SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Minyak Hitam Dibuang, Ikan Mati

  • Reporter:
  • Rabu, 20 November 2019 | 14:02
  • Dibaca : 98 kali
Minyak Hitam Dibuang, Ikan Mati
Komisi III DPRD Batam melakukan sidak di pesisir pantai Pulau Belakangpadang untuk melihat tumpahan minyak hitam, kemarin. /iwan sahputra

BELAKANGPADANG– DPRD Batam kecewa tumpahan minyak hitam masih terus terjadi di perairan kota ini. Sementara minyak hitam menimbulkan dampak berbahaya bagi nelayan dan laut karena tercemar zat beracun.

“Sekarang terumbu karang rusak, bisa dibilang kerusakan mencapai 80 persen, minyak-minyak lengket di sana, menjadi bau,” kata tokoh nelayan Pulau Belakangpadang, Mus, kemarin.

Menurut dia, akibat pencemaran itu, nelayan menjadi kesulitan mencari umpan ikan, yang biasa mengumpul di sekitar terumbu karang. Nelayan pulau-pulau penyangga meminta ganti rugi atas pencemaran minyak hitam yang terjadi di sekitar Perairan Pulau Belakangpadang.

Kerena bau minyak itulah, kata dia, udang kecil dan hewan-hewan umpan lainnya menjauh dari terumbu, sehingga nelayan kesulitan mencari pelet untuk memancing. Bahkan, kata dia, kala air laut surut, nampak ikan-ikan kecil mengapung, mati akibat minyak pekat.

Ketua Pengemudi Motor Sangkut Belakangpadang, Rusman mengatakan bahwa keberadaan limbah oli tersebut sangat membahayakan. Secara khusus profesi mereka sebagai pengemudi motor sangkut, lanjutnya, sangat mengganggu aktivitas mereka sehari-hari.

“Bot kami hitam, tali dan sebagainya hitam, ini benar-benar mengganggu,” ujarnya.

Sementara itu DPRD Batam bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) melakukan inspeksi mendadak (sidak) pencemaran oli bekas di perairan Belakangpadang, Selasa (19/11). Kegiatan tersebut untuk melihat langsung tumpahan oli yang masuk kategori limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) ini.

“Kami ingin agar pengawasan dari stakeholder terkait harus ditingkatkan. Agar peristiwa ini tidak sampai terjadi lagi,” kata Anggota Komisi III DPRD Kota Batam Rohaizat di DPRD Batam, Selasa (19/11).

Ia mengatakan, akan memanggil pihak terkait untuk menggelar rapat dengar pendapat (RDP) agar menemukan solusi atas permasalahan tersebut. “Harus ada tindakan, biar laut kita jadi langganan pembuangan limbah oli,” ujarnya.

Sekretaris Komisi III DPRD Batam, Arlon Veristo menambahkan, ada oknum nakal sengaja buang oli bekas ke laut.

Modus tersebut, lanjutnya, biasanya dilakukan oleh kapal yang kebetulan melintas di perairan Batam, guna mengurangi cost pengelolaan limbah mereka. Pada dasarnya oli tersebut dibuang di tengah laut, namun kemudian terbawa arus hingga ke bibir pantai.

“Kejadian seperti ini sudah berulang kali dan bahkan jadi langganan tahunan, hanya saja hingga saat ini belum berhasil mengungkap pelakunya karena lemahnya pengawasan,” katanya.

Sementara itu Bidang Perlindungan Lingkungan Hidup DLH Batam, Amjaya mengatakan kejadian di Belakangpadang tersebut merupakan pencemaran laut yang ketiga kalinya selama tahun 2019 ini, dua kejadian sebelumnya terjadi di laut Nongsa.

“Ini kejadian ketiga, dua sebelumnya di daerah Nongsa” kata Amjaya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Batam Herman Rozi masih menyelidiki asal tumpahan minyak oli yang mencemari perairan Belakangpadang. Tim DLH saat ini tim masih berkoordinasi dengan provinsi dan pusat, untuk penanganan limbah minyak ini. Termasuk berusaha mencari sumber dari mana limbah minyak ini berasal.

Sampel limbah sudah diamankan dan menunggu untuk dicocokkan. DLH menilai harus mencari dulu sampel pembanding agar bisa dikirim ke lab untuk diselidiki lebih lanjut.

“Saat ini kondisi laut sudah mulai bersih dan tidak ada lagi limbah minyak pekat,” kata Herman.

Kendati demikian patroli masih terus dilakukan bersama dengan Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) dan stakeholder. Hal ini dilakukan untuk mencari sumber limbah yang mencemari perairan Belakangpadang beberapa hari belakangan.

Camat Belakangpadang, Yudi Admajianto mengatakan kondisi sementara mulai baik, namun bau tidak sedap dari limbah masih tercium. Setelah disterilkan Pertamina, limbah yang bergumpal sudah tidak ada.

Sejauh ini limbah belum mengganggu aktivitas nelayan di Belakangpadang. Meskipun sempat membuat alat tangkap milik nelayan ikut terkena imbas dari limbah.

“Dari pantauan Pertamina yang dikirimkan ke kami kondisi di perairan masih aman. Ikan-ikan juga masih aman,” kata Yudi.

Masyarakat kata dia berharap limbah minyak ini segera ditemukan asalnya. Sebab limbah sudah mulai masuk ke pulau-pulau terdekat dari Belakangpadang.

“Ada dua pulau yang sudah melaporkan serangan limbah minyak ini. Jadi kami sangat berharap limbah ini cepat selesai masalahnya, termasuk penyebar limbah ini,” katanya. Ahmad Rohmadi/iwan sahputra

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com