SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Krisis Air, Penghuni Rusun Tanjunguncang Angkat Kaki

  • Reporter:
  • Selasa, 26 Maret 2019 | 15:43
  • Dibaca : 66 kali
Krisis Air, Penghuni Rusun Tanjunguncang Angkat Kaki
Anak-anak di Rusunawa Pemko Batam I, Tanjunguncang menampung air menggunakan jerigen, Senin (25/3). Krisis air yang terjadi selama ini membuat penghuni banyak meninggalkan rusunawa ini. f agung dedi lazuardi

BATUAJI – Krisis air bersih yang berkepanjangan membuat sebagian penghuni rumah susun sewah (rusunawa) Pemko Batam I, Tanjunguncang menyerah. Tak heran sebagian warga setempat memilih pindah karena tak tahan lagi dengan situasi yang kurang nyaman.

Pengelolah rusunawa Pemko I di simpang PT Batamec, Tanjunguncang menyampaikan setiap bulannya 13-15 hunian ditinggalkan penghuninya dengan alasan sulitnya mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.

“Normalnya total hunian kalau penuh 750-an, tahun 2018 lebih dari 300 hunian yang terisi, sekarang tinggal 270-an saja. Orang jadi malas tinggal di sini, makanya mereka memilih pindah,” kata petugas di Kantor Pengelolah Rusunawa Pemko I Tanjunguncang, M Syafik, Senin (25/3).

Pindahnya penghuni rusunawa ini cukup beralasan, sebab krisis air bersih bukan sebulan dua bulan terakhir ini terjadi, tapi sudah bertahun-tahun. Jikapun lancar pasokan air dari ATB, tidak membuat penghuni lega seutuhnya, sebab mereka masih harus memikul air dari lantai satu ke lantai dua atau tiga tempat hunian mereka.

“Serba susah di sini kalau urusan air. Mau ngalirpun air itu tetap kami harus pikul. Air tak bisa dipompa ke atas karena terlalu kecil (volume aliran air),” kata Anisa, penghuni di blok C.

Anisa mengaku krisis air bersih ini terjadi sejak tahun 2016 lalu. Meskipun tak sepanjang waktu, namun itu benar-benar merepotkan. Penghuni rusunawa yang cukup banyak tentu menjadi tantangan tersendiri bagi dirinya untuk berebutan, antre dan bahkan harus terjaga sepanjang malam hanya untuk menandapatkan air.

“Sangat sengasara kami dibuat dengan air ini. Mau empat tahun tinggal di sini belum pernah merasa nyaman dengan air ini. Selalu begini setiap bulan. Kadang suami capek pulang kerja harus mikul air dari bawah ke atas,” ujarnya.

Ia sudah berencana akan pindah jika memang situasi yang tak nyaman itu tidak segera diatasi. “Lagi nyari-nyari kontrakan ini. Menyerah saya dengan situasi ini,” katanya.

Syafik tak menampik jika potensi berkurangnya penghuni rusunawa masih ada. Dia bahkan memprediksi dalam waktu dekat ini bisa sampai 50 kepala keluarga (KK) yang akan cabut dari rusunawa itu. “Sekarang mulai terasa karena minat pembayaran sewa menurun drastis. Biasanya kalau sudah pembayar sewa tersendat, tak lama lagi cabut itu,” kata Syafik.

Kelangkaan air bersih ini sudah berulang kali disampaikan ke pihak ATB, namun sampai saat ini belum ada tindakan ataupun tanggapan yang berarti. Suplai air pakai mobil tangki yang dijanjikan empat tangki per hari belum berjalan maksimal. Sehari pengelola hanya terima dua sampai tiga tangki saja. agung dedi lazuardi.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com