tabung habis, maka harus keluar rumah untuk mencari dan menukarnya dengan gas tabung baru.

Hanya saja, masalah muncul jika suplai LPG 3 kg sedang tak lancar ke wilayah tempat tinggalnya tersebut. Terutama, saat momen tertentu yang membuat permintaan gas dalam tabung meningkat drastis. “Misalnya saat mau Natal atau Lebaran. Itu biasanya gas LPG agak langka, susah mencarinya. Maklum, di sini penduduk padat,” kata dia.

Namun, sejak hadirnya sambungan Jargas ke rumahnya, keluhan itu otomatis hilang dengan sendirinya. Pasalnya, suplai gas bumi ke rumahnya dan ratusan rumah tetangganya tak terputus selama 24 jam penuh. “Sejak ada gas bumi ini, kapan pun mau masak, tinggal ceklek, api menyala. Praktis, cepat,” tutur Bernat sembari tersenyum.

Tak hanya itu, ia juga senang karena sejak menggunakan sambungan Jargas, pengeluarannya jauh lebih hemat ketimbang saat dulu menggunakan gas kemasan tabung. Betapa tidak, jika dulu dalam sebulan keluarganya bisa menghabiskan antara empat hingga lima gas kemasan tabung hijau, dengan harga mulai dari Rp 72 ribu hingga Rp 90 ribu per bulan, kini ia bisa hemat hampir separuhnya. Sejak tersambung Jargas, tiap bulan ia mengaku hanya perlu merogoh kocek sekitar Rp 35 ribu hingga Rp 45 ribu per bulan. “Lebih hemat pokoknya,” imbuhnya.

Selain Bernat Sijabat, warga lain yang juga merasakan manfaat sambungan Jargas adalah Risma, warga Perumahan Putra Moro Indah II, Kelurahan Seilangkai, Sagulung. Risma mengatakan, aliran gas bumi lewat program Jargas sangat membantu memudahkan warga mendapatkan pasokan energi yang bisa diandalkan setiap waktu. “Kapanpun dibutuhkan, kompor bisa langsung menyala,” katanya.

Tak hanya itu, Risma juga mengaku lebih tenang menggunakan bahan bakar gas bumi tersebut. Pasalnya, ia mengatakan telah mendapat edukasi bahwa sambungan jaringan pipa gas ke rumah-rumah warga itu memiliki tekanan yang cukup kecil serta dilengkapi katup pengaman. Sehingga, ia yakin Jargas tersebut lebih aman ketimbang saat masih memakai bahan bakar gas kemasan tabung. “Memasak sekarang lebih santai dan tenang,” kata dia.

Selain dinilai lebih aman, Risma juga menyebut penggunaan gas bumi lebih hemat. “Dibanding beli gas LPG tabung, memang lebih murah,” katanya.

Tak hanya itu, Risma juga mengaku bersyukur lantaran sambungan gas bumi gratis itu bisa dirasakan dirinya dan warga lainnya yang selama ini mengandalkan gas LPG kemasan tabung untuk memasak. Terlebih, di kawasan padat penduduk itu, suplai gas LPG kemasan tabung juga sering kosong. “Sering langka di sini, makanya kami senang sekali adanya gas bumi ini,” tuturnya.

Menurutnya, banyak warga yang tinggal di pinggiran kota seperti dirinya yang bersyukur lantaran bisa menikmati keandalan energi dari bahan bakar gas bumi. Padahal sebelumnya, sambungan gas bumi rata-rata baru bisa dirasakan warga yang tinggal di pusat kota lantaran keterbatasan infrastruktur pipa gas yang ada. Bahkan, jika tak ada program Jargas yang memberikan sambungan pipa secara gratis itu, ia tak yakin semua warga di wilayah tempat tinggalnya yang berada di pinggiran Pulau Batam itu bisa menikmati bahan bakar dari gas bumi.

Salah satu pertimbangannya, biaya awal penyambungan pipa gas bumi ke rumah warga tergolong mahal. “Saya dengar kalau bayar sendiri, menyambung pipa itu biayanya sampai jutaan rupiah. Untungnya kami dikasih sambungan gratis,” ucapnya bersyukur.

Selama ini, infrastruktur jaringan pipa gas di Kota Batam memang masih berada di sekitar kawasan perkotaan. Itu karena investasi untuk memperpanjang pipa dan meluaskan jaringan butuh biaya yang tak sedikit. Karena itu, baru beberapa area saja yang bisa menikmati keandalan energi dari gas bumi. Seperti, kawasan industri, komersial, atau beberapa perumahan di tengah kota yang areanya sudah dilewati jaringan pipa gas.

Padahal, di Pulau Batam yang hanya memiliki luas daratan 1.040 Kilometer (Km) persegi dan berbatasan langsung dengan negara tetangga, Singapura dan Malaysia ini, banyak warga yang berharap agar jaringan pipa gas bumi yang dinilai aman dan murah itu bisa dinikmati oleh seluruh masyarakat. Sehingga, meskipun berada di ujung negeri, warga tetap bisa merasakan pemerataan dan keadilan energi. “Makanya kami bersyukur, bantuan pemerintah ini bisa kami rasakan betul manfaatnya,” ucapnya.

 

Meluaskan dan Memastikan Pemanfaatan Energi

Kunjungan Kerja dalam rangka reses Komisi VII yang dipimpin Herman Khaeron dengan meninjau lokasi perumahan warga yang telah tersambung Jargas di Kecamatan Batuaji dan Sagulung, Kota Batam itu akan menjadi masukan dan evaluasi pemerintah pusat. Utamanya, untuk memastikan agar program yang telah dilaksanakan di beberapa wilayah di Indonesia tersebut, tepat sasaran dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

“Kami mengunjungi rumah warga pengguna Jargas sekaligus berinteraksi dengan masyarakat terkait pengalaman mereka setelah menggunakan gas alam,” kata Herman di sela acara.

Sementara itu, Direktur Infrastruktur dan Teknologi PGN, Dilo Seno Widagdo mengatakan PGN mendapat mandat untuk membangun sekaligus mengoperasikan infrastruktur gas bumi bagi warga di dua kecamatan tersebut. “Ini proyek penugasan dari pemerintah melalui Kementerian ESDM kepada PGN,” katanya.

Dilo mengatakan, total pipa yang dibangun untuk mengalirkan gas bumi ke 4.003 rumah tangga di Batam mencapai lebih dari 55 Km yang tersebar di 16 perumahan. Dibangun sejak 2016, dana pembangunan proyek sambungan gas rumah tangga ini dibiayai dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Hingga saat ini, total pipa gas bumi yang dimiliki dan dioperasikan PGN di Batam sepanjang 223,57 Km. Selain Jargas, PGN juga telah membangun pipa distribusi di pusat kota seperti kawasan Nagoya dan Batam Center. “PGN akan terus agresif membangun infrastruktur gas bumi nasional, untuk pemanfaatan gas bumi yang efisien dan ramah lingkungan bagi masyarakat,” ujar Dilo.

 

2020, Batam Dapat Kuota 5.000 Jargas

Kementerian ESDM bersama PGN akan kembali membangun Jargas untuk 293.533 sambungan rumah (SR) di tahun 2020 mendatang di 54 kabupaten/kota di Indonesia. Untuk itu, pemerintah menyiapkan anggaran Rp3,2 triliun.

Sales Area Head PT PGN Batam Wendi Purnomo mengatakan, Kota Batam mendapatkan alokasi sekitar 5.000 sambungan Jargas rumah tangga baru tahun depan. Namun, PGN masih belum menentukan di wilayah mana yang akan mendapatkan sambungan baru tersebut.

“Kami masih koordinsi dengan Pemko Batam untuk menentukan titik wilayahnya,” kata Wendi, Jumat (26/7) lalu.

Dijelaskannya, Kementerian ESDM melalui Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi mengadakan rapat koordinasi pembangunan jargas tahun anggaran 2020 dengan mengundang stakeholder terkait, termasuk 54 pemerintah daerah yang akan menikmati manfaat Jargas.

Komitmen dan sinergi bersama ini ditandai dengan penandatanganan Berita Acara Koordinasi Rencana Pembangunan Jargas Tahun Anggaran 2020. Penandatanganan disaksikan oleh Plt Dirjen Migas Djoko Siswanto, Direktur Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Migas Alimuddin Baso serta Direktur Infastruktur dan Teknologi PT PGN Dilo Seno Widagdo. “Kami optimistis tahun 2020 bisa menyelesaikan apa yang ditargetkan pemerintah,” ujarnya.

Plt Dirjen Migas Djoko Siswanto mengatakan, pemanfaatan jargas menjadi salah satu perhatian utama dari Presiden Joko Widodo sebagai salah satu Proyek Strategis Nasional dengan lahirnya Perpres Nomor 6 Tahun 2019 tentang Penyediaan dan Pendistribusian Gas Bumi Melalui Jaringan Transmisi dan/atau Distribusi Gas Bumi untuk Rumah Tangga dan Pelanggan Kecil.

“Kami mengharapkan bahwa manfaat gas bumi sebesar-besarnya dapat dirasakan oleh masyarakat yang berujung pada peningkatan daya saing, dan kemampuan ekonomi masyarakat secara riil,” kata Djoko.

Selain rumah tangga yang akan mendapatkan manfaat langsung, sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) juga akan mendapat manfaat ekonomi yang cukup signifikan karena bisa menggunakan energi gas bumi yang ramah lingkungan dan terlebih kompetitif dibanding energi lain.

Djoko menyampaikan, kegiatan pembangunan Jargas merupakan bagian dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) Tahun 2015-2030 karena dapat memenuhi kebutuhan energi yang bersih, bersaing, ramah lingkungan, dan efisien. Saat ini, pemerintah telah melaksanakan pembangunan Jargas sejak tahun 2009 sampai tahun 2018 dengan jumlah sambungan sebesar 325.852 SR di 16 provinsi yang meliputi 40 kabupaten/kota di Indonesia.

“Tahun 2020 pemerintah akan membangun 293.533 SR di 54 kabupaten/kota. Jumlah ini sangat besar dibandingkan dengan jumlah SR yang berhasil dibangun selama 2009 hingga 2018 yaitu sebanyak 325.852 SR di 16 provinsi meliputi 40 kabupaten/kota,” jelasnya.

Daerah yang rencananya akan dibangun Jargas tahun 2020 adalah Kabupaten Aceh Utara, Kota Lhokseumawe, Kabupaten Aceh Timur, Kota Langsa, Kabupaten Aceh Tamiang, Kabupaten Deli serdang, Kota Pekanbaru, Kota Dumai, Kota Batam, Kota Sarolangun, Kota Jambi, Kabupaten Muaro Jambi, Kabupaten Musi Rawas, Kabupaten Banyuasin, Kabupaten Musi Banyuasin, Kota Palembang, Kabupaten Ogan Ilir, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Kabupaten Muara Enim, Kota Prabumulih, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir, Kota Bandar Lampung, Kabupaten Serang, Kota Cilegon, Kota Bogor, Kab Bogor, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kota Jakarta Timur, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan.

Selain itu, Kabupaten Karawang, Kabupaten Subang, Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kota Semarang, Kabupaten Blora, Kabupaten Lamongan, Kota Mojokerto, Kabupaten Mojokerto, Kabupaten Jombang, Kabupaten Sidoarjo, Kota Surabaya, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, Kota Pasuruan, Kota Probolinggo, Kabupaten Wajo, Kabupaten Banggai, Kota Tarakan, Kota Balikpapan, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kota Samarinda dan Kabupaten Penajam Paser Utara. ***

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com