SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Batam Harus Berdayakan Peternak Lokal

  • Reporter:
  • Rabu, 18 Juli 2018 | 15:57
  • Dibaca : 61 kali
Batam Harus Berdayakan Peternak Lokal
ilustrasi.

BATAM KOTA – Pemko Batam dinilai perlu memaksimalkan peran peternak lokal agar bisa menambah kapasitas produksi telur sebagai solusi jangka panjang mengendalikan gejolak harga.

Harga telur di pasar tradisional hingga awal pekan ini masih bertahan di kisaran level Rp1.800 hingga Rp2.000 per butir atau setara Rp45.000 per papan. Gejolak harga mulai terasa pascalebaran di level Rp1.700 per butir dan bukannya makin berkurang seperti tren setiap tahun, tapi justru terus naik setidaknya sampai pekan kemarin.

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Internasional Batam Suyono Saputra mengatakan pemicu utama gejolak harga telur adalah tidak sebandingnya pasokan dengan pertumbuhan konsumsi di Batam.

Sementara kota ini mengandalkan sepenuhnya pasokan dari luar daerah, sedangkan sentra peternakan ayam belum optimal mempengaruhi pasokan, apalagi memenuhi kebutuhan. Selama ini pasokan utama didatangkan dari Medan, Sumatera Utara, dengan jadwal pengiriman dua hari sekali dan sebagian dipasok dari Jawa.

“Tingginya ketergantungan dari luar daerah membuat harga di pasaran sangat rentan bergejolak,” ujar Suyono, kemarin.

Dia menilai Pemko Batam harus serius menyikapi tata niaga bahan pokok bukan hanya telur. Pemko harus tanggap berkoordinasi dengan seluruh distributor trlur untuk mencari jalan keluar demi mengendalikan harga dan pasokan. Langkah itu juga bentuk ketegasan untuk menekan aksi spekulasi. “Ini anomali. Jika stok cukup sementara permintaan telur tidak dapat terpenuhi, maka kemungkinan ada spekulasi yang membuat harga naik,” sambung dia.

Selain itu, Suyono menilai Pemko dan BP Batam harus memikirkan peternak ayam lokal yang mestinya diberi peran besar memasok kebutuhan telur. Dia menyarankan sentra peternakan diperluas dengan menyiapkan lahan baru bagi peternak. Seperti diketahui, Batam punya sentra peternakan ayam yang tersebar di wilayah Barelang.

Suyono juga tak menampik ada opsi impor telur yang bisa menjadi solusi mengendalikan gejolak harga. Hanya saja opsi itu harus didukung analisa yang mendalam guna beragumentasi dengan Kementerian Pertanian sebelum diizinkan mengimpor.

Surati Kemendag

Sementara itu, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Batam Zarefriadi sudah menyikapi kenaikan harga telur. Selain meminta masyarakat tidak panic buying dan mencari pasokan tambahan, Zaref juga menyurati Kementerian Perdagangan.

“Persoalan harga telur naik tidak hanya terjadi di Batam tapi juga di daerah lain. Kemendag turut memberi perhatian, kami juga sudah mengirim surat ke Kemendag,” ujar Zaref, kemarin.

Sejauh hasil penelusuran dinas, Zaref menyatakan harga telur naik akibat pasokan berkurang dari daerah penghasil. Namun penelusuran masih terus berlangsung hingga kemarin. Hanya saja, Zaref beranggapan harga tinggi bertahan juga disebabkan panic buying.

Disperindag juga bekerjasama dengan tim Satgas Pangan untuk mencari solusi sekaligus menelusuri penyebab pasokan sampai ke distributor. Pasalnya, pemko khawatir momen ini dimanfaatkan spekulan dengan mempertahankan harga di level tinggi. “Kami akan menindak tegas jika ada distributor atau pihak lain yang sengaja menimbun,” sambung Zaref.

Dia memaparkan mayoritas pasokan telur didatangkan dari Medan dan Jawa. Hanya sebagian kecil pasokan berasal dari peternakan di Barelang.

Padahal, Zaref yakin dari segi kualitas lebih bagu dan jangka waktu produksi yang singkat ketimbang pasokan luar daerah. “Sebenarnya kualitas telur dari Barelang lebih bagus karena jaraknya dekat. Tapi belum mampu memenuhi kebutuhan seluruhnya,” kata dia.

Zaref mencatat kenaikan harga periode ini menjadi yang paling tinggi. Harga normal yakni Rp30.000 per papan dan kenaikan wajar Rp35.000 per papan, termasuk periode Ramadan dan Idulfitri. Namun pascalebaran 2018, harga sudah menembus Rp45.000 per papan bahkan lebih.

Stok Cepat Habis

Di pasar-pasar Batuaji dan Sagulung, sejumlah pedagang mengaku pasokan telur berkurang dari biasanya. Mereka mendapat pasokan sehari sekali, tapi dalam beberapa pekan terakhir tidak menentu. “Pekan kemarin sempat dua hari tidak dapat stok baru. Hari ini (kemarin) datang stok baru,” ujar Nona, pemilik warung di Pasar Sagulung, kemarin.

Meski begitu, mulai awal pekan ini rata-rata pedagang di Batuaji dan Sagulung menjual telur di kisaran Rp44.000-Rp45.000 setelah kemarin mendapat stok baru. Sedangkan harga pekan lalu yang sampai Rp47.000 per papan. Pedagang memperkirakan stok baru akan habis dalam 3-4 hari ke depan. fathurrohim/ahmad rohmadi/agung dedi lazuardi

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com