SINDOBatam

Feature+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Kepemimpinan Gizi

  • Reporter:
  • Rabu, 28 Februari 2018 | 17:58
  • Dibaca : 414 kali
Kepemimpinan Gizi
HERWIN YATIM Bupati Banggai, Provinsi Sulawesi Tengah.

Pada 1 Februari lalu saya mendapat undangan memberikan materi dalam Indonesian Young Nutrition Leaders Camp yang diselenggarakan oleh Ikatan Sarjana Gizi (Isagi) bekerja sama dengan Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan (Pergizi Pangan).

Judul materi saya, yakni Pen ting – nya Strong Leadership dalam Imple mentasi Program Gizi. Kenapa saya dipilih jadi pem bicara? Alasan panitia ka re – na saya dianggap menun juk kan kepe – du lian yang kuat ter ha dap pem bangunan gizi. Sa ya ke – mu dian baru sadar se te lah ta – hu bahwa koordinator pe lak – sa nanya adalah seorang do sen muda yang sempat ber te mu pada International Cong gres of Nutrition (ICN) ke-21 di Ar – gen tina, Oktober 2017.

Bagi do sen tadi, mungkin keha dir – an seorang bupati pada sebuah kongres gizi adalah hal yang istimewa sehingga patut di – apre siasi. Apalagi, pada kong – res tersebut saya menyajikan ma teri berjudul Multisectoral Action to Improve Nutrition in Banggai District. Bila dianggap sebagai ben – tuk komitmen mungkin tidak ada salahnya.

Namun, keha – dir an saya pada perhelatan gizi ber skala internasional itu bu – kanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Ini adalah buah dari kerja-kerja program gizi yang selama ini kami laksanakan. Meskipun belum maksimal, saya yakin program gizi yang berfokus pada 1.000 hari per – ta ma kehidupan (1.000 HPK) di daerah kami telah berada di jalur tepat.

Ini karena sangat sesuai dengan salah satu misi pe merintahan kami, yakni me – ningkatkan kualitas sumber daya manusia dan daya saing daerah. Tentang bagaimana kaitan gizi dengan kualitas manusia tentubukankapasitassaya men – jelaskannya. Yang ingin saya sampaikan adalah bagai ma na saya mendapatkanpe ma haman itu kemudian men jadi sangat termotivasi untuk meng galak – kan pembangunan gizi.

Inovasi

Ketertarikan saya pada gizi bermula ketika men de ngar – kan penjelasan seorang pro fe – sor tentang pentingnya gizi pa da 1.000 HPK di forum NGO. Penjelasannya sangat gam blang dan masuk akal bagi orang awam. Meski banyak me ngutip teori ahli gizi serta jur nal ilmiah, penjelasan itu mem buat saya terkesima.

Hal paling menarik dari uraian nya adalah bagaimana gizi pada saat ibu hamil sampai dengan anak berusia 2 tahun itu berpengaruh pada tinggi badan anak, kecerdasan, pro duk tivitas, serta penyakit yang bakal diderita saat dewasa nan ti. Saat itulah saya pertama kali mengenal istilah 1.000 HPK.

Saat itu pula saya ber ke simpulan bahwa jika ingin me ningkatkan kualitas manusia dan daya saing, perbaikan gizi pa da 1.000 HPK harus menjadi prioritas. Informasi lain yang saya peroleh adalah pentingnya ker ja sama lintas sektor. Ma sa – lah gizi ternyata tidak berdiri sendiri. Ini terkait dengan ke – mis kinan, penyediaan air ber – sih, ketersediaan pangan, pen – di dikan, kesetaraan gender, bahkan dengan usia per nikahan pertama seorang wanita.

Saat itu pula saya disadarkan akan pentingnya meng him – pun kekuatan organisasi pe – rang kat daerah agar pro gram – nya terkoordinasi untuk me – nye lesaikan masalah gizi. Sekembalinya dari forum tersebut saya berdiskusi de – ngan kepala Dinas Kesehatan. Karena baru sekitar 5 bulan menjabat sebagai bupati, saya ingin mendengar bagaimana pro gram gizi dilaksanakan.

Ter nyata, di daerah kami, pro – gram 1.000 HPK ini telah di – lak sanakan sejak 2015, se ta – hun sebelum saya menjadi bu – pati. Implementasinya pun bu kan saja dimulai saat ibu ha mil, me lainkan sejak calon pe ngan tin. Calon suami-istri telah dibe ka li informasi gizi saat kursus ca lon pengantin.

Sejak itu calon pengantin wa – nita diberi kap sul multi vi ta – min dan mineral untuk men – ce gah anemia. Lalu mereka ber temu sebulan se ka li de – ngan petugas kesehatan un – tuk mempersiapkan ke ha m – ilannya. Kegiatan ini di na ma – kan posyandu prakonsepsi. Pada sebuah festival prak – tik cerdas yang dise leng ga – ra kan oleh Wahana Visi Indo – ne sia, inovasi posyandu pra – kon sepsi ini mendapat juara per ta ma.

Prestasi ini meng – ang kat na ma baik daerah dan sudah pasti bupatinya. Jujur saja, se telah meraih prestasi tersebut saya makin ber se – mangat un tuk memberikan perhatian ke pa da gizi. Di ini – siasi oleh kepala Di nas Ke se – hat an, kami mem ben tuk gu – gus tugas 1.000 HPK. Di bawah koordinasi ke pa la Bappeda, seluruh pe rang kat daerah ter – kait dihimpun dalam gugus kerja ini.

Gugus ini meng iden – ti fikasi program masing-ma – sing perangkat daerah terkait dengan per baik an gizi pada 1.000 HPK lalu fo kus me nye – lenggarakannya. Setelah setahun hasilnya di evaluasi. Beberapa indikator menunjukkan perbaikan. Con tohnya cakupan air bersih, usia pernikahan, cakupan KB.

Demikian pula terhadap indi – ka tor anemia ibu hamil, bayi berat lahir rendah, serta ke ma – ti an ibu. Inilah yang kemudian ka mi sajikan saat kongres gizi di Argentina.

Pengakuan

Poin penting yang mem buat saya berkomitmen mem bangun gizi adalah penjelasan yang sangat baik tentang gizi pada 1.000 HPK. Inilah yang ke – mudian membangun kesadar an saya akan pentingnya gizi. Be ri – kut adanya peng aku an terhadap apa yang kami la ku kan. Pernah suatu saat di Uni v ersitas Ha sa – nuddin, Ma kassar, saya diminta mema par kan pen capaian pro – gram gizi di ha dap an rektor dan menteri kesehatan.

Kami juga per nah ber ce ramah tentang gizi pada sebuah se minar na sio nal ke pendu duk an di Ja karta. Ini membuat kami mera sa bangga karena diper ca ya. Di tengah keseriusan pe me – rintah mengatasi masalah gizi, apa yang saya alami kira nya dapat menjadi model peng – galangan komitmen pim – pinan tertinggi di semua level.

Saat ini Indonesia sedang meng hadapi ma – salah gizi se rius. Kasus gizi buruk di Asmat belum lepas dari ingatan kita. Masalah lain, ada sekitar 37% anak Indonesia me – ngalami stun ting. Karena itu, program gizi harus benarbenar men da pat perhatian dari pemimpin di daerah.

Pada sambutannya di rapat kerja kesehatan na sio nal yang saya baca di media, Pre siden Joko Wi dodo mene – gas kan bahwa ti dak boleh ada sa tu pun anggota keluarga yang menderita gizi buruk. De mi – kian pula pada sebuah pidato kenegaraan, Presiden jelas-jelas menyebut pentingnya mening – kat kan kua litas manusia de – ngan memperha tikan gizi pada 1.000 HPK. Ko mitmen pre si – den ini tentu sa ngat patut di – con toh oleh gu ber nur dan bu – pati se-Indonesia.

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com