SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Oseng Mercon Super Pedas Sri Wahyuni

  • Reporter:
  • Senin, 10 April 2017 | 09:58
  • Dibaca : 503 kali
Oseng Mercon Super Pedas Sri Wahyuni
Sri Wahyuni. Foto Teguh Prihatna.

Dari namanya saja sudah dapat ditebak jika masakan ini memiliki rasa yang pedas. Begitu juga dari wujud dan aromanya. Oseng-oseng mercon namanya. Masakan dari Yogyakarta yang diperkenalkan Sri Wahyuni di rumahnya.

Jangan membayangkan masakan ini berbahan mercon atau petasan. Oseng mercon adalah daging sapi yang ditumis dengan banyak cabai. Sri Wahyuni malah menggunakan lebih dari seperempat kilogram cabai super pedas (cabai setan dan cabai rawit merah) untuk satu kilogram daging. Sebab itulah rasanya pedas luar biasa di lidah. Terasa seperti akan meledak.

Masakan ini sangat terkenal di Yogyakarta. Adalah Bu Narti, pemilik salah satu warung lesehan di kota itu yang mempopulerkannya. Kini setiap warung di kota itu punya menu oseng mercon. Sri memang bukan berasal dari Yogya, tapi ia kuliah di sana. Karena itulah ia paham betul rasa masakan ini dan bagaimana memasaknya.

“Oseng mercon bisa dibilang masakan tradisional, bisa juga masakan populer. Bahan utamanya hanya daging sandung lamur. Daging sapi bagian paha atau brisket,” kata Sri di rumahnya, Perumahan Bida Asri 2, Batam Centre, Sabtu (8/4). Daging bagian bawah dada di sekitar ketiak sapi ini agak berlemak dan bertekstur kenyal. “Tapi bukan lemak seperti yang dipakai untuk bakso. Daging lemak ini nggak meleleh kalau dimasak. Tetap kenyal,” kata Sri.

Untuk mendapatkan sandung lamur, Sri mesti pesan terlebih dulu kepada penjual daging di pasar. Sebab daging bagian ini tak setiap saat tersedia. Daging kemudian dipotong kecil-kecil. Lebih kecil dari potongan daging rendang. Potongan daging akan menciut seukuran yang pas untuk satu suapan.

Selain cabai setan dan cabai rawit merah, beberapa buah cabai merah keriting ditambahkan untuk memberi warna. Ketiga jenis cabai dihaluskan dengan blender. “Nggak ada yang tahan (pedasnya) kalau digiling,” katanya tertawa. Cabai yang telah halus lalu ditumis tanpa menggunakan minyak goreng. “Waktu diblender kan pakai air. Jadi tumis sebentar sampai agak kering. Tak perlu pakai minyak. Nanti dagingnya kan mengeluarkan minyak,” katanya memberi tips.

Bumbu lainnya tak jauh berbeda dengan masakan tumis biasanya. Ada jahe, lengkuas, daun salam, dan sereh. Tak lupa garam dan gula Jawa. “Dengan gula Jawa rasanya jadi lebih enak dan gurih,” kata Sri. Daging baru akan dimasukkan setelah tumisan bumbu matang dan harum. Lalu diungkep (rebus) setelah ditambahkan air. “Ungkep sampai satu jam dengan api kecil,” katanya sambil mengecilkan api.

Memasak oseng mercon , kata Sri, memang butuh waktu lama agar daging sandung lamur yang kenyal menjadi empuk. Bila tidak, daging akan terasa keras dan alot. Penampakan oseng mercon yang telah matang berwarna cokelat dengan lelehan minyak kemerahan. Dipercantik dengan taburan biji-biji cabai yang tak tergerus sempurna. Namun yang paling menggoda adalah aroma cabainya yang segar menggoda.

Masakan Favorit
Oseng mercon salah satu masakan favorit keluarga kecilnya. Sri, sang suami Hendrawangsamihardja, dan putri pertamanya Nabilla Az-Zahra amat suka masakan ini. Rupanya, orang-orang yang mampir ke kedai miliknya di angkringan KDA dan Taman Raya Square, Batam Centre juga ketagihan begitu mencicipi. Bahkan menjadikan masakan ini menu favorit selain kupat tahu dan bakmi Jawa.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Berita Terbaru

Theme Portal Berita TUX_URL.com