SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Ubah Sampah Menjadi Emas di Pegadaian

  • Reporter:
  • Jumat, 15 Maret 2019 | 22:30
  • Dibaca : 458 kali
Ubah Sampah Menjadi Emas di Pegadaian
Siti, ibu muda di Kampung Tua Patam Lestari memilah sampah untuk dibawa ke bank sampah kemudian dikonversi menjadi emas di Pegadaian. /SINDOBATAM/ASRUL RAHMAWATI

SAMPAH yang biasanya tak berharga, kini bisa diubah menjadi emas. Program memilah sampah menjadi emas merupakan salah satu program PT Pegadaian (Persero) yang berdampak langsung kepada masyarakat. Selain memberikan solusi keuangan, juga turut mengedukasi masyarakat mengurangi sampah.

ASRUL RAHMAWATI, Batam

Habibi sedang sibuk memisahkan botol kemasan air mineral dengan tutupnya. Plastik merek kemasan botol itu juga dilepasnya. Semuanya dikumpulkan sesuai jenisnya. Tak hanya botol plastik, koran bekas miliknya juga telah dirapikan dan ditumpuk di dekat pintu kosnya.

“Nanti unit bank sampah yang ada di Bengkong akan menjemput ke sini untuk mengambil sampah yang sudah saya pilah dan dibersihkan ini,” ujar wanita 30 tahun tersebut, Kamis (14/3).

Pegawai swasta yag tinggal di Bengkong Indah, Kecamatan Bengkong tersebut telah beberapa bulan belakangan ini menjadi nasabah bank sampah. Diakuinya kegiatannya itu efektif mengurangi sampah yang berserakan di sekitar tempat tinggalnya.

“Sekarang sampah bisa diubah juga menjadi emas, caranya dengan mengonversi nilai uang di tabungan (bank sampah) ke emas lewat Pegadaian. Saya belum ikut program yang itu, tapi nanti ingin ikut juga,” kata dia.

Program memilah sampah menjadi emas memang sedang digencarkan Pegadaian. BUMN sektor keuangan yang bergerak di tiga lini bisnis yaitu pembiayaan, emas dan aneka jasa ini telah bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Batam dalam mengelola sampah.

“Selama ini sampah tak ada harganya. Maka lewat produk tabungan emas kami memberikan edukasi kepada masyarakat untuk memilah sampah kemudian dikonversi menjadi emas,” tutur Manajer Penjualan Pegadaian Kantor Area Batam Afrino Gunawan, Kamis (14/3).

Dia mengatakan program serupa telah lebih dulu dilakukan di beberapa kota besar di indonesia. Di Bandung misalnya, memilah sampah menjadi emas sudah menjadi program pemerintah provinsi.

Di Batam program tersebut mulai berjalan sejak akhir Januari 2019. Saat ini beberapa unit bank sampah sudah menjadi nasabah tabungan emas. Diantaranya unit bank sampah yang ada di Batuaji, Bengkong, Batamkota dan Sagulung.

“Pegadaian hadir sebagai solusi keuangan masyarakat,” kata Afrino.

Menurutnya, Pegadaian memberikan solusi alternatif bagi masyarakat. Para nasabah bank sampah misalnya, jika memiliki uang dengan nominal Rp100 ribu dan disimpan di dalam rekening bank sampahnya, tahun depan jika uang itu dibelanjakan nilai barang-barang yang dibeli pasti meningkat. Sementara jika dikonversikan menjadi emas, nilainya akan tetap sama, bahkan bisa naik.

“Setiap setoran akan langsung dikonversikan ke emas. Tak ada potongan untuk biaya adminstrasi per bulan. Cuma ada uang pengelolaan rekening per tahun Rp30 ribu saja,” ujarnya.

Selama ini emas identik dengan sesuatu yang mahal dan tak semua kalangan bisa membelinya. Pegadaian menepis hal itu lewat produk tabungan emas tersebut.

“Setoran bisa dimulai dengan nominal Rp6.000, yang kalau dikonversikan menjadi 0,01 gram emas,” ungkapnya.

Sepanjang 2019 ini, Pegadaian Batam menargetkan 80 persen anggota unit bank sampah menjadi nasabah tabungan emas. Pegadaian mencoba mengangkat derajat sampah tak hanya lewat penyediaan produk tabungan emas saja. Namun juga turun langsung ke lapangan untuk memberikan dukungan kepada unit bank sampah.

“Hampir setiap minggu kami turun ke unit-unit bank sampah bersama DLH untuk memberikan pembinaan. 20 Maret nanti kami akan membangun tempat untuk menampung sampah di salah satu unit bank sampah di Batuaji,” kata dia.

Sementara itu Kasi Pengurangan Sampah DLH Batam Rida Meliyana mengatakan, sebelum menjalin kerja sama dengan Pegadaian, dia sudah lama ingin punya program mengubah sampah menjadi emas.

“Saya lihat kota lain, salah satunya di Jawa Barat, ada sampah jadi emas. Saya ingin Batam juga seperti itu,” kata dia.

Rupanya keinginan Rida terjawab tak lama kemudian. Sebab Pegadaian Batam turun ke masyarakat untuk mencari tahu apakah di Batam ada bank sampah. Pencarian itu sampai ke salah satu unit bank sampah di Batuaji.

“Unit bank sampah di sana lalu bilang kalau mereka di bawah binaan DLH. Sejak itulah Pegadaian langsung berhubungan dengan DLH,” kata dia.

Saat ini bank sampah yang ada di Batam ada 200 unit, mereka tersebar hampir di semua kecamatan. Total nasabah dari semua unit tersebut sekitar 5.000 orang.

“Sekarang nasabah bank sampah bebas, jika ingin menabung uang dari sampah dipersilakan, tapi yang ingin mengkonversinya ke emas juga sangat bagus,” kata dia.

Konversi uang dari bank sampah menjadi emas tersebut bisa dilakukan sendiri dengan datang ke kantor Pegadaian Batam. Namun jika tak ingin repot bisa juga melalui kelompok unit bank sampahnya masing-masing.

Sejauh ini bank sampah menerima 21 jenis sampah. Mulai dari plastik seperti botol minuman, sedotan, kertas, kardus, aluminium, kaleng bekas kemasan minuman dan lain-lain. Masing-masing memiliki harga yang berbeda sesuai jenisnya.

Asisten III Pemerintah Kota (Pemko) Batam Zarefriadi mengatakan pihaknya sangat mengapresiasi ibu-ibu yang peduli sampah dengan menjadi bagian dari bank sampah.

“Apalagi kalau bisa diubah menjadi emas. Ini sangat mendukung program pemerintah untuk zero waste,” katanya dalam sosialisasi bank sampah di Hotel Harmoni One Batam Centre, Kamis (14/3) kemarin.

Target Pemko Batam di 2019 ini adalah mengurangi sampah sebesar 20 persen. Untuk itu keberadaan bank sampah memang perlu digencarkan dan nasabah bertambah terus.***

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com