SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Laluna Artha Kontraktor Dinas Perkim Kepri Berutang ke Toko Bangunan

  • Reporter:
  • Kamis, 9 Juli 2020 | 15:09
  • Dibaca : 278 kali
Laluna Artha Kontraktor Dinas Perkim Kepri Berutang ke Toko Bangunan
Proyek gereja yang dikerjakan CV Laluna Artha Kencana di Tiban, Kota Batam./sindobatam.com

BATAM – Kontraktor mitra Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Kepri, CV Laluna Artha Kencana penuh masalah. Pembayaran bahan bangunan untuk proyek gereja di Tiban, Batam, terkatung-katung padahal proyek itu sudah dicairkan Pemprov Kepri. 

Toko Wali Jaya, penyedia material untuk Laluna Artha Kencana, kecewa berbulan-bulan. Bahan bangunan yang mereka sediakan untuk kontraktor itu, sampai pekan ini, belum ketahuan kapan pembayarannya. Wali Jaya sudah berupaya menghubungi perwakilan Laluna Artha Kencana, Chandra Arvando, untuk menagih pembayaran. Bahkan sejak 2 Maret 2020 lalu, Wali Jaya sudah melayangkan surat somasi yang ketiga kepada Chandra. Ia adalah orang yang datang ke Toko Wali Jaya dengan membawa berkas-berkas perusahaan Laluna. Kepada Toko Wali Jaya, Chandra mengaku bos Laluna Artha Kencana.

“Sudah tiga kali SP (surat peringatan) enggak digubris. Angka (utang) enggak besar, cuma etika mereka tidak bagus,” ujar Kuasa Hukum Toko Wali Jaya, Bistok Nadeak, kepada sindobatam.com, Selasa (7/7/2020).

Bistok juga pernah mengirimkan pesan singkat via Whatsapp kepada Chandra ihwal utang itu. Pesan itu dikirim setelah Chandra tak kunjung membalas somasi dan upaya lain yang ditempuh Wali Jaya demi menagih utang. Pesan itu memberitahukan Chandra soal surat somasi tentang pembayaran utang senilai Rp49.359.500 untuk penyediaan material proyek gereja. Tak kunjung mendapat respons dari Laluna Artha Kencana, Bistok menuliskan pesan akan melaporkan Chandra ke polisi jika dalam waktu tiga hari tidak melunasi utang tersebut. Wali Jaya juga cemas karena uangnya mungkin dibawa kabur Chandra. 

“Sesuai info, bapak juga pernah memberikan cek kosong dan juga ada beberapa toko material yang belum dibayar,” tulis Bistok dalam pesan singkat kepada Chandra.

Wali Jaya kecewa karena pembayaran itu terkatung-katung sejak lama padahal proyek sudah selesai bahkan sudah dilunasi Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman Pemerintah Provinsi Kepri pada akhir 2019. Wali Jaya sempat mempertanyakan pembayaran proyek itu kepada dinas tersebut agar mendapat kejelasan soal uang mereka dari Laluna Artha Kencana. Berdasarkan pesan yang dikirimkan Dinas Perkim kepada sindobatam.com, Laluna Artha Kencana sudah menerima pembayaran sebanyak empat kali dengan total Rp2.075.589.000 sepanjang akhir 2019 untuk pengerjaan proyek pembangunan Gedung Pastori Katolik di Tiban, Kota Batam. Rincian pembayaran yakni, 30 persen (Rp622 juta) pada 25 September, 70 persen (Rp757 juta) pada 25 Desember, 95 persen (Rp591 juta) pada 31 Desember, dan terakhir retensi 5 persen (Rp103 juta) pada 31 Desember.

Langkah menghubungi Dinas Perkim terpaksa ditempuh Toko Wali Jaya untuk mendapat informasi mengapa pembayaran Laluna sebagai rekan kontraktor pemerintah itu terkatung-katung. Wali Jaya mempertanyakan situasi Laluna karena tidak mendapat alasan yang jelas.

Berdasarkan surat somasi tertanggal 2 Maret 2020 yang ditunjukkan Bistok, Laluna Artha Kencana memesan barang material dari Toko Wali Jaya yang berlokasi di Tiban, sebanyak tiga kali sepanjang akhir 2019 yakni sekitar bulan September, Oktober dan Desember. Total tagihannya sebesar Rp49.359.500. Laluna kemudian mengirimkan surat tagihan atau invoice sebanyak tiga kali, 30 September 2019, 31 Oktober 2019 dan 20 Februari 2020. Semuanya belum dibayar.

“Utang tersebut belum dibayarkan dengan berbagai macam alasan,” sambung Bistok.

Proyek gereja yang dikerjakan CV Laluna Artha Kencana./sindobatam.com

Laluna Artha Kencana yang bergerak di bidang usaha kontraktor, memenangi lelang proyek Gereja Pastori Katolik di Tiban, Batam. Perusahaan ini beralamat di Tanjungpinang dan tercatat sebagai anggota organisasi pengusaha, Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional (Gapensi) dengan golongan Kecil Dua (K2) . Proyek gereja itu sendiri sudah rampung dan beraktivitas. Berdasarkan pengumuman tahapan lelang di situs sistem Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Provinsi Kepri, proyek ini dilelang sejak 10 Juli 2019. Pemenang lelang diumumkan pada 6 Agustus 2019 dan kontrak diteken pada 19 Agustus 2019. Laluna, berdasarkan LPSE Kepri, juga sempat memenangi lelang dengan mengerjakan beberapa proyek dari sejumlah dinas Pemprov Kepri. Salah satunya proyek rumah ibadah musala di UPT Pertanian di Bintan dari Dinas Ketahanan Pangan Pertanian dan Kesehatan Hewan Provinsi Kepri senilai Rp500 juta. Laluna juga tercatat beberapa kali memenangi tender di LPSE Tanjungpinang.

Selain Wali Jaya, Laluna Artha Kencana ditengarai bermasalah pula dengan perusahaan penyedia bahan bangunan lain. Berdasarkan data yang diperoleh sindobatam.com, ada dua toko lain yang mengalami hal serupa untuk mengurus uangnya dari Laluna Artha Kencana. Salah satu perusahaan penyedia bahan bangunan, menunjukkan sehelai cek yang dipastikan cek kosong. Cek senilai Rp63 juta itu dituliskan pada tanggal 6 November 2019. Bank BTN, selaku penyedia bilyet giro atau cek, menstempel warkat cek itu dengan stempel “rekening telah ditutup”.  “Ceknya enggak bisa cair karena rekening sudah tutup,” ujar sumber dari salah satu toko bangunan tersebut. 

Sindobatam.com berupaya menghubungi Chandra Arvando via telepon, Kamis (9/7/2020) siang. Tidak ada yang menjawab sambungan telepon. Pesan singkat melalui aplikasi Whatsapp untuk meminta konfirmasi pun tak dibalas.

dicky sigit rakasiwi/chandra gunawan/rinto situmorang

 

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com