SINDOBatam

Hattrick+

Jungkir Balik+

Investasi Didorong Jadi Motor Pertumbuhan

  • Reporter:
  • Jumat, 11 Mei 2018 | 15:03
  • Dibaca : 89 kali
Investasi Didorong Jadi Motor Pertumbuhan

JAKARTA– Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2018 yang mencapai 5,06% sebagai hal positif. Berbekal ini, investasi di Indonesia akan semakin meningkat setiap tahunnya.

”Saya lihat investasinya sudah tumbuh 8% dan kita harapkan investasi jadi motor pertumbuhan karena kita tidak tergantung dari konsumsi saja,” ujar Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro di Jakarta, kemarin. Karena itu, pihaknya berupaya menggenjot investasi agar bisa berkontribusi dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua maupun ketiga.

”Pada kuartal berikutnya kita jaga investasi, kalau bisa lebih tinggi dari 8%. Untuk konsumsi harus dikembalikan 5%. Mudah-mudahan pada kuartal kedua dan ketiga bisa berkontribusi, jadi peluang untuk ekonomi lebih tinggi ada,” katanya. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I/2018 sebesar 5,06% (year on year/yoy).

Realisasi ini lebih tinggi dibandingkan periode sama pada 2017 sebesar 5,01%. Realisasi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I/2018 ini juga lebih tinggi dibandingkan periode sama tahun 2016 dan tahun 2015 masing-masing sebesar 4,94% dan 4,83%.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, konsumsi rumah tangga tidak lagi berada pada kisaran 5% karena terkena dampak dari perubahan pola perilaku belanja masyarakat. ”Sekarang 4,95 persen, memang levelnya sekitar itu, jangan diharapkan lagi seperti 2010 atau 2011,” kata Darmin di Jakarta, Senin (7/5) malam.

Darmin mengatakan, kebiasaan masyarakat saat ini lebih suka berinvestasi atau membelanjakan uang untuk kepentingan wisata, bukan lagi menghabiskan dana untuk keperluan primer. ”Kebiasaan masyarakat mulai agak menahan konsumsi, tapi dia menabung karena mau jalan-jalan. Itu membuat pertumbuhan konsumsi secara reguler tidak seperti dulu lagi,” ujarnya.

Untuk itu, Darmin menilai, sudah bukan waktunya tidak lagi bergantung pada konsumsi rumah tangga sebagai penyumbang kontribusi utama pertumbuhan ekonomi. Dia mengharapkan investasi maupun ekspor sudah bisa menjadi mesin baru pertum – buhan ekonomi, apalagi pemerintah sudah membenahi proses kemudahan berusaha dan memperbaiki peringkat daya saing.

”Yang harus didorong memang investasi dan ekspor. Pertumbuhan investasi sudah bagus (pada kuartal I/2018), tertinggi dalam dua atau tiga tahun terakhir. Ekspor juga positif, meski impor ikut tumbuh,” katanya. BPS mencatat konsumsi rumah tangga tumbuh 4,95% pada kuartal I/2018 yang didukung oleh sejumlah peningkatan fenomena belanja masyarakat.

Salah satunya adalah rata-rata tingkat penghunian kamar hotel dalam periode ini tumbuh 4,62% atau lebih tinggi dari kuartal I/2017 yang tumbuh 2,31%. Selain itu, nilai transaksi kartu debit dan kredit juga tumbuh 11,7% atau menguat dibandingkan kuartal I/2017 yang hanya tumbuh 9,25%.

Meski tumbuh sebesar 4,95%, pencapaian konsumsi rumah tangga ini tidak lebih baik dari pencapaian periode sama 2017 yang hanya mencapai 4,94%. Saat ini konsumsi rumah tangga masih menyumbang struktur terbesar dalam PDB pada kuartal I/2018, yaitu 56,8%, diikuti pembentukanmodaltetapbruto32,12%, dan ekspor 21,12%.

Kuartal II Diperkirakan Membaik

Pertumbuhan ekonomi pada kuartal II/2018 diyakini akan membaik. Pengamat ekonomi Raden Pardede mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2018 akan didorong oleh konsumsi pada bulan Ramadan dan Lebaran. ”Jadi, pasti kuartal II lebih baik dari kuartal I. Menurut saya, bisa di atas 5,1–5,3%.

Ini kesempatan kita dan momentum itu harus dipakai sebaik-baiknya,” ujarnya di Yogyakarta, kemarin. Menurut dia, momentum pertumbuhan ekonomi akan semakin baik apabila diiringi dengan peningkatan ekspor. Permintaan luar negeri ini harus dimanfaatkan karena ekonomi dunia sedang pulih. ”Jadi tidak hanya tergantung pada permintaan dalam negeri.

Keadaan ekonomi dunia sekarang sedang pulih dan saya rasa, kita bisa mendapatkan manfaat dari pemulihan ekonomi di dunia,” tuturnya. DeputiGubernurSeniorBank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan, pertumbuhan ekonomi kuartal I/2018 hanya 5,06%, masih di bawah ekspektasi BI yang sebesar 5,1%.

Hal ini disebabkan industri manufaktur, perdagangan, dan konsum si rumah tangga masih tumbuh di bawah 5%. ”Kalau kita lihat manufaktur yang menyumbang lebih dari 20% ke PDB Indonesia itu tumbuhnya di bawah 5%, sekitar 4,5%. Kita lihat perdagangan juga kontribusinya 13% dari PDB hanya tumbuh di bawah 5%,” ujarnya.

Sementara sektor yang bertumbuh di atas 5%, yakni konstruksi berkontribusi 10% dari PDB. Menurut Mirza, pertumbuhan sektor konstruksi menunjukkan pembangunan infrastruktur berkontribusi terhadap PDB. ”Tapi kan nggak cukup. Kalau kita bangun infrastruktur jangka panjang baru kelihatan” tuturnya.

Mirza menuturkan, pertumbuhan ekonomi saat ini memangbelumpada posisiter tinggi namun bukan berarti ekonomi turun. Karena itu, diperlukan dorongan dari sisi kebijakan moneter dan kebijakan di sektor riil agar bisa mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi.

oktiani endarwati

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com