SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Membangun Angkatan Udara yang Disegani

  • Reporter:
  • Selasa, 10 April 2018 | 12:49
  • Dibaca : 72 kali
Membangun Angkatan Udara yang Disegani

Tahun ini, tepat nya tanggal 9 April, TNI Ang katan Udara (AU) memperingati hari ulang tahun yang ke-72. Perjalanan selama 72 tahun merupakan perjalanan panjang yang penuh tantangan.

Selama itu pula TNI AU terus berusaha membangun dan mengem bang kan kekuatan udara serta menjaga se luruh wilayah uda ra Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pem ba ngunan dan pe ngembangan kekuatan udara berupa pe nambahan alutsista, fasilitas pendukungnya, dan pening kat an sumber daya manusia semuanya su dah tertuang dalam rencana strategis pembangunan ke kuatan TNI AU setiap lima ta hun.

Tujuannya adalah untuk men ja min terwujudnya ke kuat an dirgantara yang mam pu menegakkan kedaulatan negara di udara. Perjalanan Angkatan Udara dari awal berdirinya hingga sekarang tidak bisa dile pas kan dari sejarah perjuangan bangsa. Sejarah bangsa me nun jukan bahwa sejak ber dirinya, Angkatan Udara telah menunjukkan prestasi dalam rangka menegakkan kedau lat an ne – ga ra, mencegah dan me nang – kal serta menang gu langi se – tiap bentuk ancaman yang menggunakan media udara.

Pembentukan TNI AU

Tujuh puluh dua tahun lalu, tepatnya 9 April 1946, Presiden Soekarno menge luar kan Penetapan Peme rin tah Nomor 6/SD/1946 yang berisi pembentukan Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara. Penetapan peme rin tah itu memiliki arti penting bagi perkembangan Ang kat an Udara. Pertama, secara le gal TNI AU telah memiliki ke kuatan hukum yang kuat. Arti penting yang kedua, pe mim pin AURI mengambil kebi jak an penyusunan organisasi yang terstruk tur secara baik dan jelas.

Ketiga, di te tap kan nya Komodor Udara Soerjadi Soerjadarma menjadi kepala staf Angkatan Udara yang per tama dan diangkatnya Bapak R Soekarnaen Martokoesoe mo serta A Adisutjipto sebagai wakil kepala staf Angkatan Udara mengandung arti bahwa TNI AU telah menjadi organisasi perang yang ter organisasi. Dimilikinya organisasi perang yang terorganisir me mudah kan Angkatan Udara dalam gerak tali komando yang sangat diperlukan di tengah masa perjuangan memper tahan kan kemerdekaan Indonesia. Modal awal Angkatan Udara saat itu adalah pesawatpesawat hasil rampasan dari tentara Jepang seperti jenis Cureng, Cukiu, Nishikoren, serta Hayabusha.

Kekuatan Macan Asia

Memasuki dekade 1950-an TNI AU melakukan kon solidasi dan pengembangan alutsista dengan menggan ti kan alutsista buatan Jepang. Kekuatan udara nasional memiliki pesawat yang lebih modern seperti C-47 Dakota, B-25 Mitchell, P-51 Mustang, Catalina, Piper Cub dan Auster. Di samping itu juga diserah terimakan bengkel peme liharaan pesawat terbang, fasilitas pendidikan, dan fa silitas-fasilitas lainnya. Pada masa ini Angkatan Udara melaksanakan berbagai operasi untuk menumpas pembe rontakan yang mengancam kedaulatan NKRI seperti operasi penumpasan DI/TII, RMS, PRRI/Permesta.

Hingga awal 1960-an, TNI AU mengalami popularitas yang tinggi. Ne gara tetangga pun menyebut TNI AU sebagai macan Asia. Selain kedatangan rudal SAM -75, TNI AU saat itu juga diperkuat dengan ratusan pesawat dari berbagai jenis, an – tara lain heli MI-4, SM-1, Bell- 47, S-58 T Sikorsky dan MI-6, pesawat latih T-34 A Mentor, L-29 Dolphin, pesawat angkut C-47 Dakota, IL-14, Hercules C-130, Antonov-12 dan C-140 Jet Star. Tak hanya pe sawat udara dan rudal, penempatan radar se bagai “mata-mata” untuk meng-cover wi layah Indonesia juga dikembang kan. Tercatat Radar Nysa, Radar Decca, dan Radar P-30 tergelar. Kekuatan udara ini digunakan untuk Ope rasi Dwikora, Trikora, dan ope rasi penumpasan Ge rak an 30 Sep tember 1965.

Modernisasi Alutsista

Membangun Angkatan Uda ra yang kuat dan mo dern serta disegani tidak hanya melalui upaya pengem bang an kekuatan, me lain kan juga pembangunan kemampuan dan gelar ke kuatan yang ideal untuk me nangkal setiap ancaman. Di na mika perkembangan ling kung an strategis serta pesat nya kemajuan ilmu pe ngeta hu an dan teknologi ke dirgan taraan saat ini memunculkan bentuk ancaman baru. Potensi ancaman siber, biohazard, wa hana tanpa awak, dan tekno logi persenjataan me nye bab kan tantangan yang dihadapi Ang katan Uda ra semakin berat.

Untuk me re but kembali gelar macan Asia di usia TNI ke-72 me mang di rasa cukup sulit meng ingat kon disi alut sista Angkatan Uda ra saat ini ma sih jauh dari ke kua tan uda ra ideal. Pada hal da lam pelak sanaan tugas, se perti tertuang da lam UU No 34 Ta hun 2004, di bu tuh kan suatu postur TNI AU yang ideal. Mengantisipasi berbagai tantangan terhadap dinamika ter sebut, Angkatan Udara ha – rus memi liki kemauan, tekad, dan komitmen untuk dapat me wu judkan hasil yang optimal de ngan ke kuat an dan kemampuan yang ada. Saat ini Ang katan Uda ra tengah berupaya mening kat kan kekuatan dan kemampu an nya.

Da – lam kaitan ini, ke bijakan Kementerian Perta han an untuk meningkatkan kekuatan dan kemampuan TNI AU dalam men capai kon disi kekuatan po kok minimum atau minimum essential force (MEF) su – dah sa ngat tepat. Program pem ba ngun an MEF disusun berda sar kan skala prioritas yang di la ku kan da lam tiga ta – hap, yaitu MEF Rencana Strategis (Renstra) I, II, dan III. Saat ini memasuki renstra ke tiga, yaitu tahun 2015-2019 yang tinggal tersisa satu se te – ngah ta hun lagi, TNI AU akan men da tangkan pesawat gene ra si 4,5 untuk menggantikan pe sawat F-5 yang sudah lama tidak terbang lagi.

Selain itu TNI AU juga me nambah radar ground con trol in terception (GCI), pe sa wat angkut berat, pe sa wat CN-295 special mission, pe sawat la tih, dan pesa wat tan pa awak pe sa wat multipurpose amphibious, serta fasilitas dan sa ra na pra sa rana lainnya. Peningkatan kua li tas sum – ber daya manusia (SDM) juga terus dilakukan. Melihat kon di si terkini TNI AU sebagai alat per ta hanan di uda ra je las tam pak ada ke ma juan bila di ban dingkan de ngan masa-ma sa sebe lum nya. Ter le – bih de ngan ke da tang an 24 pe – sa wat F-16 C/D yang telah diup grade menjadi F-16 block 52ID. Ke ber adaan 24 unit pe sawat F-16 ini meru pa kan bagian dari upaya pem ba ngun an kekuat an un tuk me wujudkan pos tur TNI AU.

Pembangunan Angkatan Uda ra terus dilanjutkan. Pada Renstra IV, ada rencana pengadaan pesawat sejenis F-16 tipe terbaru, pengadaan pesa wat tanker dan pesawat AWACS serta melanjutkan peng adaan radar GCI dan mem bangun network centric warfare (NCW). Dengan demi kian di pengujung Renstra IV diharapkan Angkatan Udara mampu memantapkan jati dirinya sebagai tentara profesional dengan alutsista yang modern. Di HUT ke-72, TNI AU terus mengevaluasi dan membangun diri sehingga menjadi kekuatan udara yang berkelas dunia. Ini butuh dukungan berbagai pihak, termasuk perlu anggaran besar yang disesuaikan dengan kemam puan ekonomi negara.

Ang katan Udara terus bekerja ke arah sana secara bertahap, tidak hanya membangun kekuatan alutsista, tetapi juga organi sa sinya serta SDM-nya. TNI AU juga mendukung visi pemerintah saat ini, yakni “menghadirkan kem bali negara untuk me lin – dungi segenap bangsa dan mem – be rikan rasa aman kepada seluruh warga negara” serta mewujud kan Indonesia sebagai poros maritim dunia di mana TNI AU memiliki kemampuan optimal untuk melaksanakan maritime air strike danmaritime air support. Komitmen dukungan pada visi pemerintah ini dapat dilak – sanakan dengan menghadirkan kekuatan udara sebagai supe rior itas udara ke tengah samudra dan di atas seluruh wilayah kedaulatan nasional.

Kekuatan uda ra seperti itu sangat dibutuhkan untuk mewujudkan sistem pertahanan maritim yang kuat karena pertahanan maritim substansinya tidak hanya butuh kehadiran Angkatan Laut yang kuat saja, tetapi juga kekuatan udara yang hebat. Memang, pembangunan ke – kuatan pertahanan tidaklah semata-mata ditujukan untuk ber erang melawan kekuatan asing. Namun prinsip “siapa yang ingin damai, bersiaplah untuk ber perang” memengaruhi pemikiran setiap negara untuk berusaha menjaga dirinya, baik dalam menghadapi perang yang sesungguhnya maupun sekadar membuat rasa gentar (deterrent effects) terhadap pesawat-pesawat yang akan melanggar wi layah udara NKRI.

Meski tidak ada ancaman dan apalagi perang udara dalam arti tradisional, kehadiran alutsista TNI AU yang modern akan menjadi sebuah kekuatan yang bisa mengangkat martabat dan kehormatan negara dan bangsa di wilayah sekitarnya. TNI AU se – bagai matra udara yang sangat mengandalkan teknologi dalam sistem persenjataan dan pe me li – haraan harus didukung oleh insan Angkatan Udara yang me miliki jiwa kesatria, militan, loyal, profesional, dan modern. Tujuan nya agar mampu mewu judkan kesiapan operasional TNI AU yang optimal.

Bagi bangsa Indonesia yang berdiam dalam sebuah negara kepulauan terbesar di dunia ini, dengan letak yang strategis ditinjau dari segala aspek kehi dupan, memiliki Angkatan Udara yang andal sebagai pilar utama ke kuatan udara nasional merupa kan hal yang penting dalam upaya mewujudkan daya tangkal guna mempertahankan negara dan segala isinya. Dirgahayu TNI Angkatan Udara. Swa bhuwana paksa.

MARSEKAL PERTAMA TNI JEMI TRISONJAYA, M.TR.(HAN)
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com