SINDOBatam

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Kejar Target, Dirjen Pajak Baru Diminta Kerja Keras

  • Reporter:
  • Minggu, 3 Desember 2017 | 15:54
  • Dibaca : 89 kali
Kejar Target, Dirjen Pajak Baru Diminta Kerja Keras
ilustrasi

JAKARTA – Dirjen Pajak Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang baru Robert Pakpahan harus bekerja keras memenuhi target penerimaan pajak tahun ini.

Perlu upaya optimalisasi penerimaan pajak sejalan dengan reformasi sistem perpajakan yang dijalankan. Berdasarkan data Direktorat Jenderal (Ditjen) Pajak, hingga akhir November 2017 penerima an pajak baru mencapai Rp1.148 triliun atau 78% dari target pada Anggaran Pen dapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2018 yang se be sar Rp1.472 triliun.

Dengan demikian masih terdapat keku rangan Rp324 triliun untuk mencapai target penerimaan pajak 100% pada akhir tahun ini. Robert Pakpahan dilantik men jadi dirjen Pajak pada Kamis (30/11/2017) lalu menggantikan Ken Dwijugiasteadi yang memasuki masa pensiun.

Di sela-sela pelantikan, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan, Ditjen Pajak yang baru mesti melanjutkan reformasi perpajakan di bidang pem bangunan sistem informasi dan database. “Saya ingin menyampaikan ke pada Pak Robert walaupun ini tinggal satu bulan, tapi tugas untuk me ngum pulkan penerimaan pajak da lam satu bulan terakhir adalah tugas yang sangat berat bila dibandingkan dengan jabatan Pak Robert sebelum nya,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, Sri Mulyani juga melantik Luky Alfirman sebagai dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko menggantikan Robert Pakpahan. Sri Mulyani melanjutkan, Dirjen Pajak harus bekerja keras agar pene rimaan negara pada 2017 tercapai semak simal mungkin.

Dia ingin da lam satu bulan ini tetap meng upa ya kan langkah-langkah seperti yang su dah digariskan semisal ekstensifikasi penerimaan pajak yang berasal dari data-data yang sudah diperoleh.

“Saya berpesan kepada Pak Robert untuk tetap menjaga kepercayaan dari wajib pajak agar mereka tidak merasa khawatir terhadap proses pengumpulan penerimaan perpajakan ini,” sebutnya. Pemerintah juga berusaha meng antisipasi seandainya ada pene rima an yang tidak tercapai sehingga defisit jumlah belanja hingga akhir tahun 2017 sesuai yang diharapkan, yakni berkisar 2,7-2,9%.

“Kita masih akan meng – hitung dalam minggu-minggu depan angka persis yang bisa diper oleh yang tidak akan menga get kan dunia usaha. Jadi tetap secara predictable dapat menarik pajak sehingga jumlah de fisit tidak akan menyimpang terlalu besar,” papar Sri Mulyani.

Robert Pakpahan mengatakan, dalam jangka pendek Ditjen Pajak akan mengamankan penerimaan perpajakan hingga akhir 2017. Hal ini penting agar dapat menopang keamanan APBN sehingga tidak meningkatkan defisit di pengujung tahun.

“Di sisa tahun 2017, yang saya lakukan adalah meng aman kan penerimaan pajak se baik mungkin sehingga de fisit bisa dipertahankan,” ujarnya. Sementara untuk jangka panjang, Robert akan membangun sistem perpajakan yang lebih kredibel dan transparan sehingga tercipta kepatuhan terhadap kewajiban pajak dan pengawasan lebih transparan.

“Kami akan coba lihat program yang sudah ada dan mana bisnis proses yang harus diperbaiki sehingga dalam bekerja juga lebih efisien dan efektif,” ungkapnya. Robert mengungkapkan, peraturan juga akan terus diperbaiki sehingga reformasi sistem perpajakan diharapkan akan memudahkan bagi Ditjen Pajak untuk dapat mem berikan perhatian yang lebih kepada para wajib pajak.

Pajak Google

Mengenai pajak Google, Ken Dwijugiasteadi mengungkapkan, perusahaan asal Amerika Serikat (AS) itu telah membayar penuh kewajiban pajaknya untuk periode 2015. Jenis pajak yang dibayarkan terdiri atas pajak pertam bah an nilai (PPN) dan pajak peng hasilan (PPh). Namun pene rima an pajak dari Google ini belum tercatat dalam peneri ma an pajak bulan November.

Menurut Ken, Google melakukan pembayaran dari Amerika Serikat (AS), kemu dian ke Singapura, untukse lan jutnyake Indonesia. Dengan demi kian Indonesia menjadi negara yang bisamenarikpajakGoogleselain Inggris, India, dan Australia. “Saya berterima kasih ke pada perusahaan ini (Google) yang telah bekerja sama dan taat pada peraturan per undangundangan per pajak an di Indonesia,” ungkapnya.

Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo mengatakan, tugas seorang dirjen pajak saat ini sungguh sangat berat. Dirjen Pajak yang baru harus dapat memastikan bahwa pemungutan pajak akan didasarkan pada clarity, certainty, consistency, fairness, mengedepankan program dan tindakan yang moderat, terukur, profesional, dan melakukan konsolidasi internal.

“Agenda reformasi pajak harus dituntaskan, baik perbaikan kebijakan maupun regulasi, perbaikan adminis trasi, manajemen sumber daya manusia, dan proses bisnis. Dirjen Pajak yang baru dengan kepemimpinan kolektif, kolegial, partisipatif dapat membuka ko munikasi dan kerja sama dengan para pemangku kepentingan, baik institusi pemerintah lainnya, asosiasi usaha, konsultan pajak, akademisi atau masyarakat sipil, untuk membangun pemahaman bersama dan saling percaya,” paparnya.

Anggota Komisi XI DPR RI Misbakhun menilai, Robert Pak pahan memiliki pengalaman untuk menjalankan kepemimpinan di direktorat yang bertugas mengumpulkan penerimaan negara tersebut. “Dia bagus berpengalaman. Saya yakin akan mendapatkan dukungan banyak pihak,” ujarnya. (oktiani endarwati)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com