SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Stok Air Batam Menipis, Warga Diminta Hemat Air

  • Reporter:
  • Jumat, 6 Desember 2019 | 12:17
  • Dibaca : 104 kali
Stok Air Batam Menipis, Warga Diminta Hemat Air
BP Batam rapat bersama ATB dan BMKG membahas tentang prakiraan iklim dan curah hujan serta ketersediaan air baku di Kantor Marketing Centre BP Batam, Batam Centre, Kamis (5/12). f dicky sigit rakasiwi

BATAMKOTA – Persediaan air bersih di enam waduk di Kota Batam menipis dan hanya bisa bertahan dalam beberapa tahun ke depan. Masyarakat diminta untuk dapat menghemat air untuk menjaga ketersedian air bersih di Batam.

“Jadi kami diberi warning oleh ATB dan BMKG, bahwa tinggi waduk dari ketinggian air 7,5 meter sudah turun 3 meter di Dam Duriangkang,” kata Kepala Kantor Pengelolaan Air dan Limbah (KPAL) BP Batam, Binsar Tambunan usai rapat bersama PT Adhya Tirta Batam (ATB) selaku pengelola air bersih di Batam dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) membahas tentang prakiraan iklim dan curah hujan dan ketersediaan air baku di Kantor Marketing Centre BP Batam, Batam Centre, Kamis (5/12).

Untuk Dam Seiharapan rata-rata 2 meter dan ATB memberikan warning, bahwa distribusi air 3.300 meter per-detik untuk pelanggan air Batam. Meskipun hujan, namun level permukaan tidak naik seperti musim hujan sebelumnya.

“Tahun ini dua waduk turun, sekitar 2,7 meter dan 3 meter, maka dari itu diimbau agar masyarakat untuk berhemat,” ujarnya.

Menurut dia, apabila masyarakat tidak melakukan penghematan air maka pada tahun depan akan ada pengurangan distribusi air bersih, dengan cara rationing. Karena curah hujan yang berkurang dan sisa musim hujan ini masyarakat diharapkan juga untuk menampung air hujan.

“Jadi untuk cuci motor, mobil, siram tanaman diimbau masyarakat untuk hemat air. Karena krisis air sudah mengkhawatirkan kita semua,” kata Binsar.

Direktur PT ATB Paul Raymond mengatakan, curah hujan berbeda jika di awal tahun 2019 lalu. Di mana hampir semua waduk penuh, namun seiring waktu menjadi surut dan hal ini juga seiring peningkatan penggunaan air di Batam yang meningkat.

“Peningkatan penambahan air ini dipicu pertumbuhan penduduk di Batam juga semakin meningkat,” ujarnya.

Ia menambahkan, jika curah hujan turun maka dampaknya ke waduk. Awal tahun 2019 ini, hampir penuh semua waduk naik kemudian surut dan seiring peningkatan kebutuhan air di Batam.

“Jika terjadi penurunan air di Dam Duriangkang, maka rationasi pertama akan dilakukan pada pelanggan WTP di kawasanTanjungpiayu dan dampaknya, akan dirasakan 70 persen warga setempat,” ujarnya.

Sementara bila di Waduk Duriangkang mengalami penurunan, dampaknya akan dirasakan 70 persen dari warga Batam. Karena 74 persen dari sana sumber air Batam tersedia.

“Langkah menghemat penggunaan air bersih mampu menyelamatkan bumi di masa depan, dan itulah selalu disosilisasikan ATB kepada masyarakat karena kesediaan air baku yang dikelola ATB hanya mengandalkan curah hujan,” ujarnya.

Meski curah hujan di Desember tinggi, namun tahun depan (2020) akan turun 5 persen. Sehingga disarankan, agar ketersediaan air diperhatikan “Ini karena curah hujan tahun depan lebih sedikit,” kata Kepala Station Metereologi BMKG Kelas I Hang Nadim Batam I Wayan Mustika.

Diperkirakan, musim kemarau bertambah. Sehingga, di tahun 2020, Batam diakui tidak akan mengalami kondisi ekstrem. Batam tidak akan mengalami banyak hujan, tapi tidak kekeringan dan karena keadaan itu dianggap normal.

“Saat hujan akan lebat, menyebabkan waktu curah hujan lebih sempit dan dampaknya pada kekeringan karena pada Januari 2020 curah hujan turun jika dibandingkan Desember,” ujar Wayan.

Curah hujan pada Januari mendatang diakuinya 150 sampai 200 mm. Curah hujan itu kembali akan turun pada Februari nanti, bahkan dinilai Februari curah hujan sangat minim kurang 100 mm.

“Pada saat bulan Desember dimaksimalkan penampungan air, dan ini perlu disampaikan masyarakat agar berhemat,” ujarnya. dicky sigit rakasiwi

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com