SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Selamat Tinggal Premium

  • Reporter:
  • Jumat, 30 Agustus 2019 | 10:15
  • Dibaca : 1039 kali
Selamat Tinggal Premium
Warga antre mengsi BBM jenis Pertalite di Batam, belum lama ini. /DOK SINDO BATAM

ADA yang bilang, masa transisi itu sulit dilalui. Ah, tapi itu tak selamanya hakiki. Coba saja tengok betapa mudah dan bergairahnya masyarakat Batam melakukan transisi penggunaan energi. Jika dulu Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium begitu dicari, kini perlahan mulai terganti. Adalah Pertalite, yang mulai diminati masyarakat dan mendekati tahta Premium di puncak posisi. Jangan kaget jika suatu ketika nanti, Premium tinggal kenangan di memori.

FADHIL, Batam

Pengendara wanita yang menaiki sepeda motor itu menyalakan lampu sen sebelah kiri kendaraannya saat mendekati Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Bengkong di Jalan Yos Sudarso, Batam, Kepulauan Riau (Kepri). Ia berhenti tepat di belakang pengendara motor lainnya, yang berderet dalam satu antrean untuk mengisi bahan bakar. Wanita berjilbab itu beranjak turun dari motor matiknya.

Cekrakk, suara jok motor terbuka. Tangan kanan wanita itu membuka jok penutup tangki. Sejurus kemudian, tangannya berganti meraih knop tutup tangki motor, kemudian memutarnya perlahan dan mengangkatnya.

“Pertalite ya bang, Rp30 ribu,” katanya kepada petugas SPBU.

Tangan kanan petugas SPBU tersebut meraih ujung nozel selang berwarna putih. Sedangkan tangan kirinya langsung menekan angka di mesin pompa. “Dari nol ya,” petugas SPBU itu berseru kepada wanita tadi, sembari menunjukkan layar di mesin pompa SPBU.

Proses pengisian BBM ke tangki motor tersebut usai. Wanita itu membayar sesuai nominal yang ia sebut tadi. Setelahnya, ia kembali menaiki sepeda motornya, menyalakan mesin dan melaju ke arah bangunan yang hanya berjarak 10 meter dari mesin pompa tadi.

“Antrenya lumayan panjang, jadi agak lama,” kata Mila, pengendara motor tersebut kepada SINDO BATAM yang sudah menunggunya.

Mila merupakan pengguna BBM jenis Pertalite. Ia mengaku menggunakan bahan bakar tersebut sejak setahun terakhir. Alasannya, BBM jenis ini lebih bagus untuk kendaraannya. “Tentu pilih yang berkualitas untuk mesin, apalagi motor ini baru,” kata mahasiswa salah satu kampus swasta di Batam itu.

Selain alasan performa mesin, Mila juga mengaku beralih menggunakan Pertalite karena menilai BBM ini termasuk hemat. Menurutnya, ongkos yang ia keluarkan tiap bulan untuk membeli Pertalite ternyata tak jauh berbeda seperti ketika ia masih menggunakan Premium.

Menurut Mila, dengan sepeda motor Honda Vario 125 cc miliknya, setiap kali isi pertalite ia merogoh kocek Rp30 ribu. Jumlah BBM sebanyak itu biasanya ia pakai untuk aktivitasnya selama 3 hingga 4 hari, baik untuk pergi ke tempatnya magang di salah satu perusahaan di kawasan Batam Center, maupun untuk pergi kuliah. Ia menghitung, dalam sepekan ia biasanya dua kali mengisi Pertalite. Dengan begitu, dalam satu pekan ia merogoh kocek sekitar Rp60 ribu.

“Jumlah itu enggak jauh beda sama dulu waktu pakai premium,” jelas Mila.

Tak hanya dari sisi harga, Mila juga memuji Pertalite lantaran BBM itu menghasilkan tarikan dan performa kendaraan yang lebih baik. Hal itu ia buktikan saat motornya dipakai melintasi jalan berbukit. Maklum, topografi Batam memang berbukit-bukit.

“Pas nanjak, enggak perlu narik gas kencang-kencang. Kalau dulu pakai premium, kayaknya narik tuas gas itu harus kuat baru melaju, tapi sekarang enggak lagi,” kata wanita berusia 21 tahun itu, sembari tangan kanannya memperagakan saat menggenggam tuas gas dan menariknya.

Tak hanya Mila, warga Batam lainnya yang mengaku menggunakan Pertalite adalah Budi Zainudin. Untuk mobilnya yang berjenis
low Multy Purpose Vehicle (MPV) itu, ia mengaku menggunakan Pertalite bisa membantu menaikkan performa mesin kendaraannya. Dengan begitu, mesin tak gampang rusak dan suaranya juga terdengar lebih halus.

Budi bercerita, awalnya coba-coba menggunakan Pertalite hanya untuk menghindari antrean panjang di pompa pengisian premium. Saat itu, ia mengaku sedang terburu-buru. Namun, setelah menggunakan Pertalite, justru ia tak bisa berpaling lagi.

“Ternyata sangat berbeda, karena tarikan mesin lebih halus dan performa kendaraan lebih gesit,” kata bapak dua orang putri tersebut.

Menurut Budi, istrinya, Murni sempat ragu ketika ia memilih menggunakan Pertalite. Itu karena harga Pertalite sedikit berada di atas harga premium. Namun, setelah merasakan kualitas mesin jadi lebih bagus dan kendaraan terasa lebih nyaman, sang istri akhirnya sepakat dengan pilihan Budi. Apalagi, sambung dia, setelah dihitung tiap bulan, ongkos belanja BBM jenis Pertalite ternyata tak jauh beda dengan ketika masih menggunakan premium.

“Paling terpautnya sedikit. Tapi kualitas mesin jauh lebih unggul. Makanya istri dukung pilihan saya,” kenang Budi sembari tersenyum simpul.

Budi merasa yakin, bagusnya performa suatu bahan bakar akan berpengaruh terhadap tingkat konsumsi BBM untuk pembakaran di dalam mesin. “Apakah BBM yang memiliki RON (Research Octane Number) lebih tinggi jadinya lebih hemat atau bagaimana, saya belum tahu hitung-hitungannya,” kata warga Batuampar, Batam tersebut.

Namun, ia mengaku sejak menggunakan Pertalite, tak ada problem berarti dari mesin mobilnya yang berwarna putih tersebut. “Ini yang saya maksud hemat. Jadi enggak gampang sedikit-sedikit perawatan seperti dulu. Pokoknya Pertalite ini sudah standar bagus lah untuk kendaraan. Jadi bagi kami, selamat tinggal Premium,” katanya.

Beragam testimoni dari masyakat Batam yang banyak beralih menggunakan pertalite itu ternyata sesuai dengan meningkatnya jumlah permintaan Pertalite untuk wilayah Batam dan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Unit Manager Communication and CSR Pertamina MOR 1, Roby Hervindo mengatakan, memang terjadi peningatan konsumsi Bahan Bakar Khusus (BBK) atau Perta Series seperti Pertamax, Pertalite, Dex, dan Dexlite di wilayah Kepri. Terhitung pada bulan Januari-Juli 2019, tercatat ada peningkatan konsumsi Perta Series sebesar 2 persen dibanding periode yang sama tahun 2018. Konsumsi Perta Series pada 2019 tercatat sebesar rata-rata 354 ribu liter per hari, dibanding 2018 yang jumlahnya rata-rata 346 ribu liter per hari.

“Peningkatan ini sinyal positif bahwa lebih banyak konsumen yang menyadari keunggulan BBM berkualitas,” kata dia.

Untuk diketahui, Pertalite merupakan BBM yang memiliki standar mutu atau spesifikasi sesuai Keputusan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi No. 313.K/10/DJM.T/2013 tentang Standar dan Mutu (Spesifikasi) BBM RON 90 yang Dipasarkan di Dalam Negeri. Pertalite memiliki bilangan oktana (RON) 90, tingkat stabilitas oksidasi 360 menit, kandungan sulfur 0,05 persen m/m atau setara 500 ppm, dan tidak memiliki kandungan timbal maupun logam, dan kandungan oksigen 2,7 persen m/m. BBM ini berwarna hijau dengan kandungan pewarna 0,13 g/100 liter, dengan berat jenis minimal 715 kg/m3 maksimal 770 kg/m3.

Mengacu pada standar mutu itu, banyak keunggulan Pertalite dibandingkan Premium. Pertalite memiliki kadar oktan lebih tinggi dari Premium. Dengan begitu, untuk setiap konsumen yang menggunakan produk ini akan menghasilkan pembakaran yang lebih optimal.

Produk ini menjadi pilihan yang berkualitas dengan harga terjangkau. Pertalite merupakan salah satu varian Bahan Bakar Khusus Pertamina dengan kandungan oktan yang cocok untuk mesin berkompresi tinggi, sehingga menghasilkan pembakaran yang lebih baik sehingga dapat menempuh jarak yang lebih jauh dengan harga yang terjangkau.

Pertalite juga ditambahkan beberapa bahan aditif sehingga kualitasnya lebih baik. Bahkan, dengan kandungan RON yang lebih baik dan ramah lingkungan dibandingkan Premium. Pertalite lebih ramah lingkungan, karena menghasilkan emisi karbon hasil pembakaran yang lebih rendah dibandingkan Premium.

Dengan semua keunggulan itu, tak berlebihan jika kemudian pihak Pertamina menggadang Pertalite sebagai salah satu bahan bakar atau energi yang akan menunjang gaya hidup masyarakat yang lebih berkualitas.

Pertamina, kata Robby, terus mengedukasi konsumen, bahwa BBM berkualitas lebih hemat buat kantong dan ramah untuk lingkungan.

“Masih perlu kita dorong, karena secara pangsa pasar. Premium masih mendominasi hingga 71 persen dibanding BBM berkualitas 29 persen,” ujarnya.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com