SINDOBatam

Terbaru Spirit+

Opini+

Hattrick+

Jungkir Balik+

Kepri Cetak 100 Hektare Sawah Baru

  • Reporter:
  • Senin, 14 Januari 2019 | 11:43
  • Dibaca : 229 kali
Kepri Cetak 100 Hektare Sawah Baru
Gubernur Kepri Nurdin Basirun dan rombongan meninjau sawah di daerah Letung, Kabuapten Anambas, beberapa waktu lalau. Tahun ini Kepri akan mencetak 100 hektare sawah baru. /HUMAS PEMPROV KEPRI

PINANG – Produksi gabah kering di seluruh persawahan di Provinsi Kepri hanya mampu memenuhi 0,2 persen kebutuhan beras warga Kepri tiap tahun. Itu pun karena sudah banyak sawah yang dibuka sejak tahun 2016 di Lingga dan Natuna.

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian, Peternakan dan Ketahanan Pangan Pemprov Kepri, luas sawah di Kepri saat ini sekitar 1.076 hektare. Sawah yang sudah ditanami sekitar 362 hektare dengan produksi beras 2,1 ton per hektare dan satu tahun dua kali panen.

“Produksi beras setahun dari seluruh sawah yang sudah ditanami di Kepri sekitar 1.520 ton saja atau 0,2 persen. Sedangkan kebutuhan beras di Kepri setahun sekitar 760 ribu ton atau sekitar 2.082 ton sehari,” kata Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Ketahanan Pangan Pemprov Kepri Ahmad Izhar di Domoak, Jumat (11/1) kemarin.

Dengan hasil produksi beras setahun hanya sebesar itu jelasnya, tak mampu menutupi kebutuhan warga Kepri. Beras sebanyak 760 ribu ton tersebut untuk dikonsumsi penduduk Kepri yang jumlahnya saat ini diperkirakan 2 juta hingga 2,1 juta jiwa. Untuk itu Pemprov Kepri tahun 2019 ini akan mencetak sawah seluas 100 hektare yang akan di cetak di Kabupaten Lingga.

“Tahun 2019 ini 100 hektare sawah baru akan dicetak lagi di Lingga. Ini upaya untuk menambah hasil produksi beras di Kepri guna mengurangi ketergantungan beras dari luar,” ujarnya.

Pencetakan sawah baru di Kepri tegasnya, tidak ada batasan berapa hektare sawah yang akan dicetak. sejauh ini tidak ada pembatasan. Intinya ada lahan dan cocok untuk persawahan, maka pencetakan sawah akan terus dilakukan.

Ia juga menyebutkan, Kementerian Pertanian RI, sejak 2016 lalu menjalankan program pencetakan sawah di seluruh daerah di Indonesia termasuk di Kepri. Anggaran untuk membuka persawahan Rp16 juta per hektare.

“Untuk daerah Pulau Jawa, anggaran sebesar itu sudah mencukupi atau bisa lebih. Namun untuk Kepri, anggaran sebesar itu sangat minim untuk membuka persawahan mengingat lokasinya yang jauh dan biaya transportasinya berat karena melewati laut,” terangnya.

Sebab menurutnya, ongkos membawa alat beratnya ke lokasi itu sudah mahal. Belum lagi untuk mengerjakannya hingga jadi, membuat irigasi, bibit, pupuk dan lainnya. Tapi karena menyangkut ketahanan pangan, tetap harus dibuka.

“Berdasarkan data dari Kementan, luas persawahan di Indonesia makin berkurang tiap tahun. Sawah banyak dibangun untuk rumah, industri dan penggunaan komersil lainnya,” ujarnya lagi.

Karena itulah, Kementan membuat kebijakan baru untuk mencetak sawah di lahan tidur yang kerja sama dengan pemerintah daerah termasuk dengan TNI. Jika pencetakan sawah tidak dilakukan, maka Indonesia akan mengimpor beras terus menerus.

Namun terangnya, bila beras produksi sendiri, harganya masih bisa dijaga. Kalau impor terus menerus naik, awalnya mungkin murah. Setelah itu, harga naik setiap saat hingga akhirnya sangat mahal. Sementara kebutuhan beras makin meningkat tiap hari seiring bertambahnya penduduk. Saat ini, jumlah penduduk Indonesia sekitar 250 juta jiwa.

”Karena biaya produksi besar, maka beras Kepri ini membidik konsumen kalangan menengah ke atas. Harganya memang lebih mahal. Tapi kualitasnya juga bagus. Itulah beras lokal kita,” ungkapnya.

sutana

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Theme Portal Berita TUX_URL.com