SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Persembahan Rudi untuk Batam yang Lebih Religius

  • Reporter:
  • Selasa, 13 Agustus 2019 | 08:10
  • Dibaca : 1941 kali
Persembahan Rudi untuk Batam yang Lebih Religius
Wali Kota Batam Muhammad Rud menatap bangunan Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah.

PEMBANGUNAN Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah hampir rampung dan akan diresmikan pada 20 September mendatang. Masjid yang digadang sebagai pusat religi dan terbesar se-Sumatera ini, dibangun selama tiga tahun di periode kepemimpinan Wali Kota Batam, Muhammad Rudi.

FADHIL, Batam

Mata pria itu tajam memandang bangunan putih di hadapannya. Sesekali, jarinya menunjuk ke bagian bangunan itu. Setelahnya, kembali ia menatap jauh, ke bangunan megah yang pembangunannya hampir rampung itu.

Ia tak lain adalah Wali Kota Batam, Muhammad Rudi. Saat itu, ia meninjau proyek pembangunan Masjid Sultan Mahmud Riayat Syah, yang berlokasi di Tanjunguncang, Batuaji. Masjid Sultan, begitu namanya mulai dikenal, adalah maha karya di era Rudi, yang khusus dipersembahkan untuk meningkatkan kualitas religi umat muslim di kota ini. Kala itu, Rudi ingin memastikan, detail dan struktur masjid itu benar-benar bagus, dan jika bisa disebut mendekati sempurna karena kesempurnaan hanya milik Sang Pencipta, sebelum diresmikan 20 September nanti. Tak banyak bicara, Rudi hanya mengamati dan sesekali mengarahkan apa yang mesti dipoles lagi, agar lebih menawan, seperti yang ia gadang selama ini.

Memang, proyek pembangunan masjid ini terasa istimewa bagi Rudi. Betapa tidak, cikal bakal gagasan untuk membangun masjid yang memiliki menara setinggi 99 meter itu memang berasal dari Sang Wali Kota. Salah satu musbabnya, Rudi ingin menjawab kegelisahaan warga di wilayah Kecamatan Batuaji dan Sugulung, bahwa di sana belum ada masjid besar yang bisa menampung ribuan jemaah. Padahal, kawasan itu merupakan permukinan padat penduduk, sekaligus area yang ramai jumlah pekerjanya karena di sekitarnya banyak perusahaan galangan kapal.

Tak heran, banyak yang mengeluhkan tentang sulitnya mencari tempat ibadah, utamanya untuk salat Jumat bagi para pekerja pria. Terlebih, dengan pendeknya waktu istirahat, para pekerja tak punya waktu lama untuk mencari masjid lebih jauh, sementara di dekat kawasan mereka bekerja sulit ditemukan masjid.

Rudi mengenang, rencana awal pembangunan masjid itu berdasarkan pengalamannya pada tahun 2009 lalu,saat masih menjadi anggota DPRD Batam. Banyak pekerja industri di kawasan Tanjunguncang yang terburu-buru menjalankan ibadah, terutama salat Jumat karena takut kehabisan waktu istirahat.

Ketika terpilih sebagai Wakil Wali Kota Batam pada 2011 lalu, Rudi meminta lahan untuk pembangunan masjid di Kawasan Industri Tanjunguncang kepada Badan Pengusahaan (BP) Batam selaku pemegang hak pengelolaan lahan di Batam. Untungnya, permintaan itu disetujui. Baru ketika ia menjabat Wali Kota Batam, pembangunan masjid yang mengadopsi arsitektur kombinasi Melayu-Turki itu dimulai.

“Semangat awal memang itu. Kita tak ingin warga mengeluh lagi sulit mencari masjid,” kata Rudi.

Namun, Rudi tak ingin setengah-setengah dalam pembangunan masjid, yang merupakan rumah ibadah utama bagi umat yang beragama Islam, yang juga mayoritas dipeluk penduduk Batam. Wali Kota menghendaki masjid tersebut nantinya juga sekaligus menjadi ikon baru Kota Batam dan   pusat religi dan kajian keislaman di kota yang berseberangan dengan Singapura dan Malaysia ini.

“Sekalian kita bangun yang bagus, jadi bisa juga jadi destinasi wisata religi dan pariwisata di Batam, semua orang bisa mengunjunginya,” ujarnya.

Masjid ini diperkirakan dapat menampung hingga 18.563 jemaah. Rinciannya, pada bagian ballroom mampu menampung hingga 5.485 jemaah, bangunan utama 5.748 jemaah, lantai atas 1.175 jemaah, dan area koridor 5.615 jemaah.

Untuk menara utama dibangun setinggi 99 meter, diilhami dari jumlah nama baik Allah atau Asmaul Husna. Masjid ini diharapkan menjadi sarana bagi masyarakat Batam untuk semakin mematangkan spiritual serta menjadi pintu percepatan terwujudnya Batam sebagai bandar dunia madani.

Oleh karena itu, bangunan masjid akan dilengkapi dengan fasilitas parkir yang mampu menampung ratusan kendaraan. Lokasi parkir dibagi menjadi dua titik, yakni luar ruangan atau outdoor untuk 10 unit bus, 105 mobil, dan 107 motor. Sedangkan parkir bawah tanah atau basement, sanggup menampung 308 mobil dan 331 motor.

Dan kini, rencana dan gagasan Rudi itu sudah terlihat. Bangunan fisiknya sudah berdiri megah, lekuk dan siluetnya tampak megah di kawasan Batuaji. Sesuai target waktu yang diberikan, masjid yang memiliki payung portabel yang bisa membuka dan menutup seperti di Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi itu sebentar lagi bisa digunakan masyarakat Batam.

“Semoga masjid ini menjadi ladang amal kita semua, dan menjadi tanggung jawab kita untuk menghidupkan masjid ini,” katanya.

Undang Warga Hadiri Peresmian

Wali Kota sekaligus mengundang semua masyarakat Batam untuk hadir saat peresmian pada 20 September mendatang. Pihaknya mendatangkan Ustaz Abdul Somad, Habib Syech Abdul Qadir Assegaf, dan Ustaz dari Malaysia, Kazim Elias.

“Acaranya Jumat pukul 09.00 di lokasi masjid di Tanjunguncang, Batuaji,” kata Rudi.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam Ardiwinata mengatakan, untuk acara peresmian nanti ribuan wisatawan mancanegara (wisman) sudah memastikan hadir.

“Kemarin sudah tercatat 1.100 orang, rata-rata dari Malaysia dan Singapura,” kata Ardi yang juga sebagai Anggota Seksi Acara pada kegiatan peresmian Masjid Sultan ini.

Ardi berharap warga Batam ikut bangga dan hadir saat peresmian masjid terbesar di Sumatera ini. “Ini menjadi kebanggan kita semua,” ujarnya.

***

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com